Opini Publik

Dari Social Distancing ke Gadget Distancing

Penyebaran pandemik virus corona semakin menakutkan bagi segenap warga dunia saat ini, semua lini kehidupan ikut serta agar tidak lebih buruk

Dari Social Distancing ke Gadget Distancing
Twitter/teritoriaal
Penerapan social distancing di Bandara Supadio Pontianak. Penerapan social distancing atau pengaturan jarak antar warga di tempat umum ramai menjadi perbincangan. 

Oleh: Usluddin, Alumni Magister Sosiologi Universitas Hasanuddin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Penyebaran pandemik virus corona semakin menakutkan bagi segenap warga dunia saat ini, semua lini kehidupan ikut serta agar tidak lebih buruk mempengaruhi tatanan kehidupan manusia. Mulai ancaman resesi pekenominan global, pembatalan sejumlah acara resmi kenegaraan hingga terganggunya kegiatan ibadah menjadi imbas pandemik virus corona. Kini semua negara tengah bahu-membahu untuk membasmi penyebaran virus. Paling tidak, membatasi ruang gerak virus agar tidak semakin banyak yang terjangkit positif.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh World Health Organization (WHO), pandemik virus corona kini tengah melanda 120 negara diseluruh dunia. Di Indonesia, pasien positif pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Senin, 2 Maret 2020. Hingga Senin, 23 Maret 2020 kini telah menyentuh angka 579 pasien positif, 30 orang berhasil sembuh dan 49 korban yang meninggal dunia (merdeka.com). Meski data ini masih cukup kecil dibanding negara lain seperti Italian dan Iran, namun perlu ekstra waspada sebab Indonesia menjadi negara dengan tingkat persentase kematian tertinggi kedua setelah Italia dan Cina.

Ada banyak upaya yang dilakukan untuk menekan laju penambahan korban positif pandemik virus corona, mulai dari sterilisasi fasilitas publik (kereta, jalan-jalan, masjid dll), meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kampus, membatasi jam kerja para karyawan, membatasi jumlah wisatawan atau pendatang asing, serta anjuran untuk mengurangi aktifitas di luar rumah dan membatasi kontak langsung dengan orang lain (social distancing).

Untuk mendukung aksi social distancing dalam rangka menekan laju percepatan penyebaran virus, maka pemerintah mengimbau dengan tegas agar aktifitas dilakukan dari dalam rumah termasuk para pekerja kantoran. Hingga muncul istilah work from home (WFH/bekerja dari rumah) dengan memaksimalkan perangkat digital dan era teknologi informasi yang ada saat ini. Di beberapa kota, razia dilakukan untuk membubarkan jika ada kerumunan dalam masyarakat dengan memanfaatkan peran para polisi, TNI maupun satpol PP.

Imam Prasojo, Sosiolog Universitas Indonesia mengatakan bahwa social distancing dapat menekan penyebaran hingga 90 persen (litbang tvone). Selain untuk menekan paparan virus corona, social distancing dipercaya dapat meningkatkan keharmonisan dalam rumah tangga khususnya masyarakat perkotaan yang selama ini larut dengan kesibukan dan rutinitas perkantoran. Maklum kehidupan para pekerja kantoran telah mereduksi waktu interaksi dengan anggota keluarga yang lain.

Misalnya dalam sebuah rumah tangga, sang ayah telah meninggalkan rumah menuju kantor sebelum anak-anaknya bangun. Kemudian, akan pulang ke rumah dimalam hari ketika anak-anaknya tidur kembali. Ketika sampai di rumah pun, interaksi dengan istri tidak akan bertahan lama sebab ada beban pikiran yang telah seharian dirasakan dan ingin segera dituntaskan dengan istirahat sebelum kesibukan berulang esok hari. Tuntutan pekerjaan dan kemacetan di jalan-jalan protokol menjadi mesin penyita waktu para warga kota untuk kembali ke rumah. Praktis, sangat sedikit ruang interaksi yang bisa dilakukan padahal peran sentral seorang ayah sangat dibutuhkan khususnya dalam tumbuh kembang anak.

Banjarmasin Post edisi Kamis (26/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (26/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Nah adanya pandemik virus corona ini, masyarakat perkotaan kini punya ruang yang lebih baik untuk menumbuhkan kembali kehangatan dalam keluarga yang telah hilang selama ini dengan social distancing yang menjadi anjuran pemerintah.

Jika pun social distancing dilakukan sebagai wujud tunduk dan patuh kepada pemerintah, tetap tidak akan berfungsi meningkatkan interaksi dalam keluarga jika masih sibuk dengan urusan masing-masing melalui perangkat gadget. Olehnya itu, perlu pula untuk memberlakukan aturan gadget distancing (mengurangi penggunaan dan interaksi dengan gadget) untuk menjamin komunikasi verbal dan optimal dalam rumah.

Tanpa gadget distancing, akan menjadi pemandangan yang cukup ganjil jika mereka yang sedang diliburkan dan dianjurkan untuk tinggal di rumah tapi justru asyik dengan gadget. Dengan dalih WFH, sangat mungkin menjadi alasan untuk tetap sibuk dengan rutinitas kantor meski sedang berada di rumah.Akhirnya,gadget sungguh sangat perkasa mendekatkan yang jauh (interaksi virtual) tapi juga menjauhkan yang dekat (interaksi aktual). Atas situasi ini, para ahli menyebutnya dengan istilah phubbing (phone snubbing).

Selain itu, gadget distancing juga dapat meminimalisir berita hoax yang menyebar sangat cepat khususnya terkait dengan pandemik virus corona. Banyaknya pengguna internet yang tidak bertanggung jawab dan serta kurangnya daya literasi menjadi jalan mulus berita hoax dapat menyebar dengan mudah dan cepat. Kepala Divisi Humas Polri, Irjen M. Ikbal menyebut telah ada 41 berita hoax soal virus corona yang bertebaran di internet (detik.com, 23/3/2020). Para pelaku ini tengah menjalani pemeriksaaan untuk melihat kemungkinan jenis pelanggaran mereka.

Meski hanya berita hoax, tapi efek yang ditimbulkan sangat fatal. Dalam salah satu studi, para Psikolog sepakat bahwa berita hoax dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental seperti post traumatic stress syndrome, menimbulkan kecemasan hingga kekerasan. Mereka yang terpapar hoax juga bisa membutuhkan terapi karena diselimuti kecemasan, stress, dan merasa kesepian karena berita palsu (Kompas.com, 8/10/2019).

Pandemik virus corona terbukti sangat mencemaskan dalam masyarakat. Social distancing ditempuh untuk meminimalisir potensi penyebaran virus terhadap orang lain. Kemudian gadget distancing dapat mengurangi tekanan dan stres akibat hoax, apalagi melihat perkembangan jumlah korban yang semakin banyak seiring berjalannya waktu. Menjadi orang-orang yang bijak dalam menggunakan akses internet sangat diperlukan saat ini, untuk tidak memperburuk situasi yang ada sehingga kesadaran kolektif dalam masyarakat dapat terbangun dengan baik. Dengan begitu, Indonesia dapat segera bangkit melawan pandemik virus corona. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved