Jendela

Polisinya adalah Kita Sendiri

Setelah tiga bulan lebih kita menghadapi Covid-19, kini muncul dua sikap ekstrem.

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman. 

Editor: Royan Naimi

Oleh: Prof Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin 

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Kok tidak ada polisi yang menjaga?” kata ibuku, saat kami melintas gerbang perbatasan Kota Banjarmasin, Sabtu lalu. “Sekarang polisinya, ya kita sendiri Bu,” kataku sambil menyetir. Kami pun tertawa ringan. Selama pandemi ini, ibu yang sudah tergolong tua memang tidak keluar rumah kecuali penting sekali. Sabtu itu, kami menghiburnya naik mobil ke luar kota sekaligus ziarah ke kubur ayah.

Ketika seminggu lalu Banjarmasin, Banjarbaru dan Banjar menghentikan PSBB, sempat muncul harapan Kalsel akan memasuki normal baru. Namun ternyata, kasus positif terus bertambah, dan pada 4 Juni lalu sempat tertinggi di Indonesia dengan jumlah 109 kasus baru. Presiden Joko Widodo pun bersuara agar Kalsel bersama dua provinsi terparah lain, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, diberi perhatian khusus.

Setelah tiga bulan lebih kita menghadapi Covid-19, kini muncul dua sikap ekstrem. Ada yang amat takut keadaan akan semakin buruk, jumlah kasus terus bertambah dan fasilitas serta tenaga kesehatan angkat tangan. Akankah terjadi seleksi alam yang kejam, yakni hanya yang terkuat daya tahan tubuhnya yang bertahan, sementara yang lemah akan punah? Apakah Darwinisme biologis dan sosial akan terjadi?

Sebaliknya, ada pula yang sudah bosan bahkan muak dengan segala pembatasan selama ini. Tinggal terus-terusan di rumah dan tidak bisa mencari nafkah tentu membuat orang tertekan. Apalagi berita-berita di media konvensional dan media sosial masih didominasi kabar buruk seputar Covid-19. Lama-lama orang jenuh lalu apatis, tak mau tahu dan tak mau peduli. Ia ingin bebas, kembali seperti dulu.

Kita pun bertanya-tanya, mengapa hal ini terjadi? Kita tak mungkin menjawab tegas. Kita paling hanya bisa menduga-duga. Ada yang bilang, orang Banjar itu susah diatur (mucil). Pandangan ini sulit diterima karena bersifat esensialis, seolah ada hakikat diri orang Banjar yang selalu ada, yaitu bandel. Padahal, karakter manusia itu, apapun etnisnya, berbeda-beda dari orang ke orang, berkembang dan berubah.

Karena itu, mungkin lebih tepat jika dikatakan, yang terjadi di sini tidak berbeda jauh dari yang terjadi di tempat lain di Indonesia. Fasilitas dan layanan kesehatan kita memang masih kurang. Tenaga kesehatan kurang. Laboratorium dan alat tes kurang sehingga pemetaan lengkap tentang penyebaran virus ini sulit dilakukan. Tak jarang, orang sudah keburu meninggal dunia, baru kita tahu dia positif atau negatif. 

Ada juga yang bilang, kita ini ‘terlalu demokratis’. Cina dan Arab Saudi yang otoriter lebih bisa mengatur rakyatnya. Tetapi bukankah negara demokratis seperti Denmark, Jerman, Korea Selatan dan lain-lain juga relatif bisa menertibkan masyarakatnya? Sebaliknya, andai Cina tidak menyensor informasi dr. Li Wenliang tentang bahaya Covid-19 di awal mula kemunculannya, mungkin virus ini lebih bisa dilokalisir.

Karena itu, mungkin masalahnya adalah demokrasi kita memang belum benar-benar sehat. Demokrasi yang matang adalah perpaduan apik antara kebebasan dan penegakan hukum. Kalau hanya bebas tanpa ketaatan pada hukum, maka akan terjadi kekacauan, anarki. Kalau hukum negara saja yang ditegakkan tanpa adanya kebebasan rakyat, maka akan mudah terjadi penindasan terhadap hak-hak asasi manusia.

Salah satu modal penting dalam ketertiban masyarakat adalah kepercayaan. Antara lain akibat politik uang yang masih kuat, kepercayaan kepada penguasa pun rendah. Hal ini diperparah oleh kesenjangan sosial. Rata-rata pendidikan masyarakat kita baru setingkat SMP. Kaum miskin dan pengangguran masih banyak, sementara budaya masyarakat (kota) makin nafsi-nafsi, sehingga rasa saling curiga juga tinggi.

Menurunnya kadar kepercayaan itu tidak hanya terhadap otoritas pejabat dan aparatur negara tetapi juga terhadap otoritas tokoh agama. Meskipun MUI sudah memfatwakan tidak wajib salat Jumat dan tidak boleh tarawih berjemaah di masjid, sebagian orang tetap saja bandel. Ada yang didukung oleh tokoh agama lokal. Ada pula yang mencari fatwa tokoh agama yang dipilihnya di media sosial.

Di sisi lain, boleh jadi pula meningkatnya kasus positif Covid-19 di Banua menunjukkan bahwa Tim Gugus Tugas kita benar-benar bekerja. Mereka tidak hanya menangani orang-orang yang sudah terpapar, tetapi juga rajin melacak mata rantai penularannya, lalu melakukan pengetesan. Akibatnya, jumlah kasus pun tinggi, namun justru dengan itu, peta penyebarannya makin jelas dan mudah dikendalikan.

Alhasil, alih-alih menyalahkan orang lain, mungkin masing-masing kita turut bersalah. Sebagai anggota masyarakat dan bangsa, sedikit banyak setiap warga punya andil di dalamnya. Jika kita berharap semua kegiatan terkendali sesuai protokol kesehatan dan penanganan petugas sesuai harapan, maka polisi terbaiknya adalah diri kita sendiri!

Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved