Breaking News:

Opini Publik

Ikhtiar Lahir dan Batin Menghadapi Wabah Corona

Guru Bakhiet berbicara tentang pandemi covid-19 atau wabah corona. Isi ceramah beliau lugas dan sederhana serta lebih logis dan rasional.

Editor: Eka Dinayanti
Ikhtiar Lahir dan Batin Menghadapi Wabah Corona
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

Oleh: Ahmad Barjie B (Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel)

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM satu sesi ceramahnya di media online, KH Muhammad Bakhiet al-Banjari atau biasa dipanggil Guru Bakhiet berbicara tentang pandemi covid-19 atau wabah corona. Isi ceramah beliau lugas dan sederhana serta lebih logis dan rasional. Agak berbeda dengan beberapa pendapat lain yang sarat kontroversi dan membingungkan. Penulis merasa perlu mengutip ceramah beliau untuk lebih disebarluaskan melalui media cetak ini.

Menurut Guru Bakhiet, mencegah atau mengatasi wabah corona dapat dilakukan melalui dua cara atau usaha. Pertama, ikhtiar lahir yaitu mengikuti pendapat para ahli di bidang kesehatan. Termasuk dalam hal ini adalah menaati protokol kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun. Memakai masker dimaksudkan agar kalau ada virus pada badan kita tidak menular kepada orang lain, dan sebaliknya kalau ada virus pada orang lain tidak menular kepada kita. Ini sejalan dengan bunyi spanduk yang disebar oleh Satgas Penanggulangan Covid Kota Banjarmasin yang berbunyi “masker pian melindungi ulun, masker ulun melindungi pian”.

Menjaga jarak juga dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran covid, untuk sementara kita dianjurkan untuk tidak kontak badan seperti bersalaman. Menurut guru Bakhiet, bersalaman sejatinya bernilai sunnah, berpahala, menggugurkan dosa, namun karena saat ini sedang berjangkit wabah maka sebaiknya tidak dulu bersalaman apalagi sampai berpelukan, cipika-cipiki dan sejenisnya. Beliau menggunakan kaidah fiqih: dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (mencegah bahaya harus didahulukan daripada mengambil manfaat). Begitu juga mencuci tangan pakai sabun, dimaksudkan agar virus yang ada di tangan kita sehabis beraktivitas bisa mati karenanya.

Setelah usaha-usaha lahir ini dilakukan secara optimal, dilanjutkan dengan ikhtiar bathin, yaitu dengan banyak membaca doa, yang sudah diajarkan dalam agama, ada doa pagi, siang, petang, malam, subuh dan sebagainya. Kita minta perlindungan Allah dari bahaya wabah, baik untuk diri kita, keluarga kita, masyarakat, bangsa dan negara kita, dan juga untuk semua bangsa dan negara di dunia yang terancam bahaya ini.

Kalau ikhtiar lahir dan batin ini sudah dilakukan optimal, maka selanjutnya kita bertawakkal kepada Allah, karena Allah-lah yang menggenggam hidup dan mati kita. Apabila kita sakit, Allahlah yang mengobatinya, melalui berbagai usaha yang telah dilakukan, idza maridhtu fahuwa yasyfin. Dan kalau kita meninggal karenanya, berarti ajal kita telah tiba, dengan sebab wabah corona atau penyakit lainnya.

Tidak Pandang Bulu
Guru Bakhiet menegaskan bahwa apa yang dinamakan wabah atau pandemi sekarang ini bukanlah fenomena baru. Dulu hal yang sama pernah menimpa kaum muslimin. Sekitar tahun ke-18 Hijriyah, yaitu di masa pemerintahan khalifah ketiga Umar bin Khattab ra (12-23 H/634-644 M) pernah berjangkit wabah tha’un amawas, semacam penyakit colera yang berasal dari kota Amawas salah satu kota di wilayah Syam. Wilayah Syam saat itu cukup luas, mencakup Syria (Suriah), Lebanon, Israel, Yordani, dan Palestina sekarang, dengan ibukotanya Jerusalem atau Palestina.

Dalam setahun wabah ini menewaskan sekitar 30 ribu orang, termasuk beberapa orang sahabat utama seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Muaz bin Jabal, Fadhal bin Abbas dan lain-lain, beberapa di antaranya sahabat dekat Rasulullah saw yang dijamin masuk surga. Atas kenyataan ini Guru Bakhiet menegaskan bahwa korban suatu wabah bersifat general, tidak pandang bulu. Ia bisa menimpa siapa saja yang terkena. Apa kurangnya keulamaan, ketokohan dan ketaqwaan Abu Ubaidah, Muaz dan lainnya. Karena itu tidak mengherankan pula wabah corona sekarang juga banyak menimpa dan menyebabkan meninggalnya sejumlah tokoh, ulama, para dokter, doktor, profesor, artis, pengusaha dan sebagainya, di samping orang biasa.

Menurut Guru Bakhiet, saat itu belum ada obat antisipasi wabah seperti vaksinasi atau imunisasi seperti sekarang. Maka atas usul Amr bin Ash, dilakukan pencegahan dengan cara orang-orang tidak boleh berkerumun. Pada saat yang sama Khalifah Umar bin Khattab juga melakukan semacam karantina wilayah. Orang dari Amawas dilarang keluar, dan orang dari luar dilarang masuk ke Amawas.

Pendapat ini didukung oleh Abdurrahman bin Auf yang pernah mendengar Rasululah saw bersabda: “Jika kamu dengar wabah berjangkit di suatu daerah maka janganlah kamu datang ke sana, dan jika berjangkitnya wabah itu di tempat kamu berada maka janganlah kamu keluar buat melarikan diri daripadanya”.

Abu Ubaidah termasuk yang enggan menaati anjuran ini. Karena suatu tugas ia harus tetap masuk ke wilayah Syam, yang terkena wabah berjangkit, karena yakin bahwa kita tidak bisa menolak takdir Allah. Namun Umar tetap pada pendiriannya, bahwa kita tetap perlu berusaha, lari dari takdir Allah yang satu kepada takdir yang lain.

Akhirnya dengan disertai kedisiplinan dan doa yang sungguh-sungguh dari seluruh kaum muslimin saat itu, Allah kemudian mengangkat wabah tha’un ini setelah berjangkit selama sekitar satu tahun dengan jumlah korban tewas yang sangat besar.

Bukan Aib
Orang yang sakit atau meninggal akibat wabah ini, menurut Guru Bakhiet, bukanlah suatu aib yang harus ditutup-tutupi atau disembunyikan. Mereka sesungguhnya telah mati syahid, yaitu syahid akhirat, yang Insyaallah akan diberikan balasan surga di akhirat nanti. Sama dengan meninggal akibat wabah-wabah penyakit lainnya. Prosesi penyelenggaraan jenazah orang yang syahid akhirat tetap secara biasa; dimandikan, dikafankan dan dikuburkan, meskipun mungkin lebih cepat dan sederhana karena dalam suasana emergensi. Beda dengan syahid dunia, seperti tewas di medan perang fi sabilillah, mereka langsung dikuburkan bersama baju perang dan darahnya yang masih melekat, tanpa perlu dimandikan dan dikafani lagi.

Meninggalnya 30 ribuan orang di masa Khalifah Umar bukan jumlah yang sedikit, belum lagi orang tewas di medan perang atau penyakit biasa. Tentu cukup memukul kekuatan kaum muslimin. Namun pemerintahan saat itu tetap stabil dan negara dapat menaungi rakyatnya secara optimal dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. Di masa Umar ini boleh dikatakan tidak ada rakyat yang miskin dan kelaparan, semua terjamin terpenuhi kebutuhan pokoknya secara layak. Cadangan harta di Baitul Maal semua diprioritaskan untuk kebutuhan rakyat.

Pemerintah dan semua pihak diharapkan tetap bijaksana, dengan melaksanakan protokol kesehatan di satu sisi dan di sisi lain tetap memberi keleluasaan kepada masyarakat untuk menjalankan aktivitasnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan nafkahnya sehari-hari dan untuk bepergian yang bersifat darurat. Di masa pandemi ini seyogyanya pemerintah dan masyarakat tetap kuat dan bersatu untuk sama-sama bahu membahu menghadapi pandemi. Semoga dengan usaha lahir dan batin, wabah ini segera dihilangkan oleh Allah swt. Amin. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved