Berita Banjarbaru

Guru Besar FK ULM Prof Husaini: Setop Gunakan Rapid Test Pada Screening Covid-19

Menurut Prof Husaini, rapid test tidak dapat digunakan sebagai alat deteksi dini bagi orang-orang yang masih dalam hari-hari pertama proses inkubasi.

Penulis: Nia Kurniawan | Editor: Alpri Widianjono
ISTIMEWA
Prof Husaini sebagai ketua tim penguji sidang tesis mahasiswa S2 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). 

Banyak tenaga ahli/terlatih perlu dilibatkan baik untuk pengambilan swab sampai menjalankan protokol RT-PCR Covid-19.

"Cara ini juga memerlukan laboratorium dengan biosecurity level 2. Proses amplifikasi ini biasanya berlangsung hingga 35 kali dan memakan waktu antara 6 jam – 2 hari. WHO menyatakan median durasi virus shedding adalah 14 hari. Dimana pada periode tersebut, jumlah partikel virus dalam tubuh dapat berfluktuasi. Beberapa pasien yang sudah sembuh bahkan dilaporkan masih menyebarkan virus setelah 22 hari," kata Prof Husaini.

Oleh karena itu, beberapa negara seperti Korea Selatan dan India melakukan tes kembali pada pasien yang terdeteksi RT-PCR negatif setelah hari ke-14 untuk memastikan kemungkinan negatif palsu.

Dia menyebut, contoh teknologi PCR POC lain adalah alat uji molekular cepat yang biasa digunakan untuk diagnosis tuberkulosis di Indonesia, dan ada beberapa lab Indonesia sudah jalan ini.

Dengan perubahan test kit, alat-alat tersebut bisa digunakan untuk menguji Covid-19.

"Pemerintah seharusnya mengalokasikan anggaran yang lebih besar pada peningkatan kapasitas laboratorium karena kurang akuratnya tes antibodi dan banyaknya jumlah penduduk Indonesia yang terpapar setiap harinya. Selain itu, pemerintah dapat bekerjasama dengan Universitas dan Laboratorium Swasta di daerah untuk meningkatkan kapasitas laboratorium kesehatan di daerah untuk melakukan tes PCR," imbuh dia.

Upaya ini, jika tidak dilanjutkan dengan serius, akan berdampak pada peningkatan penularan Covid-19 yang tidak terkendali.

Tingginya proporsi Orang Tanpa Gejala (OTG) dan buruknya pelaksanaan PSBB di sejumlah daerah menyebabkan penularan Covid-19 akan semakin tinggi jika tidak ada kemampuan deteksi yang baik.

"Ini tentu juga mengakibatkan dampak lain ke arah imunitas alamiah (herd immunity) yang sebenarnya sangat tidak relevan untuk kasus Covid-19 karena dianggap sebagai pembunuhan/genosida, tanpa adanya pengobatan dan vaksin yang ditemukan," pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Niakurniawan)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved