BTalk
BTalk, Peran Ulama di Hari Kemerdekaan
Wakil Ketua PCNU Banjarmasin, Suriani Amin, sebut di acara BTalk ulama kobarkan semangat juang melawan penjajah dan kini berjuang bantu pembangunan.
Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
Namun disadari bahwa perjuangan itu menemui kekalahan, bukan hanya karena soal persenjataan dan jumlah pasukan, tapi juga belum bersatunya para pemimpin sebab masih berjuang di daerah masing-masing.
Lantas, setelah lama terjajah, banyak tokoh Islam berjuang melalui jalur politik. Tatkala Soekarno dan Muhammad Hatta didaulat memproklamasikan kemerdekaan, sebelumnya mereka juga kordinasi dengan para ulama.
"Soekarno dan Hatta menemui Kyai Musa dan tokoh Muhammadiyah. Saat diminta tanggapan tentang kemerdekaan, kedua ulama tadi sepakat bahwa kalau tidak memerdekakan negara kita saat ini juga, maka negara ini baru bisa merdeka setelah 300 tahun lagi," papar Suriani.
Begitu juga ketika menemui pendiri NU, yaitu KH Hasyim Asy'ari, dan dijawab bahwa sudah bicara dengan pihak angkatan laut di Jepang dan menyetujui kemerdekaan itu.
"Proklamasi pada 17 Agustus itu bertepatan dengan 9 Ramadhan. Sebuah kemuliaan karena tanggal 17 juga mengandung arti 17 rakaat shalat fardhu sehari semalam dan sudah jelas bulan Ramadhan adalah bulan suci," jelas Suriani.
Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, banyak pula tokoh Islam dari Kalsel yang berjasa bagi negara, yaitu Brigjend Hasan Basri. pejuang yang alim dengan pengetahuan agama yang mendalam. Adapula KH Idham Chalid yang kemudian menjadi salah satu menteri.
Dalam mengisi kemerdekaan saat ini, Suriani menjelaskan, para ulama juga berperan mengajak masyarakat untuk mensyukuri kemerdekaan.
Salah satu bentuk syukur itu dengan memeringati kemerdekaan secara keagaamaan melalui majelis taklim, membaca Yasin dan tahlil untuk pahalanya dihadiahkan kepada para pahlawan.
"Mengisi kemerdekaan itu sebenarnya lebih berat dibanding merebut dan mempertahankan. Sebagaimana sabda Rasulullah usai perang Badar, bahwa setelah kemenangan itu bukannya tak ada lagi musuh. Sebab, kita masih akan menghadapi musuh yang lebih berat, yaitu hawa nafsu," papar Suriani.
Makanya, lanjut dia, jangan terlena. Terutama generasi muda, jika salah pengaruh, maka dampaknya merusak moral.
Baca juga: Program BTalk, Memaknai Ujian Pandemi di Tahun Baru Islam
Baca juga: BTalk, Kenali dan Antisipasi Penyakit Diabetes Melitus
"Mengisi kemerdekaan ini, mari kita terus tanamkan pendidikan agama kepada generasi muda agar mereka punya adab, punya aturan dalam hidup. Sebab, kata tokoh bangsa, kita ini banyak punya orang pintar, tapi kita kekurangan orang jujur," pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/waket-nu-banjarmasin-yang-juga-anggota-mui-kecamatan-banjarmasin-selatan-suriani-amin.jpg)