Breaking News:

Jendela

Sulitnya Rendah Hati

“Rendah hati, yang dalam bahasa Arab disebut tawâdhu’ kadangkala dicemooh sebagai wujud dari sikap yang membawa kepada kemunduran

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SALAH satu kesenian Banjar yang saya sukai adalah Madihin. Konon, Madihin berasal dari kata ‘madah’ yang dalam bahasa Arab artinya pujian. Pujian itu ditujukan kepada tokoh yang hadir atau acara yang diselenggarakan, dalam tuturan syair yang dilantunkan seirama dengan terbang yang ditabuh oleh pelantunnya. Madihin biasanya juga menyampaikan pesan-pesan moral sekaligus lelucon yang menghibur. Belakangan, madihin tidak hanya disampaikan dalam bahasa Banjar, tetapi juga dalam bahasa Indonesia, sehingga bisa dipahami oleh penonton dari berbagai etnis.

Biasanya, seorang seniman Madihin memulai dengan lantunan doa yang khas, berupa panggilan kepada Tuhan, ilâhî, yang artinya, wahai Tuhanku. Seorang seniman Madihin bercerita kepada saya, pada saat mengucapkan kata ilâhî itu, dirinya selalu berusaha pasrah penuh kepada Allah. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Jika kepasrahannya itu tulus dan total, maka entah bagaimana kata dan kalimat syair nan indah meluncur-mengalir deras dari mulutnya. Sebaliknya, ketika muncul egonya, keakuan dirinya karena merasa hebat sehingga tak lagi pasrah total pada Allah, maka kata dan kalimat syair menjadi tersendat dan kurang berbobot.

Bagi sebagian orang, pengalaman sang seniman Madihin di atas, mungkin saja subjektif, berlaku hanya untuk orang itu. Apalagi bagi orang yang tidak percaya pada Tuhan, dan tidak mengakui adanya ilham dari alam transenden. Adapun bagi orang-orang beriman, pengalaman sang seniman justru berlaku dalam segala aspek kehidupan. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang kita makan, rumah yang kita tempati, keluarga dan sahabat yang menemani hingga seluruh alam semesta ini, takkan ada tanpa Dia. Bahkan diri kita, yang seringkali merasa ‘Aku’ yang hebat, takkan pernah ada di muka bumi ini kalau bukan karena Dia yang mewujudkannya.

Selain itu, kepasrahan total kepada Tuhan ketika seseorang akan mengerjakan sesuatu dapat pula dilihat dari sudut lain. Menurut berbagai penelitian psikologi, manusia cenderung berlebihan dalam menilai kemampuan dirinya sendiri. Dengan ungkapan lain, kita seringkali terlalu percaya diri, atau sebaliknya, merasa rendah diri. Sangat sulit bagi kita untuk menjadi diri sendiri yang apa adanya. Padahal, menjadi diri yang apa adanya itulah yang justru mempesona. Manusia sebagai manusia memiliki kesamaan sekaligus perbedaan. Kesamaan membuat kita dapat bekerjasama, sedangkan perbedaan membuat kita saling tertarik. Menjadi apa adanya membuat diri kita menarik.

Kepasrahan total kepada Tuhan yang dilakukan seseorang juga bisa dipahami sebagai pengakuan bahwa dirinya memang tidak sempurna. Bagaimana mungkin wujud relatif, yang keberadaannya terhubung dan tergantung pada yang lain, dapat sempurna? Yang relatif itu hanya akan mendekati kesempurnaan manakala dia ditolong oleh Yang Mutlak. Di sisi lain, yang relatif itu sudah ada dan terwujud berkat karunia-Nya, maka tidak mungkin dia tidak memiliki kebaikan dan keindahan sama sekali. Dua sisi ini penting agar manusia terbebas dari jebakan ekstrem: sombong di satu sisi, rendah diri di sisi lain. Hasilnya adalah, dia akan menjadi pribadi yang rendah hati.

Rendah hati, yang dalam bahasa Arab disebut tawâdhu’ kadangkala dicemooh sebagai wujud dari sikap yang membawa kepada kemunduran. Hal ini antara lain karena kita menyamakan sikap rendah diri dengan rendah hati. Rendah diri itu, sebagaimana sombong, tercela, sedangkan rendah hati itu mulia. Rendah hati itu berada di titik tengah antara sombong dan rendah diri. Rendah diri dan sombong itu subjektif, yakni berdasarkan penilaian pribadi yang berlebihan, sedangkan rendah hati itu objektif, yakni penilaian diri sebagaimana adanya. Yang dimaksud dengan ‘sebagaimana adanya’ di sini adalah pengakuan bahwa dalam tiap diri ada kelebihan sekaligus kekurangan.

Kini kita hidup di era media sosial yang memompa ego. Setiap orang tentu suka dipuji. Namun, apakah pujian itu pantas, dan apakah datang dari hati yang tulus? Media sosial telah memberikan peluang bagi tiap orang untuk menampilkan dirinya di ruang publik. Bagi orang yang kurang percaya diri, apalagi rendah diri, sarana ini mungkin dapat membantu menaikkan rasa harga dirinya. Namun, bisa pula sebaliknya, membuatnya tenggelam dalam penilaian diri yang berlebihan sehingga dia tambah rendah diri atau malah menjadi sombong. Lebih parah lagi, dia sibuk mencari-cari kekurangan orang lain, lupa akan kekurangan diri sendiri. Dengan mencela, dia merasa berharga.

Ternyata, tidak mudah menjadi ‘manusia apa adanya’, yang mengakui kekurangan dan kelebihan diri. Lebih-lebih di era digital ini, ketika fakta dan fiksi semakin kabur, yang nyata dan maya menjadi samar. Begitu sulit bagi kita untuk keluar dari perangkap subjektivitas. Bagi kaum beriman, pengalaman seniman Madihin di atas patut direnungkan. Masihkah kita ingat bahwa segalanya berasal dari karunia-Nya? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved