Berita Banjarbaru

Guru Besar FK ULM Prof Husaini: Setop Gunakan Rapid Test Pada Screening Covid-19

Menurut Prof Husaini, rapid test tidak dapat digunakan sebagai alat deteksi dini bagi orang-orang yang masih dalam hari-hari pertama proses inkubasi.

ISTIMEWA
Prof Husaini sebagai ketua tim penguji sidang tesis mahasiswa S2 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). 

Editor:  Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedoktera (FK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan, Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes, menegaskan setop gunakan rapid test pada screening Covid-19.

Menurut analisisnya, penanganan Covid-19 di Indonesia menggunakan tes antibodi dan/atau antigen pada kasus kontak dari pasien positif.

Tes Antibodi juga digunakan untuk deteksi kasus ODP dan PDP pada wilayah yang tidak mempunyai fasilitas untuk pemeriksaan RT-PCR.

Dikatakannya, hasil Pemeriksaan RT Antibodi tetap dikonfirmasi dengan menggunakan RT-PCR.

Pasien yang mendapatkan Tes Antibodi (Rapid test) dikatakan negatif jika memiliki hasil tes negatif pada 2 kali pemeriksaan setelah 10- 14 hari.

"Metode ini tidak dapat digunakan sebagai alat deteksi dini bagi orang-orang yang masih dalam hari-hari pertama proses inkubasi. Tingkat antibodi IgG dan IgM masih rendah saat hari-hari pertama infeksi, meskipun jumlah partikel virus sangat tinggi di awal," bebernya kepada Banjarmasinpost.co.id, Senin (25/5/2020).

Dikatakannya lebih lanjut, model testing Covid-19 dalam screening awal di Indonesia dengan metode rapid test yang mengukur reaksi antibodi yang dihasilkan sistem pertahanan tubuh manusia.

UPDATE Corona Kalsel: Tambahan 2 Positif Covid-19, GTPP Targetkan Agustus 2020 Melandai

Gugus Tugas Kalsel Gelar Pertemuan di Tapin, Hasilkan Keputusan Ini

GTPP Kalsel Kunjungi Pos Pantau Covid-19 di Perbatasan Tapin, Tim Senang Mendapati ini

Idul Fitri 1441 H, 4.228 Napi di Kalsel Dapat Remisi, Lapas Banjarmasin Terbanyak

Serahkan Bantuan Sembako, Petugas Biddokes Polda Kalsel Beri Penyuluhan Pola Hidup Sehat

VIDEO Warga Banua Anyar Banjarmasin Blokade Jalan, Buntut Ada Warga Positif Covid-19

Tes ini disebut tes antibodi dan dilakukan dengan mengambil sampel darah dengan metode tusuk jari, serupa dengan prosedur cek gula darah. Meskipun, tidak termasuk dalam rekomendasi WHO.

"Tes antibodi rapid test ini hanya untuk penelitian epidemiologi, bukan untuk tes massal dan atau screening awal hadapi pandemik CV-19 saat ini. Sensitivitas dan spesifitas RAPID TEST beragam karena faktor alat tes yang digunakan berbeda–beda dan kemampuan virus mempengaruhi imun di dalam tubuh manusia," beber Ketua Prodi S2 kesmas FK ULM ini.

Halaman
123
Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved