Inspirasi

Berawal Dari Anak Santri, Profesor Dr H Mujiburrahman MA Mampu Pimpin UIN Antasari

Perjalanan Profesor Dr H Mujiburrahman MA menuntut ilmu tidaklah mulus. Beragam kendala dan tatangan ia hadapi dengan penuh istiqamah.

Penulis: Salmah | Editor: Hari Widodo
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

BANJARMASINPOST.CO.ID- “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.” Hadits Rasulullah ini benar-benar diterapkan Mujiburrahman. Ilmu agama ia dalami dan ilmu akademis ia tekuni, sehingga wajar jika kemudian ia mendapatkan berkah dalam kehidupan.

Meski demikian, perjalanan Profesor Dr H Mujiburrahman MA menuntut ilmu tidaklah mulus. Beragam kendala dan tatangan ia hadapi dengan penuh istiqamah.

Bagaimana lika-likunya menuntut ilmu hingga kemudian menjadi dosen dan menjabat Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin? Berikut petikan wawancara dengan pria yang akrab dipanggil Mujib yang juga penulis tetap rubrik Jendela di BPost ini.

Baca: Ahmad Dhani Singgung Soal Karma, Lihat Perolehan Partai Suami Mulan Jameela di Dapil 1 Jatim

Baca: Alasan Sebenarnya Anang Hermansyah Tinggalkan Dunia Politik, Suami Ashanty Sebut Nama Aurel

Baca: Kalselpedia : Mobil Perpustakaan Keliling Alalak Pintar (Alpin) Polsek Berangas Batola

# Sejak 2017 Anda menjabat Rektor UIN Antasari, bagaimana kesan Anda?

Sebenarnya saya tidak berobsesi atau berkeinginan menjadi pejabat kampus atau jabatan apapun. Cukuplah bagi saya menjadi akademisi saja, sebagai dosen.

Mendalami dan mengembangkan ilmu itu lebih damai rasanya dibanding menduduki jabatan. Hanya saja keadaan mendorong saya terlibat, sebagai bentuk tanggungjawab terhadap kampus ini.

Pada 2008-2012 saya pernah menjabat Pembantu Dekan I Fakultas Ushuludin. Saat jabatan selesai, sebenarnya saya ingin santai. Hanya mengajar, meneliti, menulis, mengisi seminar.

Namun kemudian, pada 2013 saya diminta rektor saat itu untuk menjadi wakil rektor bidang kemahasiswaaan dan kerjasama.

Lantas, ketika 2017 ada rekrutmen calon rektor, banyak orang mendorong saya untuk ikut. Tetapi karena jabatan rektor itu tanggungjawabnya besar, maka saya minta izin ibu saya dan datang ke guru-guru saya di Pesantren Al-Falah. Ternyata mereka turut mendorong saya.

Setelah berbagai proses dilalui, akhirnya saya yang dipilih oleh Menteri Agama menjadi rektor.

Saat dilantik, banyak sekali ucapan selamat dari berbagai pihak. Tapi tak satupun dari keluarga dekat saya mengucapkannya, karena mereka tahu ini beban yang berat, akan banyak masalah dihadapi. Namun inilah jalan hidup yang mesti dilalui. Jangan lari dari tanggungjawab.

Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari (istimewa/mujiburrahman)

# Bisa diceritakan bagaimana perjalanan Anda sekolah yang berawal dari santri?

Alhamdulillah. Setamat Sekolah Dasar di Amuntai, pada 1984, saya nyantri di Pondok Pesantren Al Falah, Banjarbaru.

Normalnya, santri di sana menyelesaikan pendidikan selama 8 tahun, namun berkat prestasi saya, saya diperbolehkan lompat kelas alias jumping sehingga hanya dalam 5 tahun saya bisa lulus pada 1989.Tapi agar mendapat ijazah negeri, saya setahun lagi sekolah di Madrasah Aliyah Al-Istiqamah, Banjarmasin.

Setamat dari Al-Istiqamah, sebenarnya saya ingin kuliah di Yogya. Tapi karena saya pernah sakit paru-paru basah, orangatua menyarankan lebih baik di IAIN Antasari Banjarmasin saja.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved