Opini Publik
Penguat Bahasa Banjar (Mengenang Prof Drs H Abdul Djebar Hapip MA)
Satu lagi tokoh Banjar Kalimantan Selatan berpulang ke Rahmatullah. Prof Drs H Abdul Djebar Hapip MA atau biasa dipanggil Pak Djebar tutup usia Rabu
Namun yang patut menjadi catatan persoalan selama ini adalah adanya fenomena penurunan penggunaan bahasa Banjar di kalangan masyarakat. Mohammad Rafiek sejak Kongres Budaya Banjar 2010 sudah meneriakkan perihal tersebut. Ia menyebut tiga daerah yang paling parah dalam hal terjadinya krisis atau penurunan penggunaan bahasa Banjar, yaitu Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
Banyak penyebab hal ini terjadi, salah duanya karena asimilasi dan banyaknya pendatang dari luar, serta kurangnya rasa cinta dan percaya diri orang Banjar sendiri terhadap bahasa daerahnya.
Apabila faktor asimilasi dan banyaknya migran luar kita jadikan kambing hitam sebagai penyebab penurunan penggunaan bahasa Banjar, maka hal itu perlu dikritisi. Betapa banyak daerah lain juga mengalami hal yang sama, tetapi mereka masih menyintai dengan sangat fanatik dan menggunakan bahasa daerahnya sebagai lingua franka sehari-hari, seperti masyarakat Sunda, Jawa, Madura, Minang dan banyak lagi. Hal ini kiranya perlu kajian lebih lanjut.
Wafatnya Abdul Djebar Hapip semoga dapat mengguggah kesadaran dan komitmen kita untuk memperbarui kecintaan terhadap bahasa Banjar. Semoga apa yang sudah beliau lakukan dapat diteruskan, sehingga Bahasa Banjar dapat terus lestari dan menjadi bahasa tuan di daerahnya sendiri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ahmad-barjie_20160106_230549.jpg)