Berita HSS

Harga Kayu Manis Makin 'Manis', Petani Loksado HSS Pun Bersemangat Memanen

Harga kayu manis semakin membaik, Petani kayu manis di Desa Kamawakan, Haratai dan Loklahung, Kecamatan Loksado semangat memanen

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/hanani
Warga Desa Loklahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mengupas kulit bagian luar kayu manis sebelum dijemur untuk di keringkan, Rabu (28/10/2020) 

Editor : Hari Widodo

 BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Petani kayu manis di Desa Kamawakan, Haratai dan Loklahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan kini makin bersemangat memanen hasil kebunnya.

Sejak beberapa bulan, harga komoditas ini makin ‘manis’, berkisar antara Rp 63 ribu sampai Rp 65 ribu per kilogram di tingkat petani. Sedangkan harga di pasaran sendiri mencapai Rp 70 sampai Rp 75 ribu per kilogram.

 Irwan, pedagang pengumpun kayu manis di Desa Loklahung mengatakan, setiap minggu minimal menjual satu pikul atau 100 kilogram kayu manis yang dibeli dari petani di desanya.

Kemudian, dijual kembali ke pedagang besar yang datang langsung ke Loksado untuk di kirim ke daerah-daerah di Kalsel, hingga Kalimantan Utara.

Baca juga: Tak Hanya Obat Diabetes, Kayu Manis Juga Bermanfaat Atasi Peradangan

Baca juga: Tim BPDASHL Barito Tinjau Penanaman Kayu Manis di Desa Batu Bini Kabupaten HSS

Baca juga: KPH Hulu Sungai Dampingi Penelitian Skripsi Mahasiswa FEB ULM di Loksado, Teliti Ekonomi Kayu Manis

 Harga kayu manis sendiri terus membaik, selama masa pandemi.

Sebelumnya, menurut petani kayu manis harga perkilogram dikisaran Rp 53 sampai Rp 55 ribu per kilogram.

Hampir semua warga Loksado memiliki kebun kayu manis, paling sedikit 500 pohon per keluarga, yang ditanam di lereng pegunungan Meratus.

Khususnya di Desa Haratai, sepanjang jalan menuju objek wisata air terjun Haratai adalah kebun kayu manis.

 Hasmah, petani kayu manis dari Desa Loklahung mengaku memiliki 1.000 pohon kayu manis, yang sudah bisa dipanen tiap hari.

Pohon kayu manis ditanam sejak sekitar 10 tahun lalu. Sebelumnya, Hasmah menjadikan karet sebagai sumber mata pencaharian.

“Sekarang, sudah sembilan tahunan tak lagi menyadap karet, dan beralih ke kayu manis,”tuturnya.

 Menurut Hasmah, harga kayu manis cenderung stabil bahkan kadang tinggi. Berbeda dengan harga karet yang sejak harga anjlok sejak beberapa tahun lalu, sampai sekarang belum membaik atau masih terpuruk.

‘Sekarang informasinya harga karet sedikit naik, Rp 8.000 per kilogram, dari Rp 7.000. Tapi harga kayu manis lebih baik,”katanya.

 Abdullah, warga Loksado lainnya mengatakan, kayu manis kini menjadi sumber pendapatan warga Loksado.

Baca juga: Murah dan Mudah Didapat, Kayu Manis Bisa Jadi Obat Alami Atasi Diabetes, Berikut Cara Mengolahnya

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved