Breaking News:

Berita HST

Sekolah di Desa Terpencil Datar Ajab Laksanakan PTM Dua Kali dalam Seminggu

Tak ada jaringan seluler dan akses jalan yang sulit dilewati membuat SDN 2 Datarajab di Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah kesulitan mel

Penulis: Hanani | Editor: Edi Nugroho
banjarmasinpost.co.id/hanani
Jalan menuju Desa Datar Ajab,Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Tak ada jaringan seluler dan akses jalan yang sulit dilewati membuat SDN 2 Datarajab di Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah kesulitan melaksanakan belajar daring.

Ditambah lagi tempat tinggal siswa yang terpencar membuat mereka kesulitan mengakses Pendidikan, jika ke sekolah hanya untuk mengambil dan mengantar tugas.

Alasan itu pula yang membuat sekolah di desa terpencil itu menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) dua kali dalam seminggu.

Imbin, Ketua RT 2 Rantau Parupuk, Desa Datarjab kepada banjarmasinpost.co.id mengatakan, jika dilarang PTM, anak-anak akan putus komunikasi dengan pihak sekolah. Apalagi, para orang tua mereka menginginkan tetap belajar di sekolah karena di desa mereka merupakan zona hijau.

Baca juga: Persiapkan PTM Terbatas, UIN Antasari Banjarmasin Data Mahasiswa Sudah Bervaksin

Baca juga: PTM Masih Berisiko, Ketua DPRD Tapin Sebut Keselamatan Peserta Didik Perioritas Utama

Baca juga: Sempat Tertunda, Disdik Kabupaten Balangan Kembali Usulkan PTM pada 26 Juli 2021

Baca juga: VIDEO PTM di HST, Posko PPKM Desa Bisa Ajukan ke Dinas Pendidikan

“Sejak pandemicovid kami tetap belajar, tapi hanya dua kali dalam seminggu. Di desa ini buru-buru ada jaringa seluler, jaringan listrik pun tidak ada.

Ditambah akses jalan yang sulit,”kata Imbin, yang juga guru honor di desanya itu. Menurut Imbin.

Dijelaskan, SDN 2 Datarajab ada di di desa induk Datar ajab, dengan jarak dari Rantau Parupuk, Bayuana dan Mangkiling sekitar dua kilometer. Anak-anak ke sekolah dengan berjalan kaki mendaki dan menuruni jalan yang sebagian tak beraspal.

“Jika dilarang ke sekolah, dikhawatirkan menurunkan semangat anak-anak maupun orangtua untuk belajar,”kata Imbin.

Sementara, Kepsek SDN 2 Datar AJab, Sapriansyah membenarkan, sekolahnya menggelar PTM dua kali dalam seminggu, karena permintaan masyaraat setempat serta tidak adanya jaringan seluler ditambah sulitnya akses jalan ke desa terpencil tersebut.

“Sekolah di pedalaman itu sangat berbeda situasi dan kondisinya dengan di desa lain. Kami harus membijaksanai dengan tetap masuk sekolah dua kali dalam seminggu, karena dikhawatirkan para orangtua menganggap sekolah sudah tutup,”kata Sapriansyah.

Disebutkan, saat ini total jumlah siswa aktif hanya 54 orang dari 60 orang yang terdaftar sebagai siswa. Enam orang lainnya, kadang masuk sekolah kadang ikut orangtuanya yang menggarap ladang di desa lain,”katanya.

Ditambahkan, kondisi yang sama dialami delapan sekolah terpencil lainnnya di Kecamatan Hantakan, yaitu di SDN Haruyan Dayak 4, SDN Haruyan Dayak 3 di Desa Aruhuyan, SDN Patikalain, SDN Cabai, SDN Pancurbungur dan SDN 2 Tilahan.

“Kami pernah menyampaikan kondisi seperti ini ke DIsdik, namun Disdik sendiri tak berani memberi kebijkan khusus agar sekolah di Desa terpencil yang masuk zona hijau belajar boleh PTM seperti biasa,”kata Sapriansyah. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved