Breaking News:

Jendela

Charlie Hebdo dan Ekstremitas

Oktober 2020. Guru sejarah dan geografi sebuah sekolah negeri di Conflans-Sainte-Honorine, pinggiran kota Paris

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - 16 Oktober 2020. Guru sejarah dan geografi sebuah sekolah negeri di Conflans-Sainte-Honorine, pinggiran kota Paris, Samuel Paty, berusia 47 tahun, dibunuh dengan dipenggal lehernya oleh Abdoullakh Anzorov, remaja berusia 18 tahun, pengungsi asal Chechnya kelahiran Moskow yang mulai tinggal di Perancis pada usia 6 tahun.

Anzorov akhirnya dikejar polisi, dan ia tidak mau menyerah sehingga tewas ditembak polisi sampai sepuluh tembakan. Konon dia sempat berteriak ‘Allahu Akbar’.

29 Oktober 2020. Dengan pisau tajam sepanjang 30 cm, Brahim Aouissaoui, pemuda berusia 21 tahun asal Tunisia yang baru saja tiba di Perancis awal Oktober lalu, membunuh tiga orang di Gereja Notre Dame, Nice, Perancis. Mereka adalah pria berusia 55 tahun, perempuan berusia 60 tahun dan ibu tiga anak berusia 44 tahun. Ibu ini sempat berusaha menyelamatkan diri ke restoran terdekat, tetapi akhirnya meninggal. Perempuan berusia 60 tahun itu nyaris terputus lehernya. Menurut polisi, Aouissaoui masih hidup dan karena terluka ia dibawa ke rumah sakit.

Meskipun belum jelas apakah motif di balik kasus pertama dan kedua sama, anggapan publik Perancis umumnya cenderung sama, yaitu kartun-kartun yang melecehkan Nabi Muhammad. Kasus ini bermula pada 7 Januari 2015 silam, ketika kantor majalah satir Charlie Hebdo diserang beberapa orang bersenjata yang menewaskan 12 orang. Para penyerang itu akhirnya tewas di tangan polisi. Setelah lebih dari 5 tahun, awal September 2020 lalu, 14 orang yang diduga terlibat membantu para pembunuh itu diajukan ke pengadilan. Majalah Charlie Hebdo lantas menerbitkan ulang kartun-kartun Nabi Muhammad itu. Muncullah ketegangan.

Bagi redaktur Charlie Hebdo, dan sejalan dengan pandangan Presiden Perancis, Emmanuel Macron, penerbitan ulang kartun-kartun itu adalah kebebasan berpendapat yang dilindungi undang-undang. Sementara itu, bagi kaum Muslim, tindakan tersebut melukai hati umat Islam. Dalam pandangan Islam, Nabi Muhammad tidak boleh digambar, apalagi dalam bentuk gambar yang melecehkan. Pada 10 September 2020, Asma Barlas menulis di Aljazeera.com bahwa penerbitan ulang kartun-kartun itu bukanlah soal kebebasan berpendapat melainkan upaya menegaskan dominasi orang Perancis terhadap kaum Muslim imigran yang lemah, marginal dan rentan.

Kasus Samuel Paty juga terkait dengan Charlie Hebdo. Menurut laporan Adam Nossiter di The New York Times, ketika mengajari murid-muridnya tentang kebebasan berpendapat, Paty menggunakan kartun-kartun itu. Namun, sebelumnya, ia meminta para siswa Muslim untuk keluar kelas. Katanya, ia tidak ingin mereka tersinggung dan syok. Rupanya ada siswa Muslim yang bercerita kepada orangtuanya. Si orangtua kemudian membuat video dan diunggahke media sosial, mengkritik perilaku si guru (tanpa menyebut nama). Kepala sekolah kemudian mengirim email permintaan maaf kepada para orangtua siswa. Si guru juga meminta maaf. Namun, Anzorov yang hanya mengetahui kasus ini dari media sosial dan tinggal di daerah lain justru bertindak sadis.

Demikianlah ketegangan ini berlangsung. Pada satu sisi, orang bersiteguh dengan kebebasan berpendapat dalam sebuah negara sekuler, sehingga agama pun bisa dilecehkan. Di sisi lain, ada kaum beriman yang merasa terluka, namun bertindak sadis. Dua-duanya berlebihan dan melampaui batas.

Sejumlah kepala negara Muslim, termasuk Indonesia, mengecam sikap Presiden Perancis yang membiarkan penerbitan kartun-kartun yang melecehkan itu, dan pernyataannya bahwa Islam adalah agama yang mengalami krisis. Sebagian juga memboikot produk-produk Perancis. Namun, para ulama dan pemimpin di negara-negara Muslim juga mengutuk tindak kekerasan yang terjadi. Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan kekerasan seperti itu terhadap orang yang menghinanya.

Lantas mengapa Abdoullakh Anzorov dan Brahim Aouissaoui sampai sesadis itu, padahal Presiden Dewan Muslim Perancis, Mohammed Mousaoui, meminta kaum Muslim mengabaikan kartun-kartun itu? Mungkin karena minoritas Muslim imigran di Perancis umumnya masih miskin dan/atau mengalami diskriminasi. Mereka berasal dari negara-negara mantan jajahan Perancis seperti Aljazair, Maroko dan Tunisia.

Mereka dulu datang sebagai pekerja kasar. Sebagian mereka sudah hidup sejahtera, sebagian lagi masih miskin. Apalagi yang baru datang tanpa keahlian yang diandalkan. Akhirnya, sebagian menjadi kriminal atau tertarik pada radikalisme dan terorisme, khususnya anak-anak muda. Politik identitas yang menguat di Perancis hanya memperburuk keadaan ini.

Alhasil, ketika pendulum bergerak kencang ke kanan, maka ia akan kembali bergerak kencang ke kiri. Ekstrem sekuler akan memicu ekstrem agama dan sebaliknya. Apalagi jika diperparah oleh kesenjangan sosial yang berbaju identitas agama. Jika ingin damai, kembalilah ketengah, yang seimbang dan adil. Kasus Perancis bisa terjadi di mana saja, termasuk di Indonesia.(*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved