Fikrah

Perintah Salat

Salat adalah tiang agama Islam. Siapa yang mendirikan salat berarti dia telah membangun dan mendirikan agama Islam.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBAGAIMANA kita maklumi bahwa rukun Islam itu ada lima, yaitu: mengucap dua kalimat syahadat, mendirikan salat, membayar zakat, puasa, naik haji. Perintah salat dijemput oleh Nabi Muhammad Saw ke hadirat Allah Swt. Ini berbeda dengan perintah rukun Islam yang lainnya.

Nabi Muhammad Saw menerima perintah puasa melalui ayat Al-Qur’an yang turun dibawa oleh jibril AS kepada beliau. Yaitu firman Allah SWT, “ya ayyuhallazina amanu kutiba alaikumus siam. Artinya: wahai umat beriman diwajibkan kepadamu puasa Ramadan. (QS Al Baqarah 183). Perintah berzakat dengan firmannya: “ waatuzzakah. Artinya: tunaikan oleh kamu akan zakat.”

Kemudian, berhaji, dengan firmannya: “Walillahi `alannasi hijjul baiti manistata’a ilaihi sabila. Artinya: karena Allah lah diwajibkan berhaji bagi manusia, siapa yang mampu datang ke sana.” Kemudian di dalam ayat yang lain Allah berfirman, ‘Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillah’. Artinya: sempurnakanlah (kerjakan) karena Allah Swt.”

Salat adalah tiang agama Islam. Siapa yang mendirikan salat berarti dia telah membangun dan mendirikan agama Islam. Siapa yang tidak mendirikan salat berarti dia adalah telah merubuhkan agama Islam. Allah Swt memanggil Nabi Muhammad Saw dalam dua peristiwa besar yang terjadi terhadap diri beliau, yaitu Isra dan Mi’raj. Isra adalah di perjalankannya Nabi Muhammad Saw dari Makkah (Al Masjidil Haram) ke Al Masjidi Aqsa di Palestina.

Alangkah hebatnya Al-Qur’an. Berita dan informasi peristiwa Isra cukup melalui satu ayat Al-Qur’an di antara 6.236 ayat Al Qur’an itu. Kendati satu ayat, ayat ini memenuhi kriteria ilmu modern dalam membuat berita. Yaitu pertama what artinya apa yang terjadi. Yang terjadi adalah peristiwa Isra. Kedua when artinya kapan terjadinya. Terjadinya lailan artinya di waktu malam. Ketiga where artinya di mana terjadinya.

Terjadinya adalah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina. Keempat why artinya kenapa. Jawabannya adalah linuriyahu min ayatina. Artinya untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Kelima how artinya: mengapa jawabannya karena Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Adapun Mi’raj adalah dinaikannya Nabi Muhammad Saw kehadirat Allah Swt. Diriwayatkan, ketika Nabi Muhammad Saw sudah berada di hadirat Allah Swt, dengan suatu peristiwa yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan Nabi Muhammad SAW tidak menceritakan bagaimana keadaan itu karena tidak penting diketahui oleh ummat.

Laksana dipanggilnya seorang pejabat ketika menghadap presiden. Setelah pertemuan antara presiden dan pejabat yang dipanggilnya, para wartawan tidak bertanya tentang bagaimana pertemuan antara presiden dan pejabat itu terlaksana; yang penting untuk diberitakan oleh para wartawan adalah apa perintah presiden kepada pejabat itu dan untuk rakyatnya.

Nah, inilah yang diwajibkan Allah Swt adalah perintah salat lima puluh waktu. Diriwayatkan, pada ketika itu Nabi Muhammad Saw tersungkur di hadirat Allah SWT beliau berkata: ‘attahiyatul mubarakatus shalawathutthai batulillah. Allah menjawab asslamu’alaikaayyuhan nabiyuwarah matullahiwabarakatuh.

Artinya keselamatan kesejahteraan buat kamu wahai Nabi dan rahmat Allah Swt.” Nabi lalu menjawab; ‘assalamu’alaina wa’alaibadillahis shalihin. Artinya keselamatan dan kesejahteraan itu yang Engkau anugerahkan itu bukan buatku saja tetapi kepada seluruh kami hambamu dan hamba-hambamu yang saleh. Menurut riwayat, setelah Nabi Muhammad Saw menjawab dengan jawaban itu, lalu bersaksilah langit dan bumi, serta seluruh makhluk Allah dengan ungkapan; ‘asyhadu alla ilaha illallah muhammadurrasulallah. Artinya; aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad Saw adalah rasul Allah.”

Sesudah itu Allah memerintahkan kepada Nabi Mumamad Saw salat lima puluh waktu. Sesudah itu Nabi Muhammad Saw mundur dan turun dari hadirat Allah Swt.

Menurut riwayat, setelah Nabi turun beliau bertemu dengan Nabi Musa As. Nabi Musa As bertanya apa yang diperintahkan Allah. Dijawab kepadaku dan ummatku perintahkan salat lima puluh waktu. Nabi Musa As menyarankan kepada Nabi Muhammad Saw agar minta keringanan.

Karena ummatnya badannya besar-besar tidak mampu salat walau hanya dua waktu. Lalu Nabi Saw meminta keringanan kepada Allah Swt, bolak-balik sampaisembilan kali sehingga tersisa lima waktu.

Menurut sebagian ulama hal ini adalah merupakan berita israiliyat yang ditonjolkan oleh ummat Yahudi akan peran Nabi Musa, sehingga terkesan sepertinya Nabi Musa menonjol karena lebih pintar dari Nabi Muhammad Saw.

Padahal tidak demikian, perintahnya tetap lima puluh waktu tetapi tehnis pelaksanaannya hanya lima waku karena seorang muslim mukmin kebaikan yang dilaksanakannya bernilai sepuluh. Alhasanatu bi asyriamtsaalihaa. Wallahua’lam. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved