Breaking News:

Berita HSS

Jamin Api Tak Sampai Merambat, Warga Loksado Bakar ladang untuk Bercocok Tanam

Petani di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan kini bersiap melaksanakan tanam padi gogo di ladang. Yaitu di atas bukit-bukit di pegunung

Dokumen BPost
Petani di Desa Halunuk Kecamatan Loksado, HSS, panen setahun yang lalu di ladang mereka. Sudah menjadi tradisi, sebelum tanam, mereka membersihkan lahan dengan cara dibakar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Petani di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan kini bersiap melaksanakan tanam padi gogo di ladang. Yaitu di atas bukit-bukit di pegunungan Meratus. Sudah menjadi rutinitas, sebelum menanam, mereka melakukan pembersihan lahan dengan cara pembakaran. Meski hal itu dilarang, warga menyatakan tak bisa meninggalkan cara tersebut, karena sudah menjadi tradisi turun temurun.

“Pembakaran yang kami lakukan, pembakaran yang bertanggungjawab. Tidak ditinggalkan begitu saja, lalu apinya merambat seperti di lahan gambut. Kalau kami, sebelum dibakar tanaman di sekeliling dibersihkan dengan dipangkasi agar api tak menjalar. Saat membakar api dijaga, bersama pemilik lahan lainnya, secara gotong royong. Jikaa sudah bersih dan padam, baru ditinggalkan,”ungkap Yunus, petani dari Desa Halunuk, Loksado kepada banjarmasinpost.co.id, Selasa (8/9/2020).

Dijelaskan sejak Agustus 2020 lalu, pembakaran lahan sudah dilaksanakan, secara bergiliran dengan petani lainnya. Dengan membakar bergiliran dan bergotong royong, jelas Yunus bisa saling menjaga agar api tak menjalar ke lahan di sekitarnya.

Menurut Yunus, sulit bagi warga adat meninggalkan budaya membakar dan ladang berpindah. Masalahnya, tak ada cara efektif lain, untuk membersihkan kayu dan pohon-pohon berukuran besar.

Pengasuh Ponpes Pun Senang Asrama Santri di Almuradiyah Sudah DIrehab Pemkab HSS

APBD Perubahan HSS 2020 Menjadi Rp 1.210.425.821.000, Ini Harapan DPRD

“Kalaupun pemerintah melarang, harus ada solusinya buat kami. Kalau melarang tanpa solusi, sama saja membuat rakyat seperti kami kelaparan,”katanya.

Ditambahkan, warga petani Loksado umumnya mengetahui ada larangan UU. Sejauh ini, pihak pemerintah dan aparat penegak hukum sendiri sudah menyosialisasikan UU tersebut, dan menyampaikan imbauan tak bakar lahan.

Budaya membakar lahan sendiri, jelas Yunus sudah ada, jauh sebelum ada bencana kabut asap. “Zaman dulu nenek moyang kami bertani dengan cara seperti ini, tak ada bencana kabut asap,”katanya.

Rata-rata warga menanam bibit padi gogo, hasil panen tahun sebelumnya yang disimpan di lumbung. Satu bukit biasanya bisa ditabur bibit 10 gantang, yang menghasilkan 150 sampai 200 gantang padi.

Warga Adat sendiri jarang menanam padi untuk dijual, karena lebih banyak untuk konsumsi sendiri dan disimpan ssebagai bibit maupun untuk beberapa tahun ke depan.

“Kecuali yang berhumanya dalam jumlah banyak, bisa dijual ke luar Loksado,”katanya. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

 

Penulis: Hanani
Editor: M.Risman Noor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved