Jendela

Multitasking

Saya khawatir, rasa empati dalam diri kita mulai terkikis. Kita perlahan tidak bisa lagi memahami perasaan dan pikiran orang lain. Kita menjadi robot!

Multitasking
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh : Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - "OH, ya..begitu ya,” katanya hambar sambil mengarahkan matanya ke ponsel pintar yang dipegangnya dan jemarinya mengetik pesan. Saya sering merasa terganggu dengan perilaku teman bicara semacam ini. Kehadiran kita seolah tak berarti.

Padahal, boleh jadi perilaku demikian tak perlu diambil hati. Itu kan sudah biasa. Orang modern selalu sibuk. Dia melakukan banyak hal secara bersamaan alias multitasking.

Mungkin saya ini orang kolot. Dalam budaya tradisional kita, salah satu bentuk penghormatan pada orang lain adalah memperhatikan dan mendengarkan lawan bicara kita dengan baik. Kawan kita yang modern ini mungkin mengatakan, dia pun memperhatikan lawan bicaranya juga sambil memperhatikan lawan bicara lain di dunia maya. Keduanya dilayani setara. Dia sibuk melayani sini dan sana-mana.

Namun, alasan di atas masih sulit saya terima. Bagi saya, dunia nyata dan dunia maya itu tetap berbeda. Yang satu dekat dan konkret, yang satu lagi jauh dan citra. Karena itu, kita harus mengutamakan yang hadir di depan mata. Jika pun terpaksa, akan lebih sopan jika kita meminta izin kepada lawan bicara di dunia nyata. “Maaf, saya harus balas pesan penting ini dulu,” atau “Maaf, saya angkat telepon ini dulu.”

Mungkin, bagi sebagian kita, adab dan sopan santun menggunakan ponsel di atas kita laksanakan ketika berhadapan dengan orang penting, tetapi tidak kepada teman atau keluarga dekat. Ini masih lumayan. Tetapi dalam jangka panjang mungkin tetap berbahaya. Saya khawatir, rasa empati dalam diri kita mulai terkikis. Kita perlahan tidak bisa lagi memahami perasaan dan pikiran orang lain. Kita menjadi robot!

Lebih dari masalah empati, karena terbiasa dengan multitasking, orang sekarang makin sulit konsentrasi, apalagi dalam waktu yang lama. Kita tidak bisa fokus karena semua ingin kita raih. Kita menjadi serakah dan tidak sabaran, ingin serba cepat dan instan. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak maksimal. Kita lupa bahwa diri kita ini terbatas, dan keterbatasan itu hanya akan maksimal jika dipusatkan/difokuskan.

Suatu hari, saya berbincang dengan seorang biksu. Saya bertanya kepadanya tentang meditasi. Sang biksu menjelaskan, salah satu maanfaat meditasi adalah melatih kita untuk konsentrasi. Perhatian kita, yakni pikiran dan perasaan kita, terarah ke satu objek. Beliau juga menjelaskan, meditasi dapat membantu kita agar tidak terkungkung oleh duka masa lalu atau ketakutan menghadapi masa depan.

Sebagai seorang Muslim, saya pun menyadari betapa sulit konsentrasi itu. Saya wajib salat lima kali sehari. Saat salat, pikiran pun bisa melayang ke mana-mana. Saya tidak konsentrasi. Padahal, salat itu dilaksanakan agar kita ingat atau zikir kepada Tuhan. Doa, salawat, wirid hingga Alqur’an yang kita baca tidak akan banyak bermakna tanpa konsentrasi, yakni perhatian penuh pada makna yang kita lafalkan.

Kita tidak fokus pada apa yang tengah kita kerjakan karena kita terpenjara oleh masalah-masalah yang telah terjadi atau khawatir akan masalah-masalah yang akan terjadi. Kita memang hidup dalam tiga dimensi waktu yang saling terkait: masa lalu, sekarang dan akan datang. Di antara tiga dimensi itu, yang nyata adalah masa kini. Yang lain adalah maya. Masa lalu takkan terulang. Masa depan masih impian.

Dengan demikian, semakin lemah daya konsentrasi kita pada apa yang sedang kita kerjakan, semakin jauhlah kita dari kenyataan. Adapun orang-orang bijak, mereka hidup sebagaimana adanya. Karena masa lalu tak bisa diubah, mereka bersyukur atas sukanya dan berlapang dada atas dukanya. Karena masa depan itu masih misteri, mereka tak perlu takut. Karena itu, mereka berbahagia di masa kini.

“Siapa yang terjaga di pagi hari dalam keadaan aman, tubuhnya sehat dan dia memiliki makanan untuk hari itu, maka dia laksana diberikan seluruh dunia dengan segala isinya,” kata sebuah hadis.

Bahagia itu rupanya sederhana, tetapi kita sering mengabaikannya, yaitu menerima kebaikan yang nyata di depan mata dengan penuh syukur. Tidak galau dengan masa lalu, tidak pula khawatir dengan masa depan.

Alhasil, di era ponsel pintar ini, multitasking makin membudaya. Empati dan konsentrasi makin tergerus. Yang maya dan citra perlahan mengalahkan yang nyata. Saya khawatir, kita pun makin jauh dari bahagia jika kita tidak waspada! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved