Berita Tanahlaut
Pedagang Pelaihari Enggan Jual Telur Infertir, Ini Alasannya
Telur infertil merupakan telur yang berasal dari perusahaan breeding (pembibitan) atau yang dikenal dengan nama telur HE (hatched egg)
Penulis: BL Roynalendra N | Editor: Hari Widodo
Editor : Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Meski jarang didapati, namun kadang telur 'putih' atau telur breeding masih beredar walau secara terbatas. Kalangan pedagang pun cenderung enggan menjual telur infertil tersebut.
Namun belakangan telur berciri khas berwarna putih tersebut beredar melalui penjualan secara daring (online).
Telur infertil merupakan telur yang berasal dari perusahaan breeding (pembibitan) atau yang dikenal dengan nama telur HE (hatched egg).
Peredaran telur tersebut telah dilarang oleh pemerintah.
Berbeda dengan telur ayam negeri yang bisa disimpan pada suhu ruangan mampu bertahan hingga satu bulan, sedangkan telur ayam infertil relatif tak bisa bertahan lama atau umumnya sudah mulai membusuk dalam seminggu.
• Mana Lebih Baik Telur Ayam Kampung atau Ayam Negeri?, Ternyata Begini Faktanya
• Sudah Berapa Kali Kamu Makan Telur Ayam HE? Ternyata Telur Ini Dilarang Pemerintah
• Peternak Puyuh di Kabupaten HSS Terpuruk, 150 Ribu Telur Masih di Gudang
Pantauan banjarmasinpost.co.id, Senin (1/6/2020) siang, di Pasar Rakyat Pelaihari tak ada pedagang yang menjual telur tersebut.
Semuanya hanya menjual telur ayam ras yang berwarna kecokelatan. Jenis telur lainnya yang dijual yakni telut itik, telur ayam kampung, dan telur burung puyuh.
Salah seorang pedagang telur di Pasar Rakyat Pelaihari, Rasmi, mengaku tak pernah menjual telur infertil. Alasannya karena telur tersebut tak boleh diperjualbelikan.
"Saya sudah 19 tahun jualan telur di pasar Pelaihari ini dan tak pernah jualan telur putih itu," ucapnya.
Ia menuturkan dalam sehari rata-rata laku 30 rak (isi 30 butir). Namun sejak musim covid-19 saat ini mengalami penurunan menjadi sekitar 20 rak sehari.
"Harganya ini agak naik, sekarang jadi Rp 23 ribu sekilonya., isinya bisa 16-18 butir. Sebelumnya Rp 19-20 ribu," sebut warga Desa Atuatu, Pelaihari, ini.
Sementara itu harga telur itik juga naik menjadi Rp 2.200 per butir dari sebelumnya Rp 2.000. Sedangkan telur burug putuh stabil yakni Rp 35 ribu per seratus butir.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tala Suharyo menegaskan telur infertil dilarang diperdagangangkan sesuai surat edaran pemerintah. "Saya sudah tekankan kepada semua perusahaan breeding di Tala agar tidak melepas telur itu ke pasaran," ucapnya.
Secara berkala pihaknya juga melakukan peninjauan ke pasar-pasar di Tala. "Alhamdulillah sejauh ini tidak ada telur tersebut diperjualbelikan di Pasar Pelaihari," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/rasmi-sibuk-melayani-pengunjung.jpg)