Breaking News:

BTalk

BTalk, Dekan FKIK UM Banjarmasin Solikin Sebut Banyak yang Fobia Dengar Proses Cuci Darah

Pasien yang harus cuci darah dan keluarganya jangan fobia menurut Dekan FKIK UM Banjarmasin Solikin di acara BTalk karena ini terapi penyembuhan.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/AYA SUGIANTO
Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Solikin Ns MKep SpKep MB, hadir dalam acara BTalk yang membahas tentang cuci bersama jurnalis Banjarmasin Post sebagai host, M Risman Noor, Selasa (31/8/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Cuci darah menjadi salah satu solusi untuk bisa tetap sehat dan menjalani hidup bagi orang yang sudah mengalami kerusakan ginjal.

Namun mendengar cuci darah, banyak bayangan menakutkan menghantui seseorang yang sudah divonis gagal ginjal.

Hal di atas diakui Solikin Ns MKep SpKep MB, Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin. Menurutnya, memang masih banyak yang fobia mendengar proses Cuci Darah

"Terjadi fobia sehingga membuat trauma duluan. Paling serih phobia itu adalah setelah cuci darah akhirnya meninggal, seolah cuci darah tak ada gunanya. Padahal ini bentuk ikhtiar dan umur itu rahasia Allah SWT. Bisa saja karena merasa sudah cuci darah kemudian gaya hidup dan pola makan tak terjaga, sementara metabolisme tubuhnya terganggu karena gagal ginjal. Akibatnya terjadi hal tak diinginkan," ujarnya. 

Ditegaskan Solikin, teknologi medis sekarang sudah canggih, jadi tak tak perlu fobia. Prosesnya aman dan banyak tenaga medis yang ahli di bidangnya. 

Baca juga:  BTalk : Kosim Sang Penjaga Meratus Kalsel

Baca juga: BTalk, Akademisi FKG ULM Galuh Dwinta Sari Ajak Orangtua Beri Perhatian pada Anak yang Suka Marah

Ia menyampaikan itu pada acara BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa Saja di kanal Youtube Banjarmasin Post News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook Bpost Online Selasa 31 Agustus 2021 pukul 16.00 Wita.

Pada acara yang dipandu Jurnalis Banjarmasin Post, M Risman Noor, tersebut, dijelaskan pula bahwa Cuci Darah dengan alat hemodialisa adalah merupakan terapi pengganti ginjal. 

"Hemodialisa dilakukan jika fungsi regular ginjal sudah minimal atau tidak berfungsi lagi. Jadi dengan alat cuci darah itu fungsi ginjal digantikan," terang Dekan FKIK UMB ini.

Fase Cuci Darah ada metode temporer atau sementara yang tak perlu operasi langsung untuk akses, melainkan penusukan langsung pada arteri atau vena. Posisinya antara lain di pangkal paha dan di antara antara siku. 

Kedua, metode permanen karena Cuci Darah harus dilakukan terus-menerus. Metode permanen ini ada dua cara, yaitu arteveri dan vena disambung dalam tubuh. 

Bincang tentang cuci darah di Program BTalk hadirkan narasumber Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Solikin Ns MKep SpKep MB, dipandu jurnalis Banjarmasin Post, M Risman Noor, Selasa (31/8/2021).
Bincang tentang cuci darah di Program BTalk hadirkan narasumber Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Solikin Ns MKep SpKep MB, dipandu jurnalis Banjarmasin Post, M Risman Noor, Selasa (31/8/2021). (BANJARMASINPOST.CO.ID/AYA SUGIANTO)
Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved