Breaking News:

Jendela

Lift Macet dan Omicron

Di negeri kita tercinta, suasana ketakutan dan panik sudah mereda. Kita mulai menikmati normal baru. Pertemuan dengan banyak orang sering dilaksanakan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Suatu sore di Madinah pada musim haji 2013. Saya bersama istri dan tiga orang lainnya, memasuki lift untuk turun ke lobi hotel. Tiba-tiba lift terhenti di tengah jalan alias macet. Kami semua panik. Namun, seorang pria berkulit hitam yang juga bersama kami dengan tenang menekan tombol komunikasi di dinding lift itu. Setelah beberapa kali tombol itu ditekannya, terdengarlah suara dari pihak hotel, “Ada apa?” “Kami terjebak dalam lift yang macet,” kata pria itu dalam bahasa Arab. “Baik, teknisi kami akan segera memperbaiki. Jangan khawatir.”

Suasana mencekam. Satu menit terasa satu jam. Pria berkulit hitam itu memandang saya sambil tersenyum. “Min Indonesia?” katanya dalam bahasa Arab. Kami mengiayakan. “Do you speak English?” tanyaku. Dia bilang, “Yes.” Akhirnya saya, istri dan dia mulai bercakap-cakap. Saya tanya apakah dia berasal dari Afrika. Dia mengangguk. “Dari wilayah yang jauh, tidak terkenal,” katanya. Saya langsung teringat film “God Must Be Crazy” yang berlatar budaya primitif Afrika. Saya tanya dia soal film itu, dan dia langsung tertawa. Kami akhirnya asyik berbincang tentang kelucuan dan kearifan yang terkandung dalam film itu hingga tak terasa lift beroperasi kembali!
Seumur hidup, baru sekali itu saya terperangkap dalam lift yang macet. Ada kecemasan yang tinggi ketika berada dalam ruangan sempit dan tidak tahu bagaimana caranya agar bisa keluar. Bagaimana jika pertolongan terlambat datang? Akankah kami kehabisan oksigen, kepanasan, kelaparan hingga pingsan bahkan mati? Secara naluriah, ada keinginan kuat muncul dalam diri kami untuk bertahan hidup. Kami tidak ingin mati konyol, apalagi mati sia-sia, meskipun kami tahu bahwa setiap orang akan mati dan bahwa kematian dapat datang tiba-tiba tanpa disangka, terlepas apakah kita siap menghadapinya ataukah tidak.

Barangkali suasana Covid-19, yang telah berlangsung hampir dua tahun ini, dapat dikiaskan dengan pengalaman kami tersandera dalam lift itu. Ada ketakutan, kepanikan dan kekhawatiran akan keselamatan diri. Ancaman virus ada di mana-mana, dan bisa saja tiba-tiba menjangkiti kita. Seluruh dunia dibuat ketakukan olehnya. Jutaan orang telah tumbang, dan rumah sakit sempat kewalahan menangani gelombang pasien yang terinfeksi. Segala biaya dan upaya dikerahkan untuk melawan musuh bersama ini. Protokol kesehatan diterapkan. Vaksin ditemukan dan vaksinasi digalakkan. Namun virus itu masih belum bisa dikalahkan. Varian Delta datang, dan kini ada varian Omicron.

Di beberapa negara, terutama di Eropa, varian Omicron makin mengganas. Pemerintah mulai menerapkan kontrol yang lebih ketat. Di sisi lain, di negeri kita tercinta, suasana ketakutan dan panik sudah mereda. Kita mulai menikmati normal baru. Pertemuan dengan jumlah banyak orang sudah sering dilaksanakan. Ada yang setia memakai masker, ada yang tidak. Ada yang sudah divaksin, ada pula yang belum atau tidak mau. Mungkin keadaan kita ini mirip dengan percakapan kami tentang film di lift yang macet itu. Kita berusaha melupakan, seolah-olah ancaman itu sudah tak ada lagi. Hidup harus dijalani dan dinikmati. Untuk apa pula terus-menerus cemas dan takut?

Namun, tak seorang pun dapat memastikan bahwa kita akan berhasil mengalahkan atau tepatnya hidup berdamai dengan virus ini dalam waktu dekat. Kekhawatiran tetap ada. Apalagi varian Omicron diketahui telah masuk ke Indonesia. Media melaporkan, setidaknya saat ini sudah ada tiga orang yang diidentifikasi terinfeksi varian ini. Akankah varian Omicron menyerang kita laksana varian Delta beberapa bulan silam? Entahlah. Semua sangat tergantung pada perilaku kita.

Libur Natal dan tahun baru di depan mata. Pemerintah terus mengingatkan agar kita menjaga protokol kesehatan. Namun, rencana penerapan PPKM 3 dibatalkan. Akankah gelombang kematian menerpa kita lagi?

Dalam pergumulan menghadapi Covid-19 ini, sadar atau tidak sadar, kita dihadapkan kepada masalah yang sangat mendasar, yaitu arti hidup dan mati. Kematian adalah sesuatu yang alamiah. Meskipun kadangkala mengejutkan, kita tidak bisa tidak harus menerimanya. Namun, kematian menjadi menakutkan manakala harapan masih ada untuk hidup. Kita ingin menunda kematian sejauh mungkin. Sementara kita berusaha menundanya dengan berbagai cara, kita juga harus menjalani hidup yang tersisa. Yang membedakan kita satu sama lain adalah cara menjalani hidup itu. Apakah diisi dengan amal kebaikan, keburukan atau kesiasiaan belaka?

Alhasil, ancaman Covid-19 adalah pengungkit kesadaran akan makna dan tujuan hidup. Mengapa kita lahir dan hidup di dunia ini, dan untuk apa? Bagi seorang ateis dan agnostik, hidup ini terlalu singkat untuk disiasiakan. Nikmatilah hidup selama napas masih ada. Adapun bagi kaum beriman, selain disyukuri dan dinikmati, hidup harus diisi dengan amal kebaikan karena kelak setelah mati kita akan mempertangungjawabkannya. Entah pintu lift yang macet itu terbuka kembali ataukah tidak, entah Covid-19 mereda ataukah tidak, masalah makna dan tujuan hidup ini takkan bisa dielakkan.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved