Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Kepala Dinas Perindustrian Kalsel Mahyuni Sebut Pabrik Industri Baterai Akan Masuk

Kepala Dinas Perindustrian Kalsel, Mahyuni, sebut pabrik baterai produksi 10.000 ton per tahun oleh grup PT Sebuku Iron Lateritic Ores akan masuk.

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
TRIBUN JOGJA
ILUSTRASI - Investasi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID,  BANJARMASIN - Kehadiran perusahaan yang berinvestasi di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) diharapkan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Satu di antaranya adalah dari pabrik industri baterai dengan produksi sebanyak 10.000 ton per tahun oleh grup PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO).

Kepala Disperin Kalsel, Mahyuni, menjelaskan, perusaan yang berlokasi di Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, tersebut dapat memberikan keuntungan bagi berbagai pihak.

Dia pun berharap agar pihak terkait bisa memberikan dukungan bagi industri baterai  ini. Termasuk pada perguruan tinggi agar bisa mempersiapkan lulusan yang menguasai di bidang tersebut. 

Baca juga: Ekspor Kalsel Masih Didominasi Kelompok Bahan Bakar Mineral

Baca juga: VIDEO Webinar Ekspedisi di Banjarmasin, Lima Keperluan Masyarakat dalam Pengiriman Barang

"Karena, pembangunan pabrik baterai yang diperlukan itu ada di bidang teknik kimia, analis kimia dan otomatisasi permesinan,” ujar Mahyuni, Jumat (24/9/2021).

Disebutkannya, bahan utama pembuatan baterai itu adalah nikel dan kobalt yang berasal dari mineral untuk proses pengolahan besi. 

"Jadi, untuk mineral itu, sangatlah penting dengan adanya industri baterai. Mengingat, mineral tidak akan terbuang sia-sia menjadi limbah industri," ulasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Ir Nafarin, menyebut ada 3 investor dengan nilai modal besar.

Baca juga: Sektor Pendapatan Pajak Kendaraan dan Air Permukaan Dimaksimalkan Bakeuda Kalsel

Baca juga: Alami Kenaikan, Ini Penetapan Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit September 2021

Pertama, untuk kilang minyak di Kabupaten Kotabaru dari Uni Emirat Arab senilai Rp 5 triliun. 

Kedua, pengolahan limbah sawit untuk makanan ternak senilai Rp 5 triliun dari Jepang. Ketiga, pengembangan smelter di Kotabaru milik PT Silo Grup dengan nilai (PMDN) Rp 3 triliun .

"Harapan kami dari 3 investasi itu saja target sudah tercapai. Ke tiganya sudah hampir pasti terlaksana. Kami berharap januari ini sudah akan bergerak," kata Nafarin. 

(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved