Berita Banjarmasin

LPMP Kalsel Gelar Rakor Kemitraan dengan Semua Disdikbud

LPMP Kalsel adakan pertemuan dengan pejabat Disdikbud se-Kalsel membahas dan mengevaluasi pembelajaran jarak jauh dan solusi di tengah pandemi.

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/ACHMAD MAUDHODY
Kegiatan rapat kordinasi (rakor) diselenggarakan LPMP Kalimantan Selatan melibatkan Disdikbud semua daerah di Hotel G'Sign, Jalan A Yani Kilometer 5, Kota Banjarmasin, Senin (14/12/2020). 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Meski di tengah kondisi pandemi Covid-19, tidak menghentikan upaya Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Kalimantan Selatan untuk terus meningtkatkan mutu pendidikan.

Buktinya, LPMP Kalsel menggelar pertemuan Kemitraan Penjaminan Mutu Pendidikan dengan Pemerintah Provinsi Kalsel, Senin (14/12/2020).

Kegiatan rapat kordinasi (rakor) yang diselenggarakan hingga Selasa (15/12/2020) ini digelar di Hotel G'Sign, Jalan A Yani Kilometer 5, Banjarmasin. Melibatkan, Disdikbud Kalsel dan Disdikbud dari 13 daerah.

Dalam Rakor ini, Kepala LPMP Kalsel Yuli Haryanto, mengakui, di tengah masa pandemi saat ini indikator penilaian peningkatan mutu pendidikan berbeda dan tidak bisa disamakan dibanding pada masa normal.

Baca juga: Sengketa Tapal Batas, Bupati Banjar dan Tala Akan Dipertemukan Pemprov Kalsel

Baca juga: Disdikbud Kalsel Siap Usulkan 5000 Guru Honorer Menjadi PPPK

Apalagi, kata Yuli, selama pandemi, proses belajar mengajar dilaksanakan melalui metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

"Contoh pembelajaran jarak jauh ini ibaratnya emergency exit. Kita tidak bisa menyamakan dengan pembelajaran tatap muka. Sangat susah disamakan. Karena sekali lagi ini, seperti emergency exit yang hanya dipakai di saat tertentu saja," kata Yuli kepada Banjarmasinpost.co.id.

Dari hasil evaluasi LPMP Kalsel, menurutnya aspek efektif dan efisien dalam pelaksanaan PJJ secara umum masih dapat dipertahankan.

Namun, diakuinya, aspek ketersampaian pesan dari pengajar terhadap peserta didik masih kurang maksimal.

Baca juga: VIDEO Kemenkumham Berikan Penghargaan kepada 10 Daerah di Kalsel

Baca juga: UPDATE Covid-19 Kalsel: Kasus Positif 14 Ribu Lebih, Total Meninggal 555 Orang

"Kegiatan webinar, zoom, online, tidak semaksimal dibanding tatap muka. Ibaratnya, materi terserap mungkin 50 sampai 75 persen, dibanding secara langsung," ungkap Yuli.

Meski demikian, kata dia, tetap ada beberapa hal yang bisa diambil menjadi pelajaran dari pelaksanaan PJJ saat ini, yaitu pemanfaatan teknologi informasi yang kemungkinan bisa lebih diintegrasikan di waktu yang akan datang.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Kalsel, HM Yusuf Effendi yang menjadi narasumber dalam pertemuan mengakui PJJ tidak bisa 100 maksimal diterapkan.

Hal ini, kata dia, disebabkan karena adanya keberagaman topografi Kalsel. Beberapa satuan pendidikan di Kalsel yang berlokasi di pegunungan dan kepulauan, mengalami kesulitan akses jaringan internet.

Baca juga: Waspadai Lanina Moderat, Pemukiman Terbuka di Kalsel Rawan Terjangan Angin Puting Beliung

Baca juga: Calendar of Event 2021 Resmi Dirilis, Dinas Pariwisata Kalsel Siap Gelar 84 Event

"Berdasarkan topografi, di Kalsel ada 4 karakteristik wilayah. Bahwa daring hanya 95 persen efektif karena ada satuan pendidikan yang lokasinya di kepulauan dan pegunungan kesulitan akses internet dalam pembelajaran daring," beber Yusuf.

Karena itu, Disdikbud Provinsi Kalsel kata Yusuf menyarankan satuan pendidikan yang kesulitan akses internet untuk melaksanakan alternatif pembelajaran selain daring.

Diantaranya dengan kunjungan guru ke rumah siswa atau siswa datang ke sekolah untuk mengambil modul serta penugasan untuk selanjutnya dikerjakan di rumah masing-masing.

(Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved