Breaking News:

Jendela

Di Tebing Mortalitas

Kita sibuk menilai orang lain, dan mengharap dinilai orang lain. Kita sibuk mengungkit aib orang lain, tetapi lupa menengok aib sendiri.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Minggu terakhir Desember 2021 sudah tiba. Tinggal menghitung hari, tahun pun akan berganti. Menjelang akhir tahun ini, kita perlu merenung dan memaknai apa yang telah kita alami. Secara pribadi, sangat baik jika kita melakukan introspeksi, yakni menilai dengan penuh kesadaran tentang pikiran, sikap dan perbuatan diri sendiri. Instrospeksi disebut juga muhâsabah, sebuah kata Arab yang berarti menghitung-hitung kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan.

Sampai akhir 2021 ini, sudah dua tahun wabah Covid-19 masih terus mengancam kita, dan para ahli pun tidak dapat memastikan kapan semua ini akan berakhir. Setelah para ilmuwan berhasil menemukan vaksin, dan di negeri kita vaksinasi mulai dilaksanakan pada Maret 2021, harapan kembali normal semakin besar. Vaksinasi itu secara perlahan membuka pintu untuk pembelajaran tatap muka di sekolah dan perguruan tinggi, memungkinkan bepergian menggunakan pesawat terbang dan menghadiri rapat dengan peserta yang lebih banyak. Namun kita tetap diminta untuk terus waspada, dengan menjaga protokol kesehatan secara ketat.

Selain itu, vaksinasi belum merata ke seluruh negeri. Target 70 persen mungkin belum bisa dicapai akhir tahun ini di banyak provinsi. Apalagi, virus Covid-19 begitu cepat bermutasi, dan kita mungkin kalah cepat. Setelah varian Delta, muncul lagi varian Omicron. Padahal, sudah sangat banyak tenaga, biaya dan pengorbanan yang dicurahkan untuk melawan virus ini. Sangat banyak dokter dan perawat yang tumbang, ekonomi menjadi loyo, pengangguran bertambah dan berlipat, hingga tekanan jiwa yang berat. Sementara itu, masih ada pula orang yang tega mengambil kesempatan di tengah kesempitan, entah mengorupsi dana Covid-19 atau melakukan bisnis terkait secara tak wajar.

Berbagai peristiwa seputar Covid-19 tersebut mengingatkan kita bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, manusia tetaplah manusia. Manusia adalah makhluk yang fana. Tidak ada seorang anak manusia pun yang hidup selamanya. Ilmu dan teknologi kesehatan yang canggih mungkin dapat menambah usia harapan hidup, tetapi takkan bisa mengobati semua penyakit atau penyebab yang membawa kepada kematian. Selain itu, manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan moral untuk memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Karena itu, kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, akan selalu ada dalam hidup manusia, entah Covid-19 ada ataukah tidak.

Kefanaan diri atau mortalitas adalah suatu fakta alamiah yang biasa terjadi setiap hari. Namun, kehadiran Covid-19 dan aneka musibah akibat perubahan iklim dan bencana alam, telah membuat kita semakin rentan. Maut begitu dekat dan dapat merenggut siapa saja. Kesadaran akan kefanaan diri ini kiranya sangat penting dibangkitkan di akhir tahun ini. Sudah dua tahun pandemi berjalan, dan sudah banyak orang yang kita kenal dan tidak kita kenal dijemput maut, sementara kita ternyata masih hidup dan sehat. Karena itu, kita harus bertanya pada diri sendiri, bagaimanakah hidup selama ini kita isi dan jalani? Apa pula yang akan kita lakukan ke depan menjalani usia yang tersisa?

Pertanyaan bagaimana kita telah menjalani hidup di atas berhubungan erat dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan moral. Di masa pandemi ataukah tidak, manusia di muka bumi ini akan melakukan pilihan-pilihan moral yang berdampak pada kehidupan mereka sebagai pribadi ataupun masyarakat. Di akhir tahun ini, sudah selayaknya kita sama-sama bertanya, apakah yang telah kita pikirkan dan lakukan termasuk kebaikan atau keburukan, kebenaran atau kebatilan? Apakah kita mendukung orang-orang baik dan benar atau malah mendukung yang sebaliknya? Apakah waktu kita manfaatkan sebaik-baiknya atau kita biarkan berlalu dalam kesiasiaan?

Anjuran untuk mengingat kefanaan diri dan tanggungjawab moral di atas terasa semakin penting di era media sosial saat ini. Sadar ataupun tidak, akibat media sosial, kita mulai menjauh dari introspeksi atau muhâsabah. Kita jarang melakukan penilaian terhadap diri sendiri. Yang sering terjadi adalah, kita sibuk menilai orang lain, dan mengharap dinilai orang lain. Kita sibuk mengungkit aib orang lain, tetapi lupa menengok aib sendiri. Kita sangat tergantung pada jumlah klik suka dan komentar di media sosial untuk menilai diri sendiri. Kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak jumlah pujian yang diberikan orang kepada kita, padahal boleh jadi pujian itu pura-pura belaka.

Alhasil, akhir tahun adalah momentum untuk kembali kepada hakikat diri kita sebagai manusia, yang fana sekaligus bertanggungjawab secara moral. Alih-alih sibuk menggosip apalagi menghina orang lain, atau sibuk menghitung jumlah like dan komentar di media sosial, lebih baik kita terus-menerus berusaha membenahi diri agar dapat mengisi usia yang tersisa dengan amal kebaikan. Semoga!. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved