Mereka Bicara

Ramadan Pembakar Ego

PADA Ramadan, tingkat spiritualitas umat Islam sedang dalam posisi puncak. Semua hal dihubungkan dengan ibadah, seperti puasa

Editor: Didik Triomarsidi
tribunmadura.com
Jadwal Buka Puasa Ramadhan 1440 H/2019 M 

Oleh: Ketua Komisi, Dakwah MUI

BANJARMASINPOST.CO.ID - PADA Ramadan, tingkat spiritualitas umat Islam sedang dalam posisi puncak. Semua hal dihubungkan dengan ibadah, seperti puasa, salat berjemaah, tarawih, kultum, baca Alquran dan bersedekah. Karena Ramadan adalah “syahrul ibadah” atau “syahrul qiyam” (bulan untuk ibadah).

Ramadan juga selalu dihubungkan dengan nilai-nilai kebaikan dan kesalehan. Seorang perempuan yang aslinya berbaju kebuka-buka, tiba-tiba berjilbab, tampil Islami dan salehah. Sementara seorang cowok yang biasanya berbusana kasual berubah mengenakan baju koko dan berkopiah. Orang-orang yang biasanya share postingan aneh-aneh di grup-grup medsos dan WA tiba-tiba rajin membagikan artikel-artikel keagamaan, motivasi dan lain-lain.

Tentu tidak ada yang salah semua “perubahan” itu. Apalagi benar-benar dilanjutkan dalam bentuk sikap dan perilaku setelahnya. Karena memang Ramadan merupakan kado spesial dari Allah untuk umat Muhammad saw. Ia hadir setahun sekali untuk memuliakan umat Islam dengan segala keistimewaannya.

Tapi, untuk mendapatkan “karunia” bulan suci ini kita tidak cukup menjadi “budak” Ramadan. Artinya, hanya saleh dan baik selama sebulan.

Ramadan hakikatnya media “pembakaran ego” sehingga rohani (spiritualitas) manusia dapat berfungsi secara baik. Jadilah hamba Allah SWT, bersama seluruh ketaatan kepada-Nya.

Para ulama mengatakan, “Jadilah kalian menjadi hamba Allah, dan janganlah kalian menjadi hamba Ramadan.” Pesan para ulama tersebut inline dengan spirit dari QS: Al-Baqarah: 183, yaitu muara dari puasa adalah ketakwaan yang bersifat permanen, bukan temporer. Capaian takwa yang dikehendaki dari amalan Ramadan bersifat utuh dan kontinyu, sehingga diperlukan upaya agar konsisten (istiqamah).

Namun, upaya-upaya manusia acap kali terhalang oleh apa yang disebut ego. Ego merupakan satu kesatuan diri (nafs) yang menyatu dalam struktur kepribadian manusia, sebagaimana juga Sigmund Freud pernah berkata soal ini.

Kebanyakan manusia menghadapi masalah serius terhadap egonya sendiri. Karena itu, keberadaan ego dalam kehidupan seorang muslim mendapat perhatian ekstra karena sering membuat orang terlena.

Tidak jarang seseorang mampu mengalahkan pertempuran dengan setan yang membisiki perbuatan maksiat atau mempertuhankan makhluk lainnya. Namun ia justru kalah atas dirinya sendiri.

Maka wajar saat Nabi saw menyampaikan pesan kepada umat Islam setelah memenangkan Perang Badar yang amat berat pada tanggal 17 Ramadan. “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Hal ini juga sama maknanya dengan Hadits: “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya.” (HR Baihaqi).

Maestro sufi, Jalaluddin Rumi, berkata: “Berhala terbesar adalah berhala dirinya sendiri yang disebut ego. Ego yang berkembang menjadi hijab yang menghalangi dia dengan Tuhannya, sehingga mengakibatkan seorang tidak akan mampu untuk memberikan pengabdian sepenuhnya, apalagi tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya.

Dalam banyak kajian sufisme, musuh utama manusia adalah ego yang bersemayam dalam jiwa manusia. Ia menjadi musuh nyata manusia, mewujud dalam banyak sikap dan prilaku sehari-hari. Jika ia terus berkembang yang tak terkendali sehingga mengakibatkan berbagai penyakit hati.

Sebagian orang berkata, ego adalah nenek moyang segala penyakit hati. Ego akan selalu melihat dan menilai diri sendiri secara berlebihan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved