Breaking News:

Opini Publik

Hikmah Covid-19

Wabah pandemi Covid-19 yang kini mengguncang dunia adalah ciptaan Allah. Wabah ini terbilang sangat dahsyat. Daya tularnya sangat tinggi.

Oleh : Dra Hj Noorwahidah MAg Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - “RABBANA ma khalaqta hadza bathila, subhanaka faqina adzaban nar (Ya Allah, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka).” Inilah ucapan Ulul Albab ketika ia melihat makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini sebagaimana digambarkan Allah swt di dalam Alquran surah Ali Imran (3) ayat 191. Ulul albab adalah cendekiawan muslim yang memiliki dua karekater utama: Pertama, selalu ingat kepada Allah swt dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Kedua, selalu berfikir tentang penciptaan langit dan bumi.

Wabah pandemi Covid-19 yang kini mengguncang dunia adalah ciptaan Allah. Wabah ini terbilang sangat dahsyat. Daya tularnya sangat tinggi. Perkembangbiakannya pun sangat cepat dengan cara memecah diri, mereplika diri sendiri, dan sering bermutasi.

Pada saat artikel ini ditulis (20/9) data terakhir menunjukkan, 30.973.668 orang terkonfirmasi positif di 216 negara. Daya bunuhnya menggetarkan dunia, hampir 1 juta orang, yaitu 960.830 orang wafat karenanya, meskipun yang sembuh, alhamdulillah, cukup banyak, 22.569.415 orang (Kompas.com, 20/9).

Di Indonesia sendiri sampai Ahad, 20 September 2020, tercatat 244.676 terkonfirmasi, 57.796 kasus aktif, 177.327 sembuh, dan 9.553 meninggal dunia. Akibat yang ditimbulkannya pun luar biasa, bukan hanya kematian, tetapi juga tatanan kehidupan umat manusia dalam berbagai aspeknya nyaris porak poranda: politik, ekonomi, sosial budaya, bahkan kegiatan keagamaan. Semua harus “ditata ulang” jika ingin “aman” dari virus berbahaya ini.

Ribuan orang kehilangan pekerjaan, ribuan pedagang kehilangan pelanggan, ribuan pengusaha kehilangan rekanan, ribuan karyawan harus dirumahkan. Yang miskin bertambah miskin, yang menderita tambah menderita. Jerit dan tangis kelaparan bergema di mana-mana. Wajah-wajah murung, lemah, tak berdaya, menghiasi kehidupan sebagian masyarakat dunia.

Apakah dengan berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh covid-19 ini, keberadaannya tidak memiliki nilai positif sekecil apa pun? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Ulul Albab. Jawabannya sangat jelas, “Rabbana ma khalaqta hadza bathila (Ya Allah, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia).” Artinya, seburuk apa pun covid-19, di dalamnya tetap ada hikmah besar yang diberikan Allah swt. Siapapun yang mau mengambil hikmah itu, ia akan memperoleh keberuntungan. Hikmah itu sangat banyak, antara lain adalah sebagai berikut:

Membangun kesadaran akan kemahakuasaan Allah swt. Keberadaan covid-19 dapat menyadarkan umat manusia akan kemahakuasaan Allah swt. Virus ciptaan Allah swt ini sangat kecil. Menurut antaranesw.com (15/3/20), berdasar hasil penelitian Anthony R. Fehr dan Stenly Perlman yang dipublikasikan di situs Pusat Informasi Bioteknologi Nasional AS, diamater virus ini diperkirakan hanya 125 nanometer atau 0,125 mikrometer. 1 nanometer sama dengan 0,001 mikrometer dan 1 mikrometer sama dengan 0,001 milimeter. Dengan demikian, apabila diukur dengan milimeter, berarti diameter virus corona ini adalah 0,000125 mm atau 125 per satu juta mm. Makhluk sekecil ini mampu membuat dunia terguncang keras. Negara-negara superpower pun dibuat pusing. Senjata-senjata nuklir dan peralatan tempur tercanggih tidak berkutik melawan ciptaan Allah yang super kecil ini.

Mendorong kreativitas. Covid-19 mendorong umat manusia untuk kreatif dalam berbagai hal agar kehidupan tetap berjalan dan kesehatan tetap terjaga. Kreativitas ini muncul di semua bidang: ekonomi, politik, pemerintahan, sosial budaya, pendidikan, kegiatan keagamaan, dan lain-lain. Kreativitas tersebut memberikan dampak yang positif bagi kehidupan masyarakat karena dengan berbagai kreativitas itu, bukan hanya aktivitas kehidupan yang dapat berjalan, tetapi juga inovasi-inovasi baru bermunculan yang membuat dinamika kehidupan menjadi lebih variatif dan bermakna.

Membiasakan hidup bersih. Covid-19 memaksa orang untuk hidup bersih jika ingin selamat dari “amukannya”: Sering cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, ganti masker setiap empat jam sekali, lepaskan pakaian dan masukkan ke tempat cucian jika datang dari luar rumah, mandi apabila berinteraksi dengan orang lain di luar rumah, membersihkan alat-alat yang sering disentuh seperti HP, pegangan pintu, kunci, menyemprot barang-barang di rumah dan lingkungan dengan disinfektan, dll.

Menyadarkan arti penting kesehatan. Mungkin banyak orang yang kurang sadar akan arti penting kesehatan, apalagi jika ia tidak sakit atau tidak pernah sakit. Ketika Covid-19 datang dan “menyerang” jutaan orang dengan daya bunuh yang menakutkan, orang pun panik mencari “selamat” agar tidak terpapar wabah pandemi yang berbahaya ini. Individu yang terkonfirmasi positif segera berobat dan melakukan apa saja agar bisa sembuh dan terhindar dari kematian. Pemerintah pun mengucurkan ratusan triliun dana untuk percepatan penanggulangan wabah ini.

Banyak waktu kumpul keluarga. Kesibukan sering membuat orang tidak banyak punya waktu untuk keluarga. Bahkan, ada yang bertahun-tahun tidak sempat bercanda dengan anaknya sendiri. Ia berangkat kerja di pagi hari pada saat anaknya masih tidur dan tiba di rumah ketika anaknya sudah tidur. Allah kirim Covid-19 sehingga orang harus bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah. Waktu untuk kumpul keluarga pun sangat banyak, bukan hanya untuk bercengkerama, tetapi juga untuk shalat berjamaah, belajar, dan bekerja bersama.

Mengajarkan disiplin. Orang yang tidak terbiasa hidup disiplin, kedisiplinan menjadi barang langka baginya. Kehadiran Covid-19 mendorong orang untuk terbiasa disiplin dan konsisten dalam kedisiplinan: Disiplin memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak; disiplin bekerja, belajar, dan beribadah; disiplin memelihara kebersihan barang dan pakaian, dll.

Mendorong untuk melek IT. Sebelum covid-19 melanglang buana di berbagai negara, mayoritas karyawan yang bekerja, dosen/guru yang mengajar, mahasiswa/murid yang belajar, terbiasa dengan aktivitas manual dan tradisional. IT barangkali tidak tersentuh, bahkan tidak terpikir oleh sebagian mereka. Karyawan sibuk dengan rutinitasnya, dosen/guru memberi pelajaran langsung di depan mahasiswa/muridnya, dan mahasiswa/murid mendapat pelajaran dari dosen/gurunya dengan tatap muka. Ketika covid-19 “lahir” dan “menguasai” dunia, mereka semua didorong untuk melek IT. Mereka harus bekerja dan belajar dari rumah. Mereka tidak diperkenankan lagi bertemu muka secara fisik, sementara pekerjaan dan pembelajaran harus tetap berjalan. Dalam situasi dan kondisi semacam ini, mereka tidak punya pilihan, kecuali menggunakan IT.

Menjaga diri dan orang lain. Melalui covid-19 Allah swt mengajarkan umat manusia agar saling menghormati dan menghargai orang lain. Setiap orang diajarkan untuk menjaga diri sendiri dan orang lain agar tidak tertular dan tidak menularkan. Protokol kesehatan mengharuskan orang untuk memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. Semua itu dimaksudkan agar orang tidak tertular dan tidak menularkan virus berbahaya ini kepada orang lain. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah s.a.w., “La dharara wala dhirara (tidak mudharat dan tidak memudharatkan orang lain)” (Hadis Riwayat Ibnu Majah, ad-Daruquthni, dll). (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved