Jendela

Catatan Mudik

Perbedaan ruang, waktu, orang dan peristiwa yang kita jumpai membuat tiap lebaran itu unik. Namun, tak berarti semuanya berubah.

Catatan Mudik
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Libur lebaran usai sudah. Hari ini sebagian besar kaum Muslim Indonesia kembali bekerja seperti biasa. Setiap tahun kita mengalami Idul Fitri, tetapi kesan dan pengalaman yang kita dapati tidak selalu identik. Perbedaan ruang, waktu, orang dan peristiwa yang kita jumpai membuat tiap lebaran itu unik. Namun, tak berarti semuanya berubah. Ada yang tetap dalam lingkaran perubahan itu.

Seperti banyak orang, saya juga mudik lebaran, walaupun hanya sehari semalam. Kalau saudara-saudara di pulau Jawa sudah menikmati jalan tol lintas provinsi, di Kalsel belum ada jalan tol. Karena itu, untuk menghindari kemacetan, kami sengaja berangkat lebih pagi, sebelum Salat Subuh, saat kebanyakan orang masih tidur. Sesuai harapan, perjalanan kami lancar. Jam 09.15 kami sudah tiba di tujuan.

Pada 1980-an hingga awal 1990-an, kendaraan bermotor belum sebanyak sekarang. Mobil pribadi masih langka. Sepeda motor juga sedikit. Sebagaimana orang kebanyakan, ketika itu saya sekeluarga bersama ayah-ibu dan adik-adik, mudik naik angkutan umum berupa mobil Colt L-300. Penumpang berjubel sehingga harus duduk berdempetan. Ruang dalam mobil terasa panas karena tanpa pendingin.

Sekarang, yang merajai jalanan justru mobil-mobil pribadi. Yang tidak punya mobil, mudik dengan mobil sewaan. Meskipun rentan terhadap kecelakaan, banyak pula orang yang memilih naik sepeda motor karena lebih murah dan praktis untuk terus digunakan ke mana-mana saat tiba di kampung. Sedangkan angkutan umum, kini semakin jarang. Saat istirahat di rumah makan, saya melihat ada satu-dua saja.

Mengapa? Mungkin karena angkutan umum dianggap tidak praktis dan tidak nyaman. Belum ada upaya serius untuk meningkatkan kualitas angkutan umum agar tepat waktu dan nyaman dengan ongkos yang wajar. Di sisi lain, harga mobil semakin terjangkau. Mobil ‘murah’ membanjiri pasar dan banyak orang kini mampu membeli, termasuk melalui kredit. Apalagi sepeda motor, yang laku seperti kacang goreng.

Karena itu, meskipun kini jalan kian mulus, kemacetan sulit dihindari. Mobil-mobil pribadi itu berderet sepanjang jalan yang sempit dan meliuk-liuk, sementara ratusan sepeda motor dengan lincah bergerak di tepi dan sela-sela mobil. Kemacetan semakin menjadi-jadi jika ada truk-truk yang turun ke jalan, dan di sejumlah jalan, tim peminta sumbangan untuk pembangunan masjid sudah siap menghadang.

Ketika bertemu keluarga dan kolega, ucapan lumrah adalah saling memaafkan dan mendoakan sambil bersalam-salaman. Sejak dulu memang seperti itu. Yang agak berbeda adalah tema obrolan. Karena kita baru saja pemilu, gosip politik lebih menarik. Ada yang masih belum sembuh dari demam pilpres, tetapi ada pula yang melupakannya. Ada yang berhasil terpilih sebagai anggota legislatif, dan ada yang gagal.

Obrolan politik itu lebih membuat saya galau ketimbang lega. Seorang calon anggota legislatif bercerita, bagaimana dia dan teman-temannya harus mengeluarkan banyak modal, dan tak sedikit yang gagal. Ada yang ‘ditipu’ oleh para pemilih. Ada pula yang suaranya ‘dirampok’ calon lain saat pencatatan di TPS.

“Mendapatkan suara itu tidak mudah. Sudah dapat, diambil orang pula. Kan sedih sekali,” katanya.

“Demokrasi kita memang mengidap dua penyakit berat,” kata adik saya yang mengkaji politik. Pertama adalah politik uang. Democracy for Sale (Demokrasi Diobral) seperi judul buku terbaru karya Edward Aspinall dan Ward Berenschot. Kedua adalah politik identitas berdasarkan Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA). Para pemilih digiring oleh elit untuk memilih calon tertentu melalui provokasi SARA.

Untung dunia ini tidak hanya urusan politik. Kita pun bersenda gurau dan tertawa. Berbincang dengan tetua yang bijak dan saleh, membuat hati kita damai. Melihat anak-anak bermain riang dan bayi-bayi yang imut, membuat kita optimistis kembali. Inilah kehidupan, yang selalu memiliki dua sisi, gelap dan terang. Tugas kita bukanlah mengubah dunia menjadi surga, melainkan memikul tanggung jawab moral.

Alhasil, entah itu jalan macet atau demokrasi yang sakit, semuanya adalah pilihan moral kita. Idul Fitri seharusnya memperbarui diri kita agar makin teguh memilih kebaikan, kebenaran dan keadilan.(*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved