Breaking News:

Jendela

Hamka dan Homo Digitalis

Ketika mesin komunikasi canggih yang diciptakan manusia justru merendahkan manusia, maka sudah saatnya kita kembali kepada kearifan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada 27 Januari 1964, bertepatan dengan 12 Ramadan 1385, ulama-pujangga, Hamka ditangkap aparat keamanan. Dia dituduh berkhianat, menjual negara kepada Malaysia. Siang malam, selama 15 hari, Hamka diinterogasi, dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukannya. Hamka benar-benar terpukul. Sempat setan membisikinya untuk menggunakan silet yang ada di sakunya, untuk bunuh diri, memotong urat nadi. Namun, dia ingat, dalam bukunya Tasawuf Modern, ia menasihati pembaca agar hidup sabar dan tawakkal. Mengapa dia sendiri tidak mengamalkannya? Hamka akhirnya membaca buku karangannya sendiri, untuk menasihati dirinya sendiri!

Kisah di atas ditulis oleh Hamka sendiri dalam Kata Pengantar cetakan ke-12Tasawuf Modern tahun 1970.
Kisah tokoh ini adalah cermin bagi kita. Ternyata tidaklah mudah menjaga integritas, yakni satunya kata dengan perbuatan. Lebih tidak mudah lagi bagi orang besar seperti dirinya. Semakin tinggi kemuliaan, semakin berat pula ujian. Sebagai ulama-pujangga, dia dituntut untuk menyampaikan kebenaran dan kebaikan secara lisan dan tulisan. Dia diharapkan menjadi pembicara publik yang fasih sekaligus penulis yang memukau. Tak hanya itu, dia pun harus menjadi teladan dalam mengamalkan apa yang dikatakan dan ditulisnya.
Kisah Hamka terjadi 58 tahun silam, di abad ke-20.

Ketika itu belum ada internet dan media sosial. Media elektronik yang populer baru radio, sementara televisi hitam-putih masih sangat terbatas. Media cetak seperti koran, majalah dan buku masih merajai dunia. Hamka dikenal dan terkenal karena media cetak modern itu, di samping ceramahnya di Radio RRI. Buku Tasawuf Modern sebenarnya adalah kumpulan tulisannya yang terbit berseri di Majalah Pedoman Masyarakat yang diasuhnya. Kebetulan pada 1930-an, kelas menengah mulai tumbuh dan memerlukan bacaan yang mencerahkan jiwa. Hamka tampil mengisi kekosongan ini melalui tulisan-tulisannya.

Kini kita berada di era yang berbeda. Kita sudah memasuki 2022, ketika internet dan ponsel menjadi sarana komunikasi yang paling populer. Jika dulu untuk menerbitkan tulisan tergolong sulit karena media yang tersedia sangat terbatas, maka sekarang setiap orang bisa menerbitkan tulisan, foto dan videonya dengan mudah di media sosial. Jika dulu informasi publik yang tersedia melalui media sangatlah terbatas, maka sekarang justru berlimpah ruah bagaikan tsunami. Jika dulu setiap tulisan diseleksi dan disunting oleh redaktur dengan cermat sebelum diterbitkan, maka sekarang seleksi dan penyaringan itu tidak ada lagi. Kriteria baik-buruk, benar salah, tergantung pada penulisnya sendiri.

F. Budi Hardiman dalam Aku Klik Maka Aku Ada (2021) menegaskan bahwa revolusi teknologi komunikasi dan informasi saat ini tidak sekadar mengubah cara kita berhubungan satu sama lain, melainkan lebih dalam lagi, yaitu cara kita melihat hakikat diri kita sebagai manusia. Kita menjadi homo digitalis, yang terperangkap menjadi satu unsur dari mesin besar komunikasi, dan baru merasa ada jika hadir di media sosial, sekaligus gamang membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Homo digitalis hidup bersama pesan-pesan yang kadang kala tanpa tuan, tetapi berhasil memprovokasi publik. Pesan-pesan itu bahkan membuat masa lalu, kini dan nanti menjadi kabur.

Begitu mengerikan, bukan? Homo digitalis dapat menjelma menjadi homo brutalis. Teknologi digital dapat membuat orang menjadi brutal, melalui pesan-pesan yang diciptakan dan disebarkannya. Yang diupayakannya sekadar mengejar viral, merebut perhatian publik, atau mendapat bayaran dari pihak tertentu tanpa peduli akan akibat buruk yang ditimbulkannya. Tidak seperti media cetak dan elektronik dulu, media sosial saat ini benar-benar bebas dan seringkali kebablasan, sehingga ungkapan-ungkapan kasar dan ujaran kebencian bertebaran dimuntahkan tanpa rasa takut dan malu. Bahkan, ada pula pesan yang dibuat karena iseng, main-main saja. Begitu mudah jemari menulis dan mengklik tanpa berpikir panjang tentang akibatnya.

Karena itulah, ketika mesin komunikasi canggih yang diciptakan manusia justru merendahkan manusia, maka sudah saatnya kita kembali kepada kearifan yang tercermin dalam kisah Hamka di atas. Pertama, setiap pesan yang kita ciptakan dan sampaikan harus mengandung kebaikan dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Semua orang tentu menyadari bahwa mengamalkan kebenaran dan kebaikan tidak semudah menulis dan mengatakannya. Namun pokok soalnya bukan di situ. Pada era media sosial ini, pesan kadang kehilangan subjek pembuatnya sehingga tanggungjawab moral mengenai integritas mudah dilupakan dan terabaikan.

Kedua, kisah Hamka menunjukkan bahwa pesan-pesan yang beredar, dituturkan, ditulis dan dibaca seharusnya menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam menjalani hidup. Pesan bukan asal pesan. Pesan harus mengandung kebaikan dan kebenaran, yang dalam satu kata disebut ‘kebijaksanaan’, hikmah atau wisdom. Orang Yunani menyebutnya sophia. Kata ini digabung dengan philos menjadi ‘filsafat’ yang berarti cinta akan kebijaksanaan. Karena itu, baik pencipta atau penyimak pesan, seharusnya memiliki gairah yang sama, yaitu mencari kebijaksanaan hidup. Jika semangatnya demikian, maka siapapun yang menyimak, termasuk pembuatnya, akan tergugah dan terinspirasi.

Alhasil, ketika menciptakan dan mengirimkan pesan, atau berselancar di dunia maya, menatap dan menyimak pesan-pesan di layar ponsel, semangat yang muncul dalam diri kita selayaknya adalah keinginan untuk mendapatkan kebijaksanaan hidup dan mengamalkannya. Dengan cara inilah, teknologi akan tetap menjadi alat, dan kita yang menjadi tuan! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved