BPost Cetak

Orang-orang Bermental Baja di Sambang Lihum, Tetap Senyum Meski Dicaci dan Diludahi

Rumah sakit jiwa. Mendengar namanya saja bisa orang tidak nyaman, apalagi jika setiap saat harus berinteraksi dengan ODGJ

Orang-orang Bermental Baja di Sambang Lihum, Tetap Senyum Meski Dicaci dan Diludahi
Capture Youtube
Oktavia Suci Megawati, perawat profesional (ners) di RSJ Sambang Lihum 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Rumah sakit jiwa. Mendengar namanya saja bisa orang tidak nyaman, apalagi jika setiap saat harus berinteraksi dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Tak gampang memang bekerja di rumah sakit jiwa (RSJ). Hanya orang-orang bermental baja yang mampu menjalaninya, seperti Oktavia Suci Megawati, perawat profesional (ners) di RSJ Sambang Lihum (Sali).

Sejak Januari 2016, Suci bekerja di RSJ berkapasitas besar di Jalan Gubernur Syarkawi Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut. Jumlah pegawainya sekitar 600 orang.
Seba­nyak 266 orang di antaranya berstatus pegawai negeri sipil.

Mereka menangani sekitar 200 pasien baik itu ODGJ maupun pasien ketergantungan obat terlarang.

“Bekerja di RSJ memang harus punya mental yang kuat dan kesabaran tinggi. Maklumlah yang diurusi kan orang-orang yang mentalnya sedang terganggu,” ucap Suci, Kamis (30/5/2019).

Baca: Jelang Idulfitri 1440 H, PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman

Baca: Segera Tertibkan Pelangsir Solar

Baca: Dibanderol Rp 1 Jutaan, Galaxy A2 Core Cocok untuk Ponsel Baru di Lebaran Idul Fitri 1440 H

Saat pertama bertugas di RSJ Sali, Suci ditugaskan di Ruang Intensif Pria (Ruang Akut). Ini adalah tempat penanganan pertama ODGJ sehingga benar-benar membutuhkan skill khusus.

Di ruangan itu lah risiko atau resistensi terbesar dialami paramedis. Ini karena ODGJ umumnya masih teramat liar dan sensitif seperti berteriak-teriak, memaki, meludahi dan bahkan memukul petugas.

Pengalaman getir seperti itu pun ‘kenyang’ dialami Suci. “Dulu pernah kena pukul pas pasien akut baru tiba dari IGD. Untung segera siap tanggap, jadi spontan saya bergeser menjaga jarak aman,” tutur pegawai tidak tetap (PTT) ini.

Meski begitu, perempuan 29 tahun ini tak pernah mengeluh apalagi menyerah. Baginya menunaikan tugas sepenuh hati demi kesembuhan pasien adalah hal utama. Karena itu pula dia tetap menikmati.
Adalah hal paling melapangkan hati ketika pasien sembuh dan bisa kembali hidup normal bersama keluarga. Sebaliknya, teramat sedih ketika ODGJ yang telah sembuh namun tak diterima kembali oleh keluarga atau lingkungan tempat tinggal.

Suci punya tips khusus menangani pasien yakni harus bisa membina hubu­ngan saling percaya antara pasien dan perawat. Menerapkan strategi pelaksanaan (SP) sesuai diagnosa pasien. Misalnya pasien tergolong dalam Risiko Perilaku Kekerasan, maka dirinya fokus mengajarkan tarik napas dalam dan lainnya untuk mendegradasi emosi.

Halaman
12
Penulis: Royan Naimi
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved