Opini Publik

(Refleksi Hari Kartini) Emansipasi Perempuan di Tengah Pandemi

Perempuan harus mengambil peran dalam situasi ini, terutama dalam menjaga ketahanan keluarga saat melawan pandemi Virus Corona

Kolase IG ayutingting92/yunishara36
Hari ini seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini tak terkecuali para artis Tanah Air, Ayu Ting Ting hingga Yuni Shara. Simak 5 Gaya Kebaya Artis Rayakan Hari Kartini 2020 

Editor : Didik Trio Marsidi

Oleh: Khairunnisa Musari, Dosen Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Jember/Wakil Koordinator Indonesia Tengah DPP IAEI
BANJARMASINPOST.CO.ID - PERINGATAN Hari Kartini tahun ini menginjak usia ke-141. Kartini direfleksikan sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia dalam mengangkat harkat martabatnya. Salah satu karakter Kartini yang cukup menonjol adalah kegemarannya membaca dan menulis. Pada tataran inilah Kartini memberi teladan bagaimana perempuan yang memiliki pengetahuan dapat memberi makna lebih baik bagi kehidupan.

Nun jauh berabad-abad sebelum Kartini lahir, di ujung utara bagian barat Afrika, kehadiran Fatimah al-Fihri juga menjadi inspirasi bagaimana perempuan mampu menjadi agen peradaban.

Jika Kartini membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk mengakses pendidikan dan berpartisipasi dalam kegiatan publik, Fatimah membuka jalan bagi berkembangnya tradisi keilmuan secara kelembagaan melalui institusi perguruan tinggi.

Berawal dari sebuah masjid, Universitas Qarawiyyin yang dibangun Fatimah menjadi universitas tertua di dunia, jauh lebih tua daripada Universitas Al Azhar di Mesir, Universitas Bologna di Italia, Universitas Paris di Perancis, terlebih Universitas Oxford di Inggris.

Perempuan, Emansipasi dan Ketahanan Keluarga

Dalam konteks Indonesia, kehadiran Kartini tidak bisa dipisahkan dari isu emansipasi perempuan. Emansipasi pada masa Kartini dapat dimaknai sebagai perjuangan untuk mendapat persamaan hak bagi perempuan.

Mengutip Prof. Sri-Edi Swasono dalam Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat, emansipasi harus ditegakkan untuk mengakhiri masa jajahan. Masa jajahan adalah masa subordinasi, diskriminasi, dan humiliasi di segala bidang kehidupan.

Hari ini, emansipasi dapat dimaknai lebih beragam. Salah satunya adalah proses pemberdayaan kekuatan diri guna aktualisasi. Dalam situasi pandemi saat ini, emansipasi dapat dimaknai sebagai pemberdayaan yang muncul dari keinginan masyarakat sendiri untuk menemukan kekuatan sehingga dapat mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat.

Pada tataran inilah, emansipasi perempuan dalam menghadapi pandemi menjadi pengejawantahan emansipasi yang diusung Kartini, yaitu menjaga ketahanan keluarga.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved