Ekonomi dan Bisnis

Harga Karet pada Tingkat Petani di Kalimantan Selatan Menguat

Petani karet di Kalsel bersyukur harga di kisaran Rp 9 ribu. Disbunnak Kalsel minta petani gabung ke Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB).

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/MUHAMMAD TABRI
Poniran (45), petani karet sedang menyadap di kebun belakang rumahnya di Desa Sido Makmur, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan, Rabu (29/9/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Harga karet di tingkat petani Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) di angka Rp 8.600 hingga Rp 9.675. Harga ini meningkat, dibandingkan sebelumnya Rp 8.200 hingga Rp 9.200. 

Harga tersebut sebagaimana yang diumumkan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, per 18 Oktober 2021.

Menurut Alif, salah satu petani karet, Selasa (25/10/2021), harga saat ini dengan sebulan lalu tidak jauh berbeda.  "Ya Alhamdulillah, harga masih stabil di Rp 9 ribuan," sebutnya.

Sementara itu, dilansir Disbunnak Kalsel, harga karet tersebut masih bertahan di Rp 8.200 di tingkat petani dengan kualitas karet basah dengan K3 40 persen sampai 50 persen.

Baca juga: VIDEO Harga Karet Capai 10 Ribu Per kilo, Begini Harapan Petani di Batola

Baca juga: Kebun Karet DidugaTerdampak Air Limbah RSUD Balangan, Pemilik Minta Janji Ditepati

Sementara itu, harga karet basah setelah panen dari petani di pabrikan dengan K3 sebesar 53 persen sampai dengan 53 persen mencapai Rp 11.395 sampai dengan Rp 11.852.

Petani karet di Kalsel pun berharap harga terus membaik, mengingat pada pekan ini kenaikan pada K3 100 persen  tembus antara Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu.

Beragam hal jadi pemicu kenaikan harga karet. Di antaranya, ekonomi dunia mendorong perbaikan sales otomotif, berkurangnya pasokan karet dunia akibat penyakit gugur daun, serangan penyakit bercak daun (pestalotiopsis), spekulan karet, serta pemanfaatan karet untuk pembangunan jalan (aspal karet). 

Terpisah, Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, mengatakan, pihaknya mendorong mutu melalui upaya memperkuat Kelembagaan Petani Karet untuk bergabung dalam Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB).

Baca juga: Penyakit Gugur Daun Serang Tanaman Karet di Tabalong, Diduga Karena Jamur

Baca juga: Petani Loklahung Kabupaten HSS Kembali Bergairah Menyadap Karet, Harga Jual Membaik

"Dengan bergabungnya petani karet ke UPPB Bokar, maka mutu hasil karet rakyat menjadi bersih dan harga di tingkat petani menjadi meningkat," ucapnya.

(Banjarmasinpost/Nurholis Huda)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved