Breaking News:

Jendela

Multiversme, Metaverse dan Sufi

Boleh jadi yang dimaksud adalah, multiverse merupakan lawan kata dari ‘universe’, satu alam..

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Belum lama ini, Marvel Studios menayangkan trailer film dengan judul “Doctor Strange in the Multiverse of Madness” yang akan dirilis tahun ini, 6 Mei 2022. Film ini merupakan kelanjutan dari “Doctor Strange" (2016) sebelumnya, mengisahkan tentang seorang dokter ahli bedah yang mengalami kecelakaan hingga nyaris putus asa untuk sembuh. Namun, melalui proses perjalanan yang rumit, dia akhirnya bertemu dengan seorang suhu, Ancient One, yang mengajarinya kekuatan mistik dan alam lain selain alam kasat mata ini. Menurut Wikipedia, film “Doctor Strange” yang pertama itu berhasil meraih pendapatan kotor 677,6 juta dolar Amerika!

Pemberian nama ‘Strange’ kepada tokoh utama film ini yang artinya aneh atau asing dan nama Ancient One, artinya ‘yang kuno’ kepada sang guru mistik, kiranya bukanlah kebetulan. Dalam masyarakat modern yang semakin mendewakan sains dan teknologi, sesuatu yang mistik dan metafisik atau gaib biasanya dianggap omong kosong. Karena itu, seorang ahli bedah yang sangat ilmiah seperti sang tokoh merasa aneh dengan berbagai pengalaman mistik yang ditemuinya saat berjumpa dan belajar dengan sang guru, si orang kuno, Ancient One. Dalam film ini digambarkan, perlahan tapi pasti Doctor Strange yang ilmiah itu akhirnya percaya pada kekuatan mistik, mempelajarinya hingga menguasai berbagai ‘jurus’ kekuatan gaib itu.

Pertanyaan yang menggoda adalah, mengapa film kisah mistik ini justru berhasil mendatangkan penonton yang sangat banyak? Jawabnya tentu beragam. Dari sudut pandang keagamaan dan keruhanian, barangkali fakta ini menunjukkan bahwa manusia tidak pernah merasa betah dengan dunia inderawi belaka. Seperti diajarkan orang-orang bijaksana sepanjang masa, sebagai makhluk jasmani sekaligus ruhani, manusia tidak akan benar-benar menjadi manusia tanpa dimensi ruhaninya. Ketika dia mencoba menyangkal yang ruhani itu dan hanya mengakui yang dapat diindera saja alias empiris sebagai yang ada, maka kerinduan pada yang gaib itu akan muncul dalam bentuk lain, salah satunya adalah dalam imajinasi film yang kemudian menjadi laku keras itu.

Kita tentu ingat beberapa film laris sebelumnya, yang juga berbau mistik seperti film “Harry Potter” dan “TheLord of the Rings”. Kecanggihan teknik pembuatan berbagai film ini, yang dapat menampilkan seolah yang mistik itu benar-benar nyata, membuat para penonton terpana dan terpuaskan. Kerinduan pada yang gaib, mistik dan metafisik, seperti terobati. Begitu pula, sikap manusia modern yang selalu mendambakan apa saja yang baru, justru diputarbalik oleh film-film ini dengan cara menampilkan yang kuno sebagai sesuatu yang hebat dan dahsyat. Jika di dunia nyata orang modern sibuk membuat senjata nuklir atau pesawat tempur super canggih, di dalam film-film ini, orang hanya menggunakan mantra, tongkat atau cincin tetapi menghasilkan kekuatan yang tangguh.

Penggunaan kata ‘multiverse’ yang dapat diartikan ‘banyak alam’ dalam film Doctor Strange yang akan tayang itu, juga menarik untuk dianalisis. Boleh jadi yang dimaksud adalah, multiverse merupakan lawan kata dari ‘universe’, satu alam. Ada banyak alam di semesta yang tak kita ketahui, dan film ini mengimajinasikan alam-alam itu. Ruang dan waktu menjadi terbalik-balik dan meleleh. Imajinasi ini tampaknya suatu ‘langkah maju’ dari film-film science fiction terdahulu yang bercerita tentang planet-planet lain dan galaksi-galaksi lain di semesta, yang keberadaannya secara ilmiah masih mungkin dibuktikan. Adapun multiverse, tampaknya sudah melampai semesta fisik, karena ia sudah membayangkan semesta lain yang bersifat mistik. Ini perkiraan saya.

Entah ada hubungannya atau tidak, perusahaan media sosial Mark Zuckerberg sekarang mengembangkan apa yang disebut ‘metaverse’. Dalam filsafat, ada istilah ‘metafisika’, yang sederhananya dapat diterjemahkan menjadi ‘yang melampaui fisik’ atau dalam bahasa Arab disebut ‘mâ warâ’a al-thabî’ah’, sesuatu yang di belakang alam fisik. Sudah maklum bahwa filsafat modern menghindar atau bahkan menolak metafisika. Metafisika dianggap omong kosong orang pintar yang tak berguna. Namun, sekarang, dengan adanya internet dan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat membantu menampilkan kenyataan secara virtual, kita hadir dalam citra-citra gambar, video dan suara melalui media elektronik. Inilah metaverse itu.

Sebagaimana multiverse, metaverse tampaknya juga menunjukkan bahwa manusia modern yang ingin mengelak dan menolak yang gaib dan ruhani, tetap juga mencari penggantinya. Padahal, metaverse tetaplah bagian dari universe yang dapat diindera. Di sisi lain, mimpi-mimpi yang kita alami, atau pikiran, perasaan dan imajinasi yang beredar dalam diri kita, yang semuanya gaib, tak tertangkap indera kita, tetaplah ada dan selalu ada. Metaverse dan dunia virtual yang kita ciptakan, alih-alih menolak yang gaib dan tak kasat mata, justru dapat menjadi jalan yang memudahkan kita untuk memahami keberadaan yang gaib itu sendiri. Singkat kata, apa yang kita ciptakan sesungguhnya adalah cermin dari apa yang ada, baik lahir atau batin, jasmani atau ruhani.

Alhasil, boleh jadi, gairah besar para ilmuwan dan sineas modern menciptakan metaverse dan mengimajinasikan multiverse mirip dengan apa yang dikatakan oleh Sufi Nusantara, Hamzah Fansuri, bahwa ia mencari Tuhan berpayah-payah di Baitul Ka’bah, tetapi akhirnya bertemu di dalam rumah. Hanya saja, apakah manusia modern menemukan Tuhan di rumahnya, di dalam hatinya? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved