Ekonomi dan Bisnis

Harga TBS Terjun Bebas, Kepala Disdag Kalsel Minta Pelaku Usaha Lebih Inovatif

Menyikapi anjloknya harga TBS Kepala Disdag Kalsel meminta pelaku usaha lebih inovatif untuk bisa memproduksi ragam produk baru berbahan dasar TBS

banjarmasinpost.co.id/achmad maudhody
H Birhasani, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sejumlah petani sawit di Sungai Kupang, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru menjerit karena tandan buah segar (TBS) sawit yang diproduksinya hanya dihargai Rp 970 perkilogram.

Mereka juga menyatakan harga TBS sudah tiga kali berturut-turut turun selama beberapa waktu belakangan, yaitu dari Rp 1.600 menjadi Rp 1.300 lalu Rp 1.170 dan saat ini hanya Rp 970 perkilogram.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel, H Birhasani juga tak menampik fenomena pelemahan harga TBS produksi perkebunan kelapa sawit di Kalsel.

Menurutnya, kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi karena faktor terjadinya perlambatan kinerja ekspor berbagai komoditi ekspor termasuk diantaranya sektor sawit.

Harga CPO Anjlok, Gapki Kalsel: Dipengaruhi Harga Nasional dan Global

Meningkatkan Produksi dan Produktivitas Kelapa Sawit di 2020, Petani Dapat Bantuan Dana

Karpet Merah untuk Kelapa Sawit, Kalsel Genjot Sektor Agro Industri di 2020

Hal ini kata H Birhasani juga merupakan salah satu efek dari pandemi Covid-19 yang saat ini menghantui hampir seluruh negara di dunia.

Termasuk diantaranya Tiongkok, India, Jepang dan Korea Selatan yang merupakan negara-negara tujuan ekspor utama komoditi asal Kalsel tak luput merasakan efek pandemi Covid-19 di sektor perekonomiannya.

Karena itu, permintaan akan produk dari berbagai jenis sektor komoditi tak hanya perkebunan sawit tapi juga sektor pertambangan dan hasil hutan di Kalsel otomatis ikut menurun.

"Sementara negara-negara tersebut kondisinya saat ini juga tidak luput dari pandemi Covid 19. Hal tersebut berakibat kinerja expor melambat, akibatnya produktivitas industri juga harus dikendalikan sesuai permintaan pasar. Ini berakibat permintaan bahan baku untuk produk sawit dalam hal ini TBS menurun," kata H Birhasani dikonfirmasi Banjarmasinpost.co.id, Rabu (10/5/2020).

Pada sisi lain, produksi TBS di Kalsel yang cenderung normal dan relatif tidak terlalu terimbas pandemi Covid-19 membuat jumlah komoditi ini melimpah di dalam negeri dan otomatis menekan harga jualnya.

Pandemi Covid-19, Gapki Kalsel Optimis Sawit Bertahan

Terdampak Pandemi Covid-19, Ekspor CPO Kalsel Menurun

"Sementara ketersediaan TBS dalam negeri melimpah, sehingga berakibat turunnya harga TBS," lanjutnya.

Selama masa sulit seperti saat ini, H Birhasani berharap para pelaku usaha hendaknya lebih inovatif untuk bisa memproduksi ragam produk baru berbahan dasar TBS dengan prinsip diverisifikasi sehingga tak terpaku hanya mengandalkan penjualan TBS saja. (banjarmasinpost.co.id/achmad maudhody) 

Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved