Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

PT Arutmin Terimbas Larangan Ekspor, Kesulitan Kirim Batubara Kalori Tinggi ke Luar Negeri

larangan ekspor batubara bagi 36 perusahaan dari Kementerian ESDM berimbas terhadap anak perusahaan Bumi Resources yakni PT Arutmin Indonesia

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
Ilustrasi- tambang batubara 

BANJARMASINBPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Adanya larangan ekspor batubara bagi 36 perusahaan dari Kementerian Energi Sumber Daya Minerba (ESDM) Satu di antaranya menerpa anak perusahaan PT Bumi Resources Tbk yaitu PT Arutmin Indonesia (Arutmin). 

Larangan ekspor ini, membuat produsen batu bara terbesar di Indonesia itu buka suara.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk, Dileep Srivastava, menjelaskan, pada dasarnya Arutmin telah memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) lebih dari 25% sampai dengan bulan Juli.

Akan tetapi berdasarkan penilaian Minerba, Arutmin belum memenuhi kontrak penjualan batubara dengan PLN sesuai dengan alokasi tahunan.

Baca juga: Limbah Batubara Dikeluarkan dari Limbah B3, BEM Se Kalsel Sambangi DPRD

Baca juga: Wisata Kalsel : Oranje Nassau Disebut Tambang Batubara Tercanggih dan Ramah Lingkungan di Eranya

Namun, Arutmin berpendapat telah memenuhi komitmen pengiriman bulanan kepada PLN sesuai dengan mekanisme kontrak Arutmin dan PLN yang disesuaikan kuantitasnya secara bulanan sesuai dengan kemampuan kedua belah pihak.

"Kita telah penuhi kebutuhan batubara PLN dengan mengirimkan secara bulanan," jelas Dileep dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (15/8/2021).

Dileep mengatakan, dengan pelarangan ekspor ini maka Arutmin tidak bisa mengirimkan batubara kalori tinggi (HCV) yang sudah terikat kontrak dengan pembeli luar negeri.

Baca juga: Penggunaan Dana Kompesasi Tambang Batubara di Kotabaru Dipertanyakan, Sekda Sebut Masih Perencanaan

"Batubara tersebut tidak dapat dijual di dalam negeri karena spesifikasinya tidak sesuai dengan kebutuhan PLN dan pembeli dalam negeri lainnya. Dampaknya Arutmin akan kehilangan pendapatan, potensi denda dan klaim dari pembeli," ujarnya.

Masih menurut Dileep, Arutmin juga akan terganggu kredibilitasnya di mata pembeli luar negeri dan akan berdampak pada penjualan batubara di kemudian hari.

(banjarmasinpost /nurholis huda)
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved