Opini Publik

Pentingnya Religiusitas di Tubuh KPK

Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya selesai menyusun kode etik bagi pimpinan KPK baru.

Pentingnya Religiusitas di Tubuh KPK
KOMPAS.com/DYLAN APRIALDO RACHMAN
Salah satu orang dari kelompok massa bernama Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Relawan Cinta NKRI berhasil merangsek masuk ke Gedung Merah Putih KPK untuk mencopot kain hitam yang menutupi logo KPK. 

Oleh: Ahmad Ubaidillah, Dosen Ekonomi Syariah pada Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Lamongan (UNISLA)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya selesai menyusun kode etik bagi pimpinan KPK baru. Revisi kode etik tersebut juga mengubah nilai dasar yang ada di KPK. Nilai dasar KPK sebelumnya ialah religiusitas, integritas, keadilan, profesionalisme dan kepemimpinan. Namun, dalam kode etik baru, religiusitas dihapus dan digantikan dengan sinergi.

KPK berdalih bahwa keputusan menghapus nilai religiusitas itu diambil oleh Dewan Pengawas KPK setelah berdiskusi dengan para ahli. Tidak perlunya memasukkan aspek religiusitas dalam kode etik karena aspek tersebut dianggap sudah melekat pada semua manusia dan memayungi nilai dasar yang ada. Penghapusan itu tidak bertujuan untuk menangkal isu radikalisme di dalam tubuh KPK.

Tak pelak, keptusan menghapus aspek religiusitas mengundang banyak penentangan berbagai kalangan. Misalnya saja, mantan Penasihat KPK, Abdullah Hehamahua, yang melihat penghapusan religiusitas sebagai tanda-tanda sakaratul mautnya KPK. Sedangkan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, yang menyesalkan pengapusan nilai religiusitas dari kode etik KPK.

Pertanyaan yang terlintas dalam benak kita: pentingkah agama atau religiusitas dalam kehidupan umat manusia, khususnya di tubuh KPK? Jawabannya tentu saja bisa berbeda-beda. Saya sendiri menjawab: penting. Mengingat mudahnya kita menyaksikan fenomena rapuhnya moral di negeri ini yang kian menggelegak dan mengkhawatirkan. Terbaca dan terlihat di media massa yang rasa-rasanya tidak pernah absen mendedahkan berita tentang pejabat negara yang mencuri harta milik rakyat, atau aktor-aktor politik yang saling menghabisi lawan politiknya dengan berbagai macam cara.

Di sinilah kita menyaksikan agama sebagai sumber kekuatan dan pertahanan moral terlihat begitu ringkih. Di sini pulalah kita melihat badai-badai nafsu rendah telah merenggut nilai-nilai agama sehingga keluar dari ruang keluhurannya. Fungsi agama sebagai pembimbing dan pengarah tingkah laku manusia lenyap digulung oleh kerapuhan kesungguhan para penganutnya dalam menjalankan ajaran agamanya.

Dalam sejarah peradaban-perdaban dunia, baik peradaban Barat maupun Timur, kemunduran suatu paradaban bangsa seringkali dimulai dari kehancuran moral penghuni bangsa tersebut. Penguasa dan rakyat sudah tidak lagi mengindahkan persoalan batas antara baik-buruk, benar-salah. Mereka menganggap perbuatan yang melanggar demarkasi moral sebagai bentuk kewajaran. Melabrak moral yang seringkali mengganggu kepentingan masyarakat luas dianggap hal yang biasa dan lumrah.

Hukum yang tadinya dibuat sebagai pencegah dan penjera mereka yang bersalah sebagai manifestasi pelanggaran moral pun sudah tidak berfungsi lagi. Buktinya, masih saja ada penguasa atau masyarakat yang melakukan kejahatan yang mencerminkan kerapuhan moralnya. Justru, yang terjadi adalah realitas hukum semakin dipermainkan oleh orang-orang yang bermodal besar, baik modal uang maupun modal kekuasaan. Akibatnya, hukum hanya tajam ke sisi bawah (rakyat jelata), namun tumpul ke sisi atas (penguasa).

Banjarmasin Post edisi Selasa (10/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Selasa (10/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Ketika hukum sudah manjadi bagian dari kehancuran moral manusia itu sendiri dan sudah tidak lagi mampu menjadi pengawal kekuatan moral, maka menanamkan kembali nilai-nilai agama ke diri kita masing-masing perlu segera dilakukan. Umat manusia perlu menghidupkan kembali (revitalisasi) ajaran-ajaran agama, karena agama mampu membuat manusia berbuat baik dan mencegah perbuatan-perbuatan tercela.

Lantas, bagaimana dengan tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu atas nama agama yang seringkali kita jumpai? Bukankah agama sendiri mengajarkan kebaikan? Saya tidak yakin bahwa tindakan teror yang dilakukan oleh kelompok radikal keagamaan benar-benar didorong oleh semangat keagmaan. Saya sependapat dengan Karen Armstrong, sejarawan asal Inggris itu, bahwa kekerasan agama yang terjadi di dunia ini kebanyakan ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu.

Dalam konteks kegaduan tentang internalisasi religiusitas ke dalam kode etik KPK, alangkah baiknya kita sebagai manusia beragama bertanya kepada diri kita masing-masing. Untuk apa beragama kalau kita masih suka berbuat korup, buat apa beragama kalau kita masih hobi menyuap untuk kelancaran keinginan kita, atau untuk apa beragama kalau kita masih senang membunuh lawan politik kita demi kekuasaan yang fana, misalnya. Dan masih banyak pertanyaan yang perlu diajukan untuk menguji kualitas keberagaman kita. Apakah kita sudah benar-benar beragama atau hanya menjadikan agama sebagai simbol identitas belaka seperti yang tertera di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Filsuf dan ilmuwan besar semacam Bertrand Russell atau Albert Einstein, yang merasa tidak perlu memasuki agama-agama formal (Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, atau Buddha), masih memiliki kepercayaan dan keharusan berbuat baik. Komitmen berbuat baik inilah yang mestinya diteladani oleh kita sebagai manusia beragama. Karena itu, agama yang pada hakikatnya mengajarkan umatnya untuk selalu bertindak mulia harus dijadikan senjata untuk melawan kejahatan-kejahatan.

Perlu kiranya kita tidak “menelantarkan” ajaran-ajaran agama kita masing-masing. Kita harus senantiasa menghayati nilai-nilai luhur religius untuk direalisasikan ke dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa. Kita jangan sampai membiarkan tuntunan baik agama hanya tertulis di atas kertas tanpa pelaksanaan, yang merupakan bentuk tanggung jawab kita dalam beragama.

Kita musti ingat, meskipun agama memiliki kekuatan yang berpengaruh pada jiwa manusia, namun kekuatan ini bergantung pada tingkat komitmen penerimaannya terhadap agama itu dan bukan sekadar formalitas. Formalitas dalam beragama tanpa diikuti dengan tindakan baik hanya mendatangkan bencana bagi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Internalisasi ajaran agama ke dalam jiwa akan memunculkan pemikiran eskatologis yang pada akhirnya mendorong manusia berpikir dan berbuat baik.

Bukankah Socrates, filsuf Yunani Kuno, sebelum meninggal dunia mengatakan kepada murid-muridnya yang tengah berkumpul di sekelilingnya bahwa di balik kehidupan dunia yang fana ini, ada kehidupan yang kekal, yaitu kehidupan akhirat? (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved