Opini Publik

Moderasi Beragama bagi Generasi Milenial

Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Dialog Lintas Agama untuk Pemeliharaan dan Penguatan Kerukunan

Editor: Didik Triomarsidi
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin 

Tokoh Agama dan Adat

Mengantisipasi hal-hal destruktif dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di mana agama memegang posisi penting, dialog lintas agama merekomendasikan agar para tokoh agama seperti ulama, ustadz, pastor, pendeta, pedande, rohaniwan dan lain-lain proaktif mewariskan nilai-nilai ajaran agama yang santun, moderat dan mengakomodasi perbedaan sebagaimana yang tertera dalam kitab suci masing-masing.

Ketika berada dalam komunitasnya mereka jangan saling “membully” agama dan kelompok lain yang berbeda, dengan mengeksploitasi perbedaan dan subjektivitas, tetapi hendaknya berusaha untuk mencari titik-titik persamaan. Para tokoh agama tidak boleh merasa sudah harus pensiun, karena sudah merasa tua, sehingga tidak mau tahu lagi dengan urusan bangsa dan negara.

Justru mereka harus tetap proaktif memberikan pencerahan kepada generasi di belakangnya, baik melalui ceramah, khutbah, bimbingan, tulisan, bahkan juga harus ikut meramaikan media sosial secara bertanggung jawab.

Kalau perlu mereka siap berdebat secara baik (mujadalah bil-husna) guna meluruskan pemahaman beragama yang salah dan riskan ke arah konflik, karena agama sejatinya membawa rahmat dan perdamaian.

Menyintai negara dan bangsa dapat dipadu-padankan dengan menyintai agama, tanpa harus mempertentangkan keduanya. Tuan Guru Dr Abdul Aziz Sukmawardi MA, ulama muda NTB jebolan Mesir, Sudan dan Yordania mengatakan, Nabi Muhammad saw yang tidak diragukan ketaatannya beragama begitu menyintai kota Makkah, sehingga kalau tidak terpaksa beliau tidak akan hijrah ke Madinah. Namun setelah berada di Madinah beliau tetap menyintai Makkah dan berusaha untuk memasuki dan menyelamatkannya bersama penduduknya yang walaupun dulu memusuhinya, tetapi belakangan semua dimaafkannya. Di saat sama Nabi juga begitu menyintai Madinah, sehingga beliau hidup dan memilih wafat dan bermakam di sana.

Piagam Madinah yang dirumuskan Nabi bersama pemuka agama Yahudi, Nasrani dan para kepala suku sudah menyontohkan, betapa untuk bela negara para pihak harus saling menghormati kedudukan dan keyakinan agamanya, demi kepentingan yang lebih besar, yaitu mempertahankan Negara Madinah dari serangan pihak luar.

Indonesia hari ini perlu dibela bersama oleh segenap warganegara. Untuk itu dibutuhkan persatuan, sebab kalau kita berpecah-belah akan mudah diadu-domba hingga menjadi lemah. Lamanya bangsa kita dijajah karena termakan adu-domba dan politik pecah belah, lebih dari cukup untuk dijadikan pelajaran.

Bersama tokoh agama dituntut pula peran tokoh adat dan kalangan pewaris sejarah Nusantara masa lalu, seperti sultan, pangeran, raden, tumenggung, datu, pelingsir, pemangku adat dan sebagainya.

Para tokoh ini hendaknya gigih menjaga adat budaya leluhur yang kaya dengan nilai-nilai agama, persatuan, kebersamaan dan kerukunan. Nilai-nilai itu perlu diaktualisasi dan diwariskan melalui norma dan seni budaya sehingga generasi di belakang tetap memiliki komitmen hidup rukun, damai dan harmonis.

Konsekuensi dari rekomendasi ini, pemerintah pusat dan daerah dituntut untuk memberikan payung hukum yang lebih kuat, sekaligus menopang dana yang memadai, sehingga lembaga-lembaga keagamaan dan adat beserta aktor-aktor kerukunan yang aktif di dalamnya dapat menjalankan perannya secara aktif dan optimal. Wallahu A’lam. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved