Tajuk

Bukan Sekadar Harapan

Soal buku paket pelajaran belum ada, soal dana BOS terlambat, soal alternatif orangtua terpaksa beli buku pelajaran

Bukan Sekadar Harapan
BPost Cetak
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seseorang anggota dewan mendatangi sekolah. Lalu, tanya-tanya tentang buku pelajaran anak. Informasi yang dia dapat, benar adanya. Buku paket pelajaran belum ada. Alternatif, beli. Marahnya muncul. Dia datangi kepala dinas pendidikan.

Soal buku paket pelajaran belum ada, soal dana BOS terlambat, soal alternatif orangtua terpaksa beli buku pelajaran dan soal-soal lainnya ditumpahkan. Dia omeli itu kepala dinas dan stafnya bidang pendidikan dasar.

Sayang, gambaran itu hanya sekadar harapan masyarakat atas situasi yang ada. Anggota dewan sekarang, seperti tak punya darah membara untuk melakukannya.

Entah karena menghitung hari-hari terakhir sebagai anggota dewan, entah karena yang petahana sibuk menghitung tunjangan yang bakal diterima beserta perjalanan dinas, entah karena sebab lain. Sementara, persoalan tersebut sudah sering kali muncul.

Masyarakat khususnya para orangtua, terlebih yang tidak mampu atau yang berada di sekitar pegunungan dan pesisir yang jauh dari pusat kecamatan, hanya punya harapan. Anaknya bersekolah lancar. Selama bersekolah, tidak dipusingkan harus keluar uang. Buku paket pelajaran disediakan atau dipinjami. Kalau buku pelajarannya hanya sedikit atau rusak? Ya tolonglah mereka, tidak perlu lagilah dipusingkan dengan yang seperti ini.

Tugas anggota dewan untuk peka mendatangi mereka yang jauh, membawa keluhnya ke depan pejabat pemerintah. Pejabat daerahnya juga sama. Jangan hanya mikirkan apa mobil dinasku, berapa uang ke luar untuk ke dusun warganya yang terpelosok.

Lalu, kata pihak sekolah, dana BOS sering terlambat sehingga tidak bisa pula meringankan beban orangtua anak didik khususnya yang tidak mampu.

Lha terus, diam saja? Kenapa sih, takut menyampaikan derita anak didik yang tidak mampu. Janganlah takut jabatan dihilangkan si kepala dinas.

Justru kepala dinasnya yang harus disingkirkan dari jabatannya supaya diganti oleh sosok yang bisa membantu anak-anak.

Pendidikan tanggung jawab tiga pihak, pemerintah, sekolah dan masyarakat atau orangua. Jadi, orangtua juga perlu perannya, mungkin dalam hal ini berkorban beli buku pelajaran.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved