Berita Banjarmasin

Btalk, Hubungan Tetap Harmonis Meski LDR Ternyata Ada Strateginya

Btalk, Tak sedikit pasangan suami istri baik yang sudah punya anak atau belum harus tinggal terpisah kota yang umumnya karena tuntutan pekerjaan. Isti

Penulis: Salmah | Editor: Edi Nugroho
Banjarmasinpost.co.id/aya sugianto
Btalk, Program BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa, Sabtu (26/6/2021) pukul 16.00 Wita, Long Distance Relationship dibahas bersama Aziza Fitriah MPsi, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin dipandu Host Edi Nugroho. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- Btalk, Tak sedikit pasangan suami istri baik yang sudah punya anak atau belum harus tinggal terpisah kota yang umumnya karena tuntutan pekerjaan. Istilah sekarang LDR atau long distance relationship. Untuk bertemu, mereka harus menempuh ratusan kilometer, menyeberang pulau, bahkan melintasi batas negara.

Nah, bagaimana caranya agar keluarga tetap harmonis meski dalam kondisi LDR? Apakah saling berkomunikasi dengan telepon sudah cukup? Atau harus bagaimana?

Pada program BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa, Sabtu (26/6/2021) pukul 16.00 Wita, hubungan keluarga LDR ini dibahas bersama Aziza Fitriah MPsi, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.

Perbincangan dipandu Jurnalis Banjarmasin Post, Edi Nugroho ini tayang live di Youtube Banjarmasin News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.

Baca juga: BTalk :Ternyata Ibadah Kurban Ada Sejak Nabi Adam

Baca juga: BTalk, Plus Minus Tato Alis Menurut Dokter Kulit Dwiana Savitri dari Banjarmasin

Baca juga: BTalk BPost : Jadi Pemicu Penyakit dari Strooke hingga Jantung, Waspadai Hipertensi Sejak Dini

Baca juga: BTalk, Sekjen BKPRMI Pusat Sebut Penghapal Qur’an Prioritas Masuk Perguruan Tinggi

lDijelaskan Aziza, ketika menikah maka ada dua kepala yang berkomitmen menuju tujuan yang sama. Keduanya harus punya visi ke mana bahtera dikayuh.

Btalk, Program BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa, Sabtu (26/6/2021) pukul 16.00 Wita, Long Distance Relationship dibahas bersama Aziza Fitriah MPsi, Dosen Fakultas Psikologi  Universitas Muhammadiyah Banjarmasin dipandu Host Edi Nugroho.
Btalk, Program BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa, Sabtu (26/6/2021) pukul 16.00 Wita, Long Distance Relationship dibahas bersama Aziza Fitriah MPsi, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin dipandu Host Edi Nugroho. (Banjarmasinpost.co.id/aya sugianto)

"Apakah punya anak atau belum, pastinya suami istri atau orangtua yang bekerja beda tempat mesti mengomunikasikan hal ini di awal," jelasnya.

Btalk, Program BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa, Sabtu (26/6/2021) pukul 16.00 Wita, Long Distance Relationship dibahas bersama Aziza Fitriah MPsi, Dosen Fakultas Psikologi  Universitas Muhammadiyah Banjarmasin dipandu Host Edi Nugroho.
Btalk, Program BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa, Sabtu (26/6/2021) pukul 16.00 Wita, Long Distance Relationship dibahas bersama Aziza Fitriah MPsi, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin dipandu Host Edi Nugroho. (Banjarmasinpost.co.id/aya sugianto)

Jadi harus ada kesepakatan mengenai hal tersebut. Bahas problem atau kemungkinan yang bisa saja terjadi saat nanti tinggal terpisah. Antisipasi apa saja yang bisa diatasi lebih dulu.

"Penting pula minta pendapat orang yang sudah berpengalaman dalam LDR. Nantinya akan banyak masukan pengetahuan bagaimana menjalin hubungan yang baik selama LDR," terang Aziza.

Selama LDR, media telekomunikasi berupa telepon sangat penting. Apalagi saat ini teknologi memungkinkan kita berkomunikasi tatap muka secara audio visual, sehingga bisa melihat dan berbincang langsung satu sama lain.

"Pola dan cara berkomunikasi jarak jauh itu penting untuk menjaga hubungan agar kedua pihak merasa dihargai, dicintai, diperhatikan. Begitu juga yang diinginkan anak-anak," papar Aziza.

Lanjutnya, setiap rumah tangga pasti punya tantangan. Tidak hanya yang LDR, keluarga yang tinggal serumah juga punya masalah yang kapan saja bisa terjadi.

Rumah tangga itu ada tahapan atau fase yang mesti dilewati. Satu tahun pertama adalah masa penyesuaian. Lanjut tiga, lima, sepuluh tahun berumahtangga biasanya akan ada badai.

Kematangan akan muncul jika mampu melewati fase perkembangan rumahtangga tadi secara tenang dan nyaman. Jadi kita mesti menyadari itu sebuah fase yang harus dilewati. Lewati dengan tetap berpegang pada cinta dan ingat bahwa saat menikah adalah juga janji kita kepada Tuhan.

Saat LDR memang ada tantangan lebih besar. Kepercayaan dan komitmen dengan kesetiaan, mengerti peran masing-masing, harus menjadi pegangan. Berusaha menghindari kecurigaan dan miskomunikasi.

"Jika bertelepon, pahami kondisi pasangan. Misal tidak menjawab atau terhubung tapi terlihat muram, sedih atau marah. Mungkin ada masalah di tempat kerja. Apakah baru dimarahi pimpinan atau hal lain. Upayakan tidak terbawa emosi. Sebaliknya kendalikan diri, karena mungkin saat itu pasangan kita lagi perlu difasilitasi. Kalau komunikasi saat itu tidak efektif. Biarkan dulu. Nanti hubungi lagi lain waktu, misal malam, saat kondisinya sudah tenang, baru bisa diskusikan apa yang sedang dialami," beber Aziza.

Selain antara suami dan istri, bagi yang punya anak maka perhatikan pula mereka. Apakah perkembangan anak terganggu dengan kondisi LDR? Hal itu tergantung beberapa hal, tapi pastinya akan memengaruhi perkembangan.

Sebab itu sedari awal anak harus dilibatkan, diskusikan dengan mereka, fasilitasi kemauan mereka, beri ruang berpendapat. Tentunya hal ini bisa dilakukan kepada anak remaja.

Misal keluarga kemudian bisa diajak serta ke kota tempat kita bekerja, tapi ada anak kita yang tak mau ikut. Biasanya itu terjadi pada anak yang sudah remaja. Maka cari solusi. Jika ada keluarga yang bisa dititipi maka ada kesepatakan denaan keluarga dengan tetap mensejahterakan anak.

Saat LDR sudah pasti ada rindu dan rindu itu ada dua, pertama rindu berkomunikasi secara formil melalui telepon dan rindu komunikasi langsung.

"Jadi saat bisa pulang, maka bertemunya harus ada kualitas. Manfaatkan waktu dengan baik bersama pasangan dan para buah hati. Berikan mereka kehangatan, keakraban, perlindungan," tandas Aziza.

Perlu pula ada evaluasi setelah satu atau dua tahun LDR. Apakah efektif atau tidak. Jika efektif bisa berlanjut, tapi jika tidak maka perlu dipikirkan lagi apakah cari kerja yang bisa tinggal satu kota atau keluarga ikut ke kota tempat kita bekerja.
-

Menyiasati Kebutuhan Biologis

Disadari bahwa saat LDR dan melakukan telekomunikasi akan ada kebutuhan yang tidak bisa melalui telepon, yaitu kebutuhan biologis, lantas bagaimana menyiasatinya?

Menurut Aziza, media telekomunikasi memang terbatas, ada kebutuhan yang tidak bisa secara tuntas. Jadi ada kebutuhan bisa tersubstitusi dan ada yang tidak.

"Bagi suami atau istri yang punya kebutuhan bilogis tinggi memang LDR bisa memicu konflik. Apalagi jika komunikasi secara emosi tidak berjalan baik, tidak terbuka, maka akan ada potensi masalah dan terjadi pemenuhan kebutuhan yang tidak tepat. Ini harus disadari dari awal," ungkapnya.

Jadi tidak hanya hal keseharian, juga perlu dibahas mengenai kebutuhan masing-masing. Sebab ada orang yang tahan lama merendam kebutuhan bilogis dan ada juga yang tak bisa menahan. Ini harus dipikirkan bagaimana mengekspresikan.

Godaan terbesar saat LDR adalah tidak mampu mengontrol diri. Apalagi situasi eksternal bisa jadi pemicu, godaannya ada yang ringan, sedang, besar.

"Banyak kasus adanya orang ketiga. Tapi itu juga bisa terjadi bagi keluarha yang tinggal satu rumah ada. Godan bisa menimpa suami atau bisa juga istri, keduanya sama. Makanya cinta, kasih sayang, harus selalu dirawat, dijaga, sehingga ketika ada godaan bisa dihindari," jelasnya.

Bagi yang LDR salah satu media menghindari konflik adalah bawa pasangan dan kenalkan dengan tempat kerja atau lingkungan kerja, misal saat family gathering. (Banjarmasinpost.co.id/salmah saurin HB).

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved