Breaking News:

Jendela

Aku, Rumi dan Mudik

Mudik adalah pulang ke asal. Mudik artinya berlayar ke udik, melawan arus, menuju asal usul sungai di hulu, dari mana air mengalir.

Editor: Hari Widodo
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID -

“TINGGALKAN kampungmu, dan jadilah kau orang asing. Musafirlah, niscaya kau dapati para pengganti orang-orang yang kau tinggalkan. Bekerja keraslah, karena kenikmatan hidup terletak dalam kerja keras itu.” Demikian penggalan terjemahan syair Imam Syafi’i yang pernah kupelajari di pesantren. Aku pun mencoba mengamalkannya. Merantau dari Amuntai ke Banjarbaru, Jakarta dan Bali hingga ke Kanada dan Belanda, dengan tujuan menuntut ilmu. 

Namun, sebagai manusia perantau, ada saatnya aku dirundung rindu kampung halaman. Minggu-minggu pertama di pesantren sungguh berat. Banyak kawanku seangkatan yang tak tahan berpisah orangtua, lalu pulang tanpa pernah kembali lagi. Setelah aku dewasa, rasa ingin pulang itu lebih terkendali. Untuk menghapus rindu pada keluarga, aku pulang kampung sebulan sekali atau lebih. Kadangkala aku juga menulis surat ke orangtua, paman atau teman-temanku yang jauh.

Ketika aku kuliah di Montreal, Kanada (1998-2000), isteriku tidak ikut, dan dia kutinggalkan saat hamil. Alangkah berat pengorbanannya. Ketika anakku lahir, aku dihubungi via telepon. Aku tidak bisa melihat wajahnya, hanya mendengar suara tangisnya. Aku baru bisa melihat wajahnya setelah isteriku mengirim fotonya yang lucu. Tapi apa mau dikata, rindu anak-isteri harus ditahan sampai studiku selesai. Sungguh bahagia sekali ketika aku bisa pulang, berhasil meraih MA. Seorang teman bercanda kepadaku, “Untung kamu tidak dipanggil ‘Om’ oleh anakmu!”

Ketika melanjutkan studi di Belanda (2001-2005), aku berhasil membawa anak-isteri. Kami jalani bersama suka-duka hidup di negeri orang. Namun, kerinduan pada keluarga tetap kuat, pada ayah-ibu dan adik-kakak. Biasanya sekali seminggu, kami menelepon mereka, menggunakan kartu pulsa khusus agar biayanya lebih murah. Tapi bagaimanapun, negeri orang bukanlah negeri sendiri. Ada kalanya, kami rindu desa dan Indonesia. Dalam suasana batin demikian, kami pun menyanyikan lagu “Desaku yang kucinta…”, juga “Indonesia tanah air beta…”, sebagai ungkapan rindu.

Rupanya, rindu kepada asal-usul adalah fitrah manusia bahkan alam semesta. Dalam pembukaan karya besarnya, Matsnawî Ma’nawî, Jalaluddin Rumi menulis, “Dengarkanlah seruling ini, betapa ia mengadu atas kisah derita keterpisahannya. Ia berkata, ‘Semenjak aku dipisahkan dari rumpun bambu, dalam lirihku, laki-laki dan perempuan menyahutinya.’ Aku menginginkan hati yang tercabik-cabik oleh derita keterpisahan, agar kututurkan derita keterpisahan. Siapa yang jauh dari kampung halamannya, suatu hari nanti akan kembali mencarinya.”

Namun, bagi kaum Sufi, rindu kepada keluarga dan kampung halaman sebenarnya hanyalah lapisan luar dari kerinduan yang lebih dalam dan sejati, yaitu kerinduan kepada asal segala asal, Tuhan Sang Pencipta, yang tiada henti mengalirkan rahmat dan kasih-Nya kepada kita. Tuhan sebagai wujud mutlak memang tak terjangkau, tak terpahamkan. Namun, kita dapat merasakan dan memahami tanda-tanda kehadiran-Nya dalam wujud diri kita, alam semesta dan kitab suci yang diwahyukan-Nya. Semakin kita sadar akan tanda-tanda-Nya itu, semakin besar pula kerinduan kita kepada-Nya.

Rindu pulang kepada Tuhan itu makin terasa maknanya bagi seorang pendosa yang bertaubat. Ada sesal menggumpal di hati, dan kerinduan ingin kembali mengikuti petunjuk-Nya. Dalam sebuah hadis diceritakan, seorang saudagar membawa onta penuh harta benda melewati padang pasir. Di tengah jalan dia kelelahan, lalu beristirahat di bawah pohon kurma hingga tertidur. Setelah dia terjaga, ontanya tadi menghilang. Dia mencarinya ke sana kemari, tetapi tak bertemu. Ia kelelahan dan tertidur lagi. Setelah terjaga, onta yang hilang tadi justru ada di hadapannya! “Ketahuilah, Allah lebih gembira terhadap hamba-Nya yang bertaubat dibanding kegembiraan saudagar itu,” kata Nabi.

Mudik adalah pulang ke asal. Mudik artinya berlayar ke udik, melawan arus, menuju asal usul sungai di hulu, dari mana air mengalir. Karena kembali ke asal adalah dorongan alamiah dalam diri kita, maka larangan mudik lebaran dua tahun terakhir ini tentu terasa berat bagi kita. Namun, kita harus menerimanya sebagai sesuatu yang sementara, sebagaimana kita berusaha menunda makan-minum di siang hari selama Ramadan hingga tiba waktu berbuka. Kita harus mampu menunda kepentingan pribadi dan jangka pendek, demi kepentingan orang banyak dan jangka panjang.

Lebih penting dari itu, krisis Covid-19 saat ini merupakan momentum bagi kita untuk kembali dan bertaubat kepada-Nya, menyingkirkan kesombongan diri dan mengalahkan keserakahan nafsu angkara murka. Kembali kepada-Nya adalah mudik yang sebenarnya. Bagaimanapun, maut pasti akan menjemput. Namun, ada manusia yang benar-benar siap mudik karena telah bertaubat dan berbuat baik, dan adapula yang tidak siap, karena diperbudak oleh nafsu dan perbuatan dosa. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved