Ekonomi dan Bisnis

Produk Sambal Pertama di Papua, 500 Sambal Baba Dipasarkan dalam Expo Fesyar KTI 2019

Enam varian sambal dari tanah papua, tersaji pada stand expo Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Papua pada Festival Ekonomi Syariah

Produk Sambal Pertama di Papua, 500 Sambal Baba Dipasarkan dalam Expo Fesyar KTI 2019
banjarmasinpost.co.id/mariana
Para pengunjung sedang mencicipi dan membeli Sambal Baba dari stand KPw BI Papua. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Enam varian sambal dari tanah papua, tersaji pada stand expo Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Papua, dalam perhelatan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Kawasan Indonesia Timur (KTI) 2019, bertempat di Duta Mall Banjarmasin, Jumat (13/9/2019).

Pantauan Banjarmasinpost.co.id, stand KPw Papua salah satu favorit pengunjung sebab stand ini selalu ramai. Silih berganti orang-orang hadir mencicipi taster sambal yang tersedia dengan kerupuk amplang.

Owner Sambal Baba, Yamin menuturkan selama perhelatan Fesyar KTI 2019 dia membawa sebanyak 500 sambal semua varian. Ada sambal terasi, jahe rica, ikan asin, lombok ijo, dan teri ijo, serta yang ikonik Papua yakni sambal asar dan rowa yang berasal dari Ikan Tuna Asar khas Papua.

"Semua bahan mulai cabai, bawang, dan ikan dalam keadaan fresh semua dan menggunakan UV halal, yang mana tempat produksinya sudah dilakukan pemeriksaan oleh MUI," jelasnya kepada Banjarmasinpost.co.id.

Baca: Gelar Pelatihan Make Up, Komunitas Make Up Tanbu Datangkan MUA Jovanka

Baca: 14 Hari Operasi Patuh Intan, 1040 Surat Tilang Dikeluarkan Satlantas, Dua Pelanggar ini Terbanyak

Baca: NEWSVIDEO : Melihat Usaha Pencacahan Limbah Sampah Plastik di Kecamatan Batulicin

Baca: Geledah Rumah di Jalan Mutiara Banjarmasin, Polisi Temukan 12 Gram Sabu di Kamar

Ide membuat sambal berbahan dasar ikan, diakui Yamin karena ikan khas Papua yakni Tuna Asar. Sebelum dibuat produk sambal, ikan Asar ini hanya sebagai lauk biasa bagi masyarakat Papua. Sehingga Yamin berinisiatif menjadikan ikan asar sebagai produk yang bisa dinikmati tidak hanya oleh masyarakat Papua namun seluruh Indonesia.

Sejak 2017 bisnis sambal pertama di Papua ini mulai dirintis, pada awal-awal pemasaran masih belum bagus respon dari masyarakat karena masih banyak yang belum tahu.

"Saat bulan Ramadan 2017 lalu, menjadi momen yang pas karena sebagian besar masyarakat membutuhkan makanan cepat saji terutama saat sahur sehingga penjualan mulai meningkat saat itu," ucapnya.

Harga sambal Baba dibanderol Rp 35.000 untuk varian terasi, jahe rica, ikan asin, lombok ijo, dan teri ijo, serta sambal asar dan rowa ditarif Rp 40.000

Hingga saat ini omzet yang diraih Yamin mencapai Rp 60 juta per bulan. Target marketnya selain anak kost juga tamu-tamu luar Papua sebagai oleh-oleh.

Baca: Skor Akhir Kalteng Putra Vs Persebaya Imbang 1-1, Kabut Asap Mengganggu Pemain

Baca: Breaking News : Lagi, Kebakaran Terjadi di Kawasan Gunung Sari Ujung Banjarmasin

"Sambal Baba sudah mendapatkan sertifikasi halal pada 2018, selain itu kami juga mendapatkan terbaik pertama kompetisi UMKM dari Badan Ekonomi Kreatif pada 2018 lalu," ungkapnya.

KPw BI Papua dalam hal ini berperan penting dalam membantu proses produksi dan pemasaran. Yamin mengatakan KPw BI Papua memberikan link relasi dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku seperti bawang dan cabai serta membantu akses branding pemasaran ke berbagai expo. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved