Berita Tabalong

Petani Karet di Tabalong Keluhkan Harga, Turun Jadi Segini

Harga karet di Tabalong kembali dikeluhkan. Harganya turun menjadi Rp5500 perkilogram

Penulis: Reni Kurnia Wati | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/reni kurnia wati
Petani Karet di Tabalong mengeluhkan harga karet yang terus turun. kini, harganya hanya Rp 5.500 perkilogram. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG – Ditengah harga kebutuhan yang mulai merangkak naik, justru harga karet mengalami penurunan yang cukup tajam selama satu pekan ini.

Sebelumnya harga karet sekutar Rp 7000  hingga Rp 7500, tetapi saat ini harganya sudah berada di Rp 5500 perkilogramnya.

Turunnya harga karet ini disapaikan Warno warga Desa Kambitin yang setiap hari bekerja sebagai petani karet.

Dirinnya memiliki kebun karet sebanyak satu hektare, dan setiap hari diambil getahnya. Untuk panen biasanya dilakukan setiap dua hari sekali.

Gugus Tugas Covid-19 Balangan Siapkan Dana untuk UPPD dan Petani Karet

Harga Karet Sedang Turun, UPPB Pelita Abadi di Kabupaten Tabalong Harapkan Bantuan Modal

Keluh Kesah Petani Karet di Tapin, Zakiah : Sekilo Karet Tak Cukup Beli Seliter Beras

 Dan langsung menjualnya ke tengkulak, dalam dua hari biasanya menjual getah karet sebanyak 40 kilogram. Dengan harga Rp 5.500 dirinya mendapat sekitar Rp 200 ribu.

“Sekarang pas pasan hanya untuk makan sehari hari, untungnya tidak ada pinjaman ataupun arisan dan untuk uang jajan sekolah juga tidak ada karena diliburkan,” ujarnya.

 Namun Warno tetap khawatir karena, informasinya harga karet masih akan terus turun.

Jika memang terus turun, kemungkinan dirinya akan bekerja menjadi buruh bangunan untuk sementara karena hasil yang didapat tidak mencukupi.

 Terlebih mendekati bulan Ramadhan yang kebutuhan jelas akan semakin bertambah.

Dirinya berharap harga karet bisa kembali naik karena harga bahan pokok juga sepertinya akan naik.

Sebagian besar warga Desa Kambitin memang petani karet sehingga harga karet sangat menentukan pendapatan mereka.

Pemkab Tabalong Fungsikan Rumah Sakit Lama untuk Pasien Covid-19

Pasien Covid-19 Sembuh Berasal dari Tabalong & Banjar, Ini Kondisi Positif Lainnya di Kalsel

 “Ada juga tengkulak yang sudah tidak bisa membeli karet milik warga lagi, ingin berpindah ke tengkulak lain tidak diterima karena juga keterbatasan modal sehingga terpaksa menjual ke Padang lumbu atau Agung dan jelas membutuhkan waktu dan biaya yang lebih banyak lagi,” ujarnya.

Keterbatasan Modal

 Keterbatasan dalam membeli hasil karet milik warga juga dialami oleh Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) Pelita Abadi Desa masingai Kecamatan haruai.

Daryoto pengelola UPPB mengatakan pihaknya  dipusingkan dengan keterbatasan modal.

“Kami berharap ada bantuan modal untu bisa terus membeli karet kering milik warga,” ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/reni kurniawati)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved