Bisnis Techno

Meski Ditentang Apple Langgar UU, Qualcomm Terus Lanjutkan 'No License No Chips'

Kampanye "no license, no chips" Qualcomm mendapat pertentangan dari beberapa vendor smartphone, salah satunya adalah Apple.

Meski Ditentang Apple Langgar UU, Qualcomm Terus Lanjutkan 'No License No Chips'
TheVerge
Ilustrasi logo Apple dan Qualcomm 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kampanye "no license, no chips" Qualcomm mendapat pertentangan dari beberapa vendor smartphone, salah satunya adalah Apple. Qualcomm dianggap memanfaatkan dominasinya dan dianggap melanggar undang-undang anti- monopoli.

Imbasnya, Komisi Perdagangan Federal (FTC) menuntut Qualcomm untuk mengganti strateginya. FTC juga meminta Qualcomm melakukan negosiasi ulang tentang lisensi dengan beberapa kliennya.

Namun dari perkembangan terakhir, putusan sidang pengadilan banding sirkuit sembilan yang membawahi beberapa negara bagian AS, memutuskan Qualcomm bisa melanjutkan bisnisnya dengan kampanye "no license, no chips".

Qualcomm tidak harus mengganti strategi atau melakukan negosiasi ulang dengan pelanggannya.

"Kami senang bahwa pengadilan mengabulkan permintaan kami dan percaya bahwa keputusan pengadilan distrik akan dibatalkan setelah kepatutan banding kami dipertimbangkan," jelas Don Rosenberg, wakil presiden dan penasihat umum Qualcomm.

Baca: Mau Tahu Apa Itu Smart SIM? Simak Info Lengkapnya di Bawah Ini

Baca: Inilah Harga Terbaru HP Samsung untuk Agustus 2019, Ada Galaxy A10 hingga Galaxy Note10

Baca: HOREE! Ada 16 Hari Libur Nasional di Tahun 2020, Catat Tanggal-tanggalnya

"Selama masa proses banding masih berlanjut, Qualcomm akan tetap mempertahankan praktik lisensi. Ini akan memungkinkan Qualcomm untuk terus berinvestasi dalam menciptakan teknologi penting bagi komunikasi mobile pada transisi 5G," imbuhnya.

Proses banding akan dimulai kembali pada Januari 2020 mendatang. Bulan Mei lalu, hakim pengadilan distrik, Lucy Koh mengatakan, kampanye "no license, no chips" semakin menguatkan dominasi Qualcomm.

Sebab, aturan itu memaksa pelanggan Qualcomm membayar lisensi atas royalti penggunaan chipset. Kemenangan Qualcomm ini juga membuat FTC tidak puas.

"Kami menghormati keputusan tersebut dan akan mencari cara untuk mempertahankan kepatutan keputusan pengadilan distrik," jelas Direktur FTC, Bruce Hoffman, dilansir KompasTekno dari Phone Arena, Senin (26/8/2019).

Hoffman mengatakan, meski Qualcomm berhak melanjutkan praktik bisnisnya, namun beberapa batasan tetap harus berlaku. Ada beberapa syarat pemantauan yang harus diikuti.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved