Opini Publik

Penguat Bahasa Banjar (Mengenang Prof Drs H Abdul Djebar Hapip MA)

Satu lagi tokoh Banjar Kalimantan Selatan berpulang ke Rahmatullah. Prof Drs H Abdul Djebar Hapip MA atau biasa dipanggil Pak Djebar tutup usia Rabu

Penguat Bahasa Banjar (Mengenang Prof Drs H Abdul Djebar Hapip MA)
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

OLEH: AHMAD BARJIE B, Penulis buku “Mengenang Ulama dan Tokoh Banjar”

BANJARMASINPOST.CO.ID - Satu lagi tokoh Banjar Kalimantan Selatan berpulang ke Rahmatullah. Prof Drs H Abdul Djebar Hapip MA atau biasa dipanggil Pak Djebar tutup usia Rabu 19 Juni 2018 dan dimakamkan di Guntunglua, Kota Banjarbaru. Tokoh kelahiran Banua Anyar Banjarmasin 13 September 1935 silam memang sakit dalam beberapa tahun terakhir, beliau lebih banyak istirahat di rumah hingga meninggal di usia 84 tahun.

Kawan-kawan seangkatan atau yang lebih muda banyak yang sudah meninggal dunia, seperti Drs H Sa’adillah Mursyd MPA, Prof Dr Djantera Kawi, Prof Harun Utuh, Drs H Syamsiar Seman, dan lain-lain. Namun ada juga yang masih sehat seperti Prof MP Lambut, Prof Kustan Basri, Ir HM Said, HG Rusdi Effendi AR dan lainnya. Kita doakan semoga Pak Djebar dan orang-orang yang sudah meninggal dalam keadaan husnul khatimah, dan yang masih hidup semoga sehat wal afiat, panjang umur, dan terus memberikan kontribusi peran dan pemikirannya untuk kemajuan daerah hingga akhir hayat.

Pakar Bahasa Banjar

Sejak muda Pak Djebar sudah memiliki semangat tinggi dalam menempuh pendidikan. Tak hanya gigih, tetapi juga kritis dan sensitif terhadap berbagai persoalan. Djebar muda sewaktu masih bersekolah di Sekolah Guru Atas (SGA) Banjarmasin tahun 1950-an, sudah berani melakukan demonstrasi. Bersama teman-teman seangkatannya seperti Sa’adillah Mursyid, mereka menilai ada lima orang guru SGA yang berasal dari Jawa yang arogan terhadap murid-murid Banjar. Murid-murid tersebut bukannya bodoh, tetapi ada yang suka bersikap kritis, bertanya dan sedikit usil.

Karena demo yang mereka lakukan maka pihak sekolah bersedia memindah kelima orang guru tersebut ke Jawa, sehingga Djebar dan kawan-kawan merasa lega dan menang. Tetapi tak lama kemudian, setelah lulus SGA, mereka harus melanjutkan kuliah ke IKIP Malang, karena untuk menjadi guru yang bergelar sarjana lengkap (Drs), IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) adalah salah satu pilihan, sementara di kota lain masih langka.

Ternyata kelima guru yang mereka demo di Banjarmasin justru menjadi dosen di IKIP Malang. Akhirnya mahasiswa dari Banjarmasin (Djebar, Saadillah dkk), digojlok habis-habisan dalam masa perpeloncoan (orientasi mahasiswa baru) yang dulu terbilang kejam dan cenderung seperti ajang balas dendam.

Setelah puas “mengerjain” mahasiswa baru asal Banjarmasin, mereka kemudian bersalaman dan berdamai. Selanjutnya menjalani perkuliahan secara normal sampai Djebar dan kawan-kawan berhasil meraih gelar Sarjana Muda (BA) dan Sarjana Lengkap (Doktorandus) yang kala itu tergolong tinggi dan sudah selesai karena ada sebutan “lengkap”.

Kebanyakan orang yang bergelar Drs di zamannya memilih menjadi pegawai negeri dan tidak kuliah lagi. Namun Djebar Hapip sambil menjadi PNS tetap melanjutkan pendidikannya di luar negeri, dalam hal ini Universitas Sydney Australia hingga meraih gelar Master of Art (MA).

Pak Djabar guru besar FKIP Universitas Lambung Mangkurat dalam bidang pengajaran Bahasa Indonesia. Aktivitasnya sebagai pakar bahasa banyak digoreskan di dalam dan luar negeri, khususnya kawasan Asia Tenggara. Di masa-masa masih sehat dan energik, yakni 1980-an hingga 2000-an awal, Djebar Habib sangat aktif menyumbangkan tenaga dan pikirannya di dalam dan luar kampus, terutama terkait dengan pengembangan bahasa dan budaya Banjar.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved