Suka Duka Relawan Padamkan Karhutla

Sering Alami Sesak Napas Terhirup Asap Tebal, Relawan Tak Kapok Lakukan Pemadaman

Para relawan pemadam yang terjun langsung ke lapangan tak pernah menyerah. Pantang pulang sebelum api padam, begitu prinsip mereka.

Sering Alami Sesak Napas Terhirup Asap Tebal, Relawan Tak Kapok Lakukan Pemadaman
istimewa
Ramani Nopran, saat melakukan pemadaman karhutla di wilahat HSS beberapa waktu lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN -  Kemarau panjang beberapa bulan lalu, membuat Kabupaten Hulu Sungai Selatan dikepung api. Kebakaran lahan, terjadi hampir di semua kecamatan, di wilayah HSS.

Hal tersebut cukup merepotkan petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bahkan di beberapa titik di Kecamatan Daha, seperti Daha Barat, para relawan kewalahan memadamkan api, saking banyaknya titik api.  

 Namun, para relawan pemadam yang terjun langsung ke lapangan tak pernah menyerah. Pantang pulang sebelum api padam, begitu prinsip mereka.

Ya, selama kemarau lalu, para relawan pemadam yang selalu siaga 24 jam memadamkan api. Mereka bekerja tanpa pamrih dan tanpa gaji. Padahal risiko cukup besar, saat berhadapan dengan api berkobar. Mengapa mereka mau melakukan itu? .

Baca: Liga 3 Kalsel Masuki Babak Semifinal, Ini Jadwal Resminya

Baca: Nasib Tragis Bayi Tabung Denny Cagur, Istri Teman Sule & Andre Taulany Itu Sebut Soal Rasa Takut

Baca: Jelang Indonesia vs Vietnam, Simon McMenemy Sebut Jadwal Pertandingan di Liga I Bermasalah

Baca: Tunggakan BPJS Capai Rp 82 Miliar, RSUD Ulin Tolak Pinjam ke Bank

 Banjarmasinpost.co.id, saat berbicang bersama tiga relawan, yaitu Ramani Nopran, dari Posko Darurat Karhutla Badan Penanggulangan Bencana Kesbangpol HSS, Norifansyah dari BPK Nurul Islam dan Khairudi dari PMK Parmuk kompak mengatakan, karena panggilan jiwa.

Mereka pun mengaku ada kepuasan tersendiri bisa berbuat baik untuk orang banyak, karena hidup lebih bermanfaat.

 “Menjadi relawan pemadam benar-benar panggilan jiwa dengan misi sosial. Kalau hitung-hitungan tenaga, waktu, dana  itu tak ternilai. Bagi kami, saat hendak makanpun jika mendengar ada musibah kebakaran, termasuk karhutla, otomatis mengurungkan makan. Dalam pikiran kami, yang penting memadamkan api dulu, dan tak ada korban ”ungkap Ramani Nopran, yang akrab disapa Pa RT, karena dia di kampungnya Ramani memang Ketua RT di Desa Taniran Kubah.

Baca: Pesan Menohok Irfan Hakim Pada Raffi Ahmad yang Sering Marahi Nagita Slavina di Tempat Umum

Baca: Sopir Truk Bawa Kayu Meranti Tanpa Dokumen Diamankan Polisi Rakumpit

Baca: Khalikin Noor Berharap Keberhasilan Barito putera U-20 Bisa Menular ke Barito Putera U-18.

 Baik Ramani, Khairudi maupun Norifansyah mengakui, tugas mereka penuh risiko. Baik dari sisi kesehatan, maupun keselamatan jika tak berhati-hati.

Menurut mereka, mengalami sesak napas sampai harus menggunakan oksigen,akibat menerabas kepulan asap sudah biasa.

“Hampir semua relawan pemadam pernah mengalami hal tersebut. Alhamdulillah, rekan-rekan PMI selalu hadir di lapangan, mendampingi kami,”ungkap Norifansyah dari BPK Nurul Islam.   (banjarmasinpost.co.id/ hanani)

 
 

Penulis: Hanani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved