BTalk
BTalk, Cara Beri Pendidikan Seks pada Anak Menurut Sekretaris Himpsi Shanty Komalasari
Menjelaskan kepada anak tentang tema seks tidak harus detil, cukup sepemahamannya, menurut Sekretaris Himpsi Kalsel Shanty Komalasari di acara BTalk.
Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bagi sebagian orangtua, pendidikan seks tabu disampaikan kepada anak.
Padahal konten pornografi sudah bertebaran di dunia maya dan dengan mudah diakses oleh anak. Bagaimana sebenarnya cara yang tepat memberikan pendidikan seks kepada anak?
Sekretaris Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Kalimantan Selatan ( Himpsi Kalsel ), Shanty Komalasari MPsi, mengatakan, pendidikan seks itu penting.
Tujuannya adalah agar anak-anak memahami, namun harus disampaikan sesuai tahapan usia.
"Sejak dini harus diberikan pemahaman, ya paling tidak mulai usia kurang tiga tahun," ujar Shanty pada acara BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa Saja, Sabtu 4 Septemberi 2021 pukul 16.00 Wita.
Baca juga: BTalk, Cara Jitu Ajari Anak Cinta Al-Quran
Baca juga: BTalk, Dekan FKIK UM Banjarmasin Solikin Sebut Banyak yang Fobia Dengar Proses Cuci Darah
Program BTalk ini tayang live dan bisa disimak ulang di kanal Youtube Banjarmasin News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.
Pastinya, ditegaskan Sekretaris Himpsi Kalsel ini, pendidikan seks itu luas. Bukan hanya tentang hubungan seks, tapi tentang berbagai hal yang melingkupinya.
Lanjut Shanty, setidaknya ada tiga hal yang disampaikan dalam edukasi seks kepada anak. Pertama adalah tentang perbedaan, kedua adalah tentang peran dan ketiga adalah tentang fungsi.
"Nah, anak di bawah tiga tahun lebih pada pendidikan seks tentang perbedaan, yaitu perbedaan jenis kelamin atau gender, bahwa ada lelaki dan ada perempuan," papar Shanty kepada Anjar Wulandari, jurnalis Banjarmasin Post yang menjadi pemandu acara.
Kemudian juga sampaikan secara sederhana tentang peran ayah sebagai lelaki dan peran ibu sebagai perempuan. Memberi penjelasan itu tidak harus detil dulu, cukup sepemahaman anak saja.
"Saat jalan-jalan kemudian mau mampir sebentar ke toilet maka ajarkan tentang perbedaan ruang untuk lelaki dan perempuan. Karena mereka berbeda maka harus dipisah dan disekat ruangannya," jelas Shanty.
Misal lagi jika di rumah ada anak kucing, ayah atau ibu bisa jelaskan bahwa anak kucing itu ada karena punya ayah dan Ibu. Ini juga mengenalkan konsep perbedaan jangan dan betina.
Bagi anak yang sudah sekolah SD maka barulah perlu dan penting diedukasi yang sedikit lebih kompleks, karena ia sudah banyak mengenal lingkungan sekolah dan lingkungan bermain apalagi sudah mengenal gadget.
"Di masa remaja bisa dijelaskan antara lain tentang fungsi melahirkan dan menyusui. Orangtua bercerita kenapa orang bisa hamil. Fokus cerita itu adalah bagaimana mengantisipasi, meminimalisir kesalahan dalam pergaulan," terang Shanty.
Masa remaja itu fungsi seksualnya sudah mulai berfungsi, dan mereka sudah berinteraksi atau berteman dengan banyak orang. Kita harus menjaga anak lelaki maupun anak perempuan agar mereka dalam pergaulan.
Baca juga: BTalk : Kosim Sang Penjaga Meratus Kalsel
Baca juga: BTalk, Akademisi FKG ULM Galuh Dwinta Sari Ajak Orangtua Beri Perhatian pada Anak yang Suka Marah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/sekretaris-himpsi-kalsel-shanty-komalasari-tentang-pendidikan-seks-di-acara-btalk-sabtu-04092021.jpg)