Breaking News:

Opini Publik

Pandemi Covid-19: Turbulensi UMKM

Turbulensi pada umumnya menimbulkan rasa tidak nyaman, tidak enak, karena kadang-kadang pesawat dalam kondisi yang tiba-tiba menciut turun drastis

Oleh: Titien Agustina (Ketua STIMI Banjarmasin)

BANJARMASINPOST.CO.ID - ISTILAH turbulensi lebih banyak dikenal pada dunia penerbangan. Ketika Anda bepergian menggunakan pesawat, pada suatu kondisi cuaca kurang bagus, pilot atau pramugari memberikan peringatan kepada seluruh penumpang untuk kembali ke tempat duduk dan memasang sabuk pengaman. Itulah sepotong kalimat yang memperingatkan seluruh penumpang agar bersiap-siap dalam menjaga dirinya dalam kondisi cuaca penerbangan yang ada kemungkinan terjadi goncangan dan perubahan frekuensi pesawat.

Turbulensi pada umumnya menimbulkan rasa tidak nyaman, tidak enak, karena kadang-kadang pesawat dalam kondisi yang tiba-tiba menciut turun secara drastis, sehingga kebanyakan penumpang akan mulai waswas, kuatir, lalu berpegangan tangan dan mulai membaca doa-doa yang bisa dilakukan. Itulah kondisi dalam pesawat ketika kondisi turbulensi terjadi. Penumpang maupun pilot tidak bisa mengontrol atau meminta agar jangan sampai terjadi turbulensi. Karena ini sudah diluar kontrol manusia.

Turbulensi Ekonomi

Bagaimana ketika turbulensi terjadi di ekonomi? Di Indonesia maupun negara lain tidak bisa terhindar dari goncangan serta ketidakpastian kondisi global yang utamanya disebabkan oleh normalisasi kebijakan di Amerika Serikat serta perang dagang di tahun 2019. Meski guncangan tidak terhindarkan, dunia usaha pertama-tama bisa melakukan yang namanya kembali ke tempat duduk. Analogi kembali ke tempat duduk ini oleh Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani, diartikan bahwa dunia usaha perlu melihat kembali perusahaan dan kondisi neraca. Artinya pengusaha harus melakukan identifikasi persoalan usahanya, evaluasi kemampuan dan segenap sumber daya yang dimiliki, serta melakukan langkah-langkah pengamanan terhadap jalan bisnisnya.

Anggito Abimanyu, dosen Universitas Gadjah Mada (2019) menyebutkan bahwa jika pada pesawat turbulensi biasanya disebabkan faktor eksernal maupun internal pesawat itu sendiri, maka pada kondisi turbulensi ekonomi, kondisinya serupa. Menurut Anggito terdapat tiga hal yang menyebabkan turbulensi ekonomi, yakni internal dan kebijakan pemerintah, dinamika poltik, serta eksternal dan kondisi perekonomian global.

Turbulensi dalam bidang ekonomi berarti kondisi perekonomian mengalami goncangan yang menyebabkan ekonomi menjadi tidak stabil. Namanya goncangan, maka perekonomian yang menjadi urat nadi kehidupan, membuat segalanya berjalan tidak normal. Perlu berpegangan tangan, perlu kerja sama, perlu bermitra, perlu tambahan kekuatan baru, perlu berdoa diantara ikhtiar yang dilakukan dan berupaya mempertahankan kondisi yang tidak nyaman tersebut. Artinya dituntut kekuatan dan kerja keras ekstra serta doa yang lebih keras lagi agar turbulensi ekonomi akibat Covid 19 ini bisa dilalui dengan baik dan selamat.

Perlu pengaturan dan pengelolaan ulang apa-apa yang sudah direncanakan dan dilaksanakan, mengingat kondisi tidak biasanya (darurat). Untuk itulah maka koordinasi, kerjasama, evaluasi, monitoring, pembinaan, pendampingan, dan segala jenis upaya untuk mempertahankan dan menjaga stabilitas ekonomi menjadi tugas berat sekaligus menantang. Baik bagi pemerintah dan perangkatnya, juga bagi masyarakat yang mendapat dampak langsung atau tidak langsung dari turbulensi ekonomi saat pandemi Covid-19 ini.

UMKM di Masa Pandemi Covid-19

Tidak jauh berbeda dengan kondisi perekonomian nasional dan global, maka UMKM sebagai bagian dari geliat ekonomi di akar rumput, adanya pandemi Covid-19 ini pasti membawa dampak yang tidak menyenangkan dan turbulensi bagi semua pengusaha (Besar dan UMKM). Semua terdampak, tanpa pilih. Kehidupan secara ub-normal terjadi dan setelah sekian bulan, masyarakat serta pengusaha sudah mulai menjerit. Hampir seluruh bidang kehidupan “melolong” panjang dengan kondisi pandemi Covid-19 ini, karena bila dikerucut semua bermuara pada keperluan biologis yang wajib dipenuhi, yaitu perut yang tidak lain adalah ekonomi.

Satu hal yang menjadi catatan ketika krisis moneter tahun 1998 dan krisis global tahun 2008 terjadi di dunia dan juga melanda Tanah Air, UMKM berhasil menjadi penyelamat perekonomian rakyat dan negara karena masih mampu beroperasi dan bahkan berkembang pesat ketika krisis berlangsung. Akankah pada masa pandemi Covid-19 ini kembali UMKM bisa menjadi penyelamat perekonomian rakyat dan negara?

Saat ini pandemi Covid-19 masih berlangsung, walau sudah memasuki era New Normal. Artinya Covid-19 belum berakhir sama sekali, tetapi masyarakat sudah bisa melakukan aktivitas kehidupan sosialnya di dalam berproduksi, berkarya, berjualan, berkomunikasi, berinteraksi, bertemu muka, rapat, dan aktivitas kehidupan rutin dan urgen lainnya. Semua bisa dilakukan dengan menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19, seperti mencuci tangan sesering mungkin, memakai masker kemana-mana dan dimana saja, serta menjaga jarak satu dengan yang lain.

Pengusaha UMKM telah melakukan yang terbaik untuk menyokong kehidupan dalam bidang perekonomian masyarakat. Banyak hal yang sudah dilakukan dan membantu kehidupan bisa terus berjalan dengan baik, walau tidak maksimal. Berdasarkan pengamantan di lapangan maupun di media sosial, pengusaha UMKM sangat progresif serta bisa menampilkan eksistensinya dalam turbulensi ekonomi masyarakat saat pandemi Covid-19 ini. Ini menunjukkan pengusaha UMKM adalah orang-orang yang tangguh, dapat diandalkan, kreatif, (Agustina, 2017) dan memiliki kapabilitas yang sangat baik sehingga di tengah ketidakpastian dan turbulensi yang terjadi, pengusaha UMKM bisa berbuat dan memberikan pelayanannya yang terbaik melalui kreativitas dan ketangguhannya dalam melayani kehidupan ini.

Itulah bedanya seorang wirausaha, di tengah kesulitan, goncangan, kendala bertubi-tubi, ketangguhan dan keandalan serta kreativitasnya menjadi tertantang dan teruji kualitasnya (Agustina, T.; Gerhana, 2020), menjadi Sumber Daya Manusia yang benar-benar menunjukkan entrepreneurial sejati. Sudah teruji, dalam situasi bagaimanapun bisa melihat dan membaca peluang, bahkan merebut kesempatan-kesempatan yang ada sebagai tantangan untuk selalu siap terus berkarya dan berprestasi (Agustina, Titien, 2017).

Hebat UMKM!!! Teruslah tingkatkan kualitas dan kapabilitas diri dengan mengasah kemampuan serta kreativitas (Agustina, 2020) di tengah turbulensi ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang kita semua belum tahu kapan akan berakhir. Rapatkan barisan, kencangkan ikan pinggang, kuatkan pegangan tangan, tingkatkan kualitas diri, kembangkan terus kreativitas dan inovasi, serta tak ketinggalan selalu berdoa kepada Tuhan YME agar bisa melewati masa turbulensi ini dengan baik dan selamat. UMKM Bisa tetap Survive dan Hebat! (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved