Breaking News:

Jendela

Melawan Fitrah

Menolak fitrah sama dengan menyakiti diri sendiri, sebaliknya, mengikuti fitrah mendatangkan kesehatan dan kebahagiaan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM Matsnawi, Jalaluddin Rumi memaparkan sebuah cerita tentang anak itik yang terlempar oleh badai, terhuyung-huyung di air hingga terdampar di tepi pantai, lalu dipelihara seekor ayam bersama anak-anaknya. Itik itu hidup tumbuh bersama bayi-bayi ayam tersebut. Namun si itik merasa heran, mengapa dia selalu ingin terjun ke air, tetapi ia takut dan ragu karena saudara-saudaranya tidak ada yang melakukannya. Demikianlah, kata Rumi, perumpamaan manusia yang rindu menjalani kehidupan ruhani tetapi tidak bisa melepaskan diri dari jerat-jerat dunia materi.

Melalui cerita di atas, Rumi tampaknya ingin menunjukkan kepada kita bahwa tiap-tiap makhluk tercipta dengan kecenderungan alamiah tertentu, yang asli, yang takkan berubah. Dalam istilah Islam, kecenderungan alamiah ini disebut fitrah, yakni kejadian asal dari penciptaan. Fitrah itik adalah berenang di air. Fitrah manusia adalah makhluk ruhani yang berjasmani, yang rindu kepada asal-usulnya yang sejati. Jasmaninya adalah kendaraan dalam perjalanan ruhaninya menuju ketinggian akhlak dan kesadaran ketuhanan. Namun, seringkali godaan kehidupan jasmaninya mencegahnya untuk terus melakukan perjalanan tersebut.

Fitrah manusia pada dasarnya suci bersih sehingga dia menyukai apapun yang baik, benar dan indah. Ketika kita membaca sebuah novel atau menonton film, kita akan secara alamiah menyukai tokoh-tokoh yang mewakili kebaikan dan kebenaran. Kita suka kepada pemeran protagonis, marah pada pemeran antagonis. Kita cinta pada tokoh baik dan benci pada tokoh jahat. Begitu pula, secara alamiah, kita suka pada pemandangan yang indah, paras yang cantik, wajah yang tampan, elok dan rupawan, sebagaimana kita mudah terbuai oleh suara yang merdu. Semua ini adalah fitrah kita, yang telah terpatri dalam diri kita, dan takkan bisa kita sangkal keberadaannya.

Namun sayangnya, karena dorongan-dorongan nafsu, keinginan-keinginan rendah, kita akhirnya rela menyangkal fitrah kita. Kita tahu dan sadar bahwa suatu perbuatan adalah melanggar hukum, moral dan nilai agama, tetapi kita tetap mau melakukannya. Kita tahu bahwa merusak hutan dan alam akan berakibat buruk bagi kehidupan flora dan fauna, termasuk manusia, tetapi kita tetap juga melakukannya. Kita sadar bahwa korupsi, menipu dan memfitnah adalah tindakan tidak terpuji, tetapi kita tetap tega melakukannya. Kita bahkan melakukannya bersama-sama, bersekongkol dan berjemaah. Kita kalah dengan bujukan nafsu yang serakah dan berorientasi jangka pendek.

Ketika nafsu mengalahkan fitrah yang baik, benar dan indah itu, maka kita tidak lagi benar-benar menjadi manusia. Seperti kata al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan, hakikat setiap makhluk adalah sesuatu yang tertinggi dan khas dalam dirinya. Keledai dan kuda itu berbeda. Meskipun sama-sama digunakan untuk mengangkut beban, kuda lebih unggul karena ia juga digunakan untuk perang. Nafsu memang bagian dari diri manusia, namun dia bukanlah unsur tertinggi dalam dirinya. Yang tertinggi dalam diri manusia adalah akalnya atau ruhnya, yang menentukan hakikat dirinya. Karena itu, manusia disebut lebih hina dari hewan ketika dia hanya memperturutkan hawa nafsunya.

Teori yang tampak abstrak di atas menjadi sangat nyata ketika kita perhatikan kenyataan sehari-hari. Tidakkah sering kita dengar orang mengatakan, “Ah, itu orang yang teriak anti-korupsi akan korupsi juga kalau diberi kesempatan.” Kemudian apabila ada orang yang mengingatkan agar jangan dilakukan suatu pelanggaran, reaksi yang muncul malah negatif. “Ah, itu karena dia belum dapat bagian saja.” Namun ketika ternyata ada orang baik dan teguh pendiriannya, tanggapan yang keluar masih saja negatif. “Dia itu aneh, tidak bisa bekerjasama” atau “Dia itu terlalu kaku, terlalu idealis, tidak berpijak di bumi dan tidak paham dunia politik.”

Namun, diam-diam, di lubuk hatinya yang dalam, dia tahu dan sadar bahwa yang baik adalah baik, dan yang jahat adalah jahat. Dia pun ingin menjadi baik, dan iri serta heran mengapa masih ada orang yang teguh berpegang pada kebaikan dan kebenaran. Hati nuraninya berteriak memprotes, mengapa dia tidak bisa dan tidak mau menjadi baik. Karena itu, demi membebaskan diri dari rasa bersalah, dia balik mencemooh orang yang teguh pendirian tadi. Akan lebih senang lagi jika cemooh itu dilontarkan secara berjemaah. Agar lebih puas, dicari-carilah kekurangan orang yang teguh itu untuk disalahkan sambil diam-diam menutupi aib sendiri.

Demikianlah, menolak fitrah sama dengan menyakiti diri sendiri. Jika tidak makan dan minum akan membuat tubuh kita sakit, maka menolak kebaikan, kebenaran dan keindahan akan membuat jiwa kita sakit. Sebaliknya, mengikuti fitrah akan mendatangkan kesehatan dan kebahagiaan. Ini berlaku dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih, menolak atau mengikuti fitrah itu, dan kita akan menanggung segala akibatnya! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved