Breaking News:

Jendela

Bahagia Bukan Tujuan

Kebahagiaan seringkali diartikan terpenuhinya serbaneka keinginan yang tanpa batas, akibatnya, manusia menjadi egois dan tega menindas

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEORANG pemikir yang telah lama mencari kebijaksanaan, suatu hari berkata kepada murid-muridnya, “Dulu aku berpikir, tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. Sekarang aku mengubah pendapatku. Kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan akibat dari perbuatan baik. Mungkin inilah yang dimaksud hadis Nabi: ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.’ Yang bermanfaat adalah yang mendatangkan kebaikan, dan kebaikan adalah kebahagiaan.”

Menusia bekerja siang-malam, membanting tulang, menguras pikiran dan perasaan, demi meraih sesuatu yang dicita-citakan, yang dianggap kebahagiaan. Siswa dan mahasiswa rajin belajar dengan harapan akan lulus dengan nilai yang tinggi. Dengan modal nilai yang tinggi itu, dia berharap akan mudah mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang memuaskan. Dengan penghasilan itu dia dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginannya sehingga dia menjadi manusia bahagia.

Salahkah nalar di atas? Bisa ‘ya’, bisa ‘tidak’. Pokok masalahnya terletak pada makna yang kita berikan pada ‘bahagia’. Apa saja ukuran yang kita gunakan untuk ‘bahagia’ bagi hidup kita? Pertanyaan ini yang membuat manusia berbeda satu sama lain. Karena itu, sang pemikir kita tadi mulai meragukan pandangannya bahwa tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. Jika tujuan hidup adalah kebahagiaan, maka akan muncul keragaman tujuan hidup yang sangat mungkin bertentangan satu sama lain. Inilah yang menjadi pangkal konflik antar sesama manusia.

Mengapa orang mau berebut jabatan dengan menghalalkan segala cara? Mengapa pengusaha kaya juga ingin berkuasa? Mungkin karena dia menyangka, jabatan akan bisa dijadikan alat untuk meraih lebih banyak kekayaan, dan dengan kekayaan segala keinginan akan didapatkan. Kuncinya adalah ambisi untuk memuaskan keinginan, yang dimaknai sebagai kebahagiaan. Keinginan tidak sama dengan kebutuhan. Keinginan itu tak terbatas, sedangkan kebutuhan itu terbatas. Keinginan lebih dekat dengan keserakahan. Inilah pangkal dari konflik, penindasan dan penipuan dalam masyarakat.

Namun, bukankah setiap orang punya keinginan dan kebutuhan? Bagaimanakah caranya agar kebutuhan dan keinginan tiap orang tidak berbenturan? Manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa memenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, papan, pangan, keamanan dan pendidikan. Karena semua itu kebutuhan dasar, maka setiap orang memerlukannya. Pada prinsipnya, setiap orang dewasa bertanggungjawab atas kebutuhan dasar dirinya. Namun, karena tidak semua orang sanggup memenuhi kebutuhan dasar itu, negara dan masyarakat wajib membantu mereka yang lemah.

Ketika kita melihat pribadi sebagai bagian dari masyarakat, maka kita dapat melihat celah-celah kerjasama dan konflik. Jika solidaritas sosial tinggi, maka pemenuhan kebutuhan dasar, bahkan pemerataan kesejahteraan, akan dapat terwujud di masyarakat. Sebaliknya, jika masing-masing orang egois, mementingkan diri sendiri, apalagi jika mereka adalah pihak yang kuat dan berkuasa, maka mereka yang lemah akan tertindas dan menderita. Di sinilah kita temukan keinginan tanpa batas yang dianggap sebagai kebahagiaan justru menjadi pangkal penderitaan bagi orang lain.

“Berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan,” kata Alqur’an (QS 2:148). Mungkin inilah jawaban terhadap masalah musykil ini. Alih-alih tiap orang berambisi untuk bahagia dengan memenuhi kebutuhan dan keinginannya, ayat ini menganjurkan orang untuk berbuat baik. Kebaikan adalah sesuatu yang mendatangkan manfaat. Kebaikan itu mencakup kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan lingkungan. Kebaikan juga harus diwujudkan dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Semakin dekat hati seseorang dengan Tuhan, semakin banyak manfaat yang diterimanya. Kemanfaatan adalah kebaikan, dan kebaikan adalah kebahagiaan.

Demikianlah, jika tiap orang berusaha agar hidupnya bermanfaat, yakni mendatangkan kebaikan, maka kebahagiaan secara alamiah akan diraihnya. Ilmu dan keterampilan yang dipelajari seseorang tiada lain tujuannya kecuali untuk digunakan bagi kemaslahatan hidup manusia. Kekayaan yang diraih bukan untuk berfoya-foya, melainkan dimanfaatkan untuk melipatgandakan kebaikan. Kekuasaan yang didapatkan bukan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok, melainkan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, yakni kebaikan untuk orang banyak.

Alhasil, tiap orang ingin bahagia. Namun, kebahagiaan itu seringkali diartikan sebagai terpenuhinya serbaneka keinginan yang tanpa batas. Akibatnya, manusia menjadi egois dan tega menindas dan menipu orang lain. Di sisi lain, jika tiap orang berjuang agar hidupnya bermanfaat, maka dia akan berusaha mewujudkan berbagai kebaikan, bahkan berusaha memberikan yang terbaik bagi kehidupan. Pada saat kebaikan itu terwujud, di situlah ditemukan kebahagiaan. Tujuan hidup adalah mewujudkan sebanyak mungkin kebaikan yang membuahkan kebahagiaan. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved