Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Obyek Wisata Kalsel Sepi Selama Penerapan PPKM, Pemandu Hilang Order

Dunia pariwisata sangat terpuruk sejak diberlakukan PPKM Level 3 dan Level 4 di Kalsel. Pemandu wisata pun turut terdampak

Penulis: Salmah | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Obyek wisata Arinaway di Desa Kiram Kecamatan Karangintan, Kabupaten Banjar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dunia pariwisata sangat terpuruk sejak diberlakukan PPKM Level 3 dan Level 4 di Kalsel.

Sejumlah pengelola obyek wisata lokal di Kalsel anjlok pendapatannya karena sepi pengunjung.  Pekerja jasa pemandu atau pramuwisata di Kalsel juga kehilangan order.

Sebuah fenomena yang ironis, selama 1,5 tahun pandemi ini berjalan, mengharuskan para pengelola obyek wisata maupun pramuwisata putar otak agar tetap ada pendapatan. 

Kondisi yang demikian memang diakui oleh Rezky Febrianor, owner wisata alam Baruh Bunga, Desa Haliau, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Baca juga: Tempat Wisata Ditutup Selama PPKM, Pedagang Kecil di Tanahlaut Kalsel Ini Sebut Hilang Pendapatan

Baca juga: Tempat Wisata Ditutup Selama Pandemi, Omzet Produksi Kerupuk Ikan Asal Batola Menurun

Baca juga: Semua Objek Wisata Tala Tutup hingga 23 Agustus, Dispar Turut Lakukan Pengawasan

"Pariwisata lokal memang lumpuh. Sejak awal Covid-19 yaitu Maret 2020 hingga sekarang kami kehilangan pendapatan," ungkapnya. 

Rezky yang juga Ketua Bidang Usaha Ekonomi, Asosiasi Pariwisata Alam Murakata  (Apam) mengatakan, sebanyak 10 obyek wisata yang tergabung dalam Apam semua sama kondisinya. 

"Awal pandemi lalu pada 2020 kami sudah melakukan pertemuan dengan wakil rakyat di DPRD Hulu Sungai Tengah. Alhamdulillah per Agustus 2020 boleh buka dengan syarat menerapkan Prokes, namun pengunjung turun 50 persen. Apalagi ditambah musibah banjir bandang pada Januari 2021 yang kemudian membuat pariwisata lumpuh total," beber Rezky. 

Saat PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), pengunjung kian turun hingga 70-80 persen. Tak bisa lagi seperti dulu yang setiap hari ramai pengunjungnya. 

Dulu itu sebelum pandemi pengunjung harian berkisar 80-100 orang. Bahkan saat akhir pekan dan libur nasional naik jumlah kunjungannya. Sekarang mendapat  20 orang pengunjung saja dalam sehari sangat susah.

Rezky mempekerjakan karyawan kontak, bukan part time, maka otomatis selama masa kontrak tetap mendapag gaji. Mau tak mau, antara pendapatan yang minim itu dengan bayar gaji, maka impas. 

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved