Jendela

Belajar Menemukan Hati

Kita harus mengerti, mengapa berbuat baik dan menghindari kejahatan itu penting bagi kebahagiaan kita.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - MERASA Pintar, Bodoh Saja Tak Punya adalah judul buku laris karya Rusdi Mathari, yang pada Maret 2021 lalu mengalami cetak ulang ke-14. Tampaknya judul buku inilah yang membuat orang penasaran. Secara logika, lawan dari pintar adalah bodoh. Jika pintar itu cahaya dan bodoh itu gelap, maka keduanya tak bisa identik. Namun jika cahaya dan gelap sama-sama tidak ada, buat apa kita berbicara tentang keduanya? Terlepas dari soal ontologis ini, judul tersebut menantang manusia yang suka membanggakan diri dengan kepintarannya. Dia sombong, angkuh dan merendahkan orang lain. Padahal, justru kesombongannya itulah bukti kebodohan yang sesungguhnya.

Sebenarnya, ilmu dan kesombongan tidak bisa berjalan seiring. Siapapun yang mempelajari satu atau lebih bidang ilmu akan menyadari bahwa semakin banyak yang sudah diketahuinya, jauh lebih banyak lagi yang belum diketahuinya. Karena itu, seorang ilmuwan sejati haruslah rendah hati, tidak angkuh dan sombong. Orang yang berilmu, dilihat dari sudut keilmuan, tentu lebih mulia dari yang tidak berilmu. Namun, orang yang berilmu memiliki tanggungjawab memanfaatkan ilmu itu untuk kemaslahatan hidup seluruh makhluk. Jika ilmu itu hanya sekadar ilmu yang sia-sia tak berguna atau malah menimbulkan malapetaka dan bencana, maka sang ilmuwan akan terkutuk.

Bahwa ilmu harus bermanfaat, mendatangkan kebaikan bagi kehidupan, merupakan suatu ajaran yang seringkali kita dengar tetapi tampaknya mulai kita lupakan dan abaikan. Kita telah membangun banyak sekali lembaga pendidikan untuk mentransmisi, menyebarkan dan memproduksi ilmu. Namun, kadangkala ilmu di sini kita artikan sekadar kemampuan menjawab soal-soal ujian. Lebih buruk lagi, ilmu kita samakan dengan selembar ijazah dan gelar yang mentereng. Anehnya lagi, orang tanpa malu membanggakan gelar-gelar akademik itu, meskipun dari segi keilmuan dia sesungguhnya tidak layak. Dia tidak sadar bahwa gelar memang bisa dibeli, tetapi ilmu tidak.

Dalam satu presentasi yang telah diunggah di YouTube berjudul “Traditional Approach to Learning”, William C. Chittick, Guru Besar kajian Islam di State University of New York, menyatakan bahwa dalam tradisi Konghucu klasik, tujuan dari belajar adalah “menemukan hati yang hilang.” Yang dimaksud dengan hati di sini adalah hati yang fisik sekaligus yang ruhani. Inti dari tujuan belajar adalah menemukan kemanusiaan kita kembali, yakni menemukan hakikat dan makna hidup. Dari mana aku berasal? Apa yang harus kulakukan di dunia ini? Ke mana aku setelah mati? Bagaimana alam semesta ini dilihat dalam hubungannya dengan diriku?

Tak syak lagi, kata Chittick, pandangan tradisional Cina mengenai fungsi ilmu yang diperoleh melalui proses belajar tersebut sejalan dengan pandangan Islam. Alqur’an menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu, dan menegaskan bahwa orang-orang yang berilmu lebih mulia dibanding yang tidak berilmu. Bahkan Rasulullah sendiri diperintahkan Allah untuk mengatakan, “rabbî zidnî ‘ilma” (wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmuku). Pepatah Arab menyebutkan, al-‘ilmu nûrun (ilmu itu cahaya), yakni laksana cahaya dalam memberi petunjuk. Hidup tanpa ilmu laksana berada dalam gelap. Ilmu akan menjadi petunjuk jika dia diamalkan, dimanfaatkan. Jika tidak, dia laksana pohon yang tak berbuah.

Pertanyaan yang menggoda kita adalah, mengapa segala cabang ilmu yang berkembang di dunia saat ini, mencakup ilmui-ilmu alam, sosial, humaniora hingga agama, tidak selalu efektif mendatangkan kemaslahatan bagi kehidupan? Sains dan teknologi memang memudahkan hidup kita, tetapi juga menghancurkan alam lingkungan kita, dan akhirnya membuahkan bencana. Orang-orang yang ahli ilmu alam, sosial, humaniora dan agama, justru banyak yang korupsi dan menipu rakyat. Mengapa ada jurang pemisah antara ilmu di satu sisi, dan penggunaan ilmu di sisi lain? Mengapa ilmu tidak membuat manusia lebih baik dan bijak?

Mungkin salah satu sebabnya adalah niat, motivasi atau tujuan yang kita tanamkan dalam hati ketika kita mempelajari suatu ilmu. Untuk apa aku belajar ini? Boleh jadi pertanyaan ini malah tidak pernah dibahas oleh siswa, guru atau dosen. Mungkin pula, kita mengatakan, kalian belajar agar menguasai ilmu. Hal ini dibuktikan dengan hasil ujian yang tinggi. Setelah itu kalian bisa bekerja. Dengan bekerja, berpenghasilan tinggi, kalian bahagia. Kita seolah lupa bahwa fungsi ilmu itu bukan sekadar kita bisa bekerja. Bekerja dan berpenghasilan tentu niscaya, tetapi tidak cukup. Kita harus pula paham untuk apa kita hidup, dari mana kita berasal dan kemana akan kembali. Kita harus mengerti, mengapa berbuat baik dan menghindari kejahatan itu penting bagi kebahagiaan kita.

Alhasil, kita perlu meninjau ulang niat menuntut ilmu. Tujuan mempelajari ilmu bukan sekadar ingin menguasai dan memilikinya melainkan merealisasikan manfaatnya dalam kehidupan. Ilmu harus menjadi kekuatan transformasi diri, yakni mengubah diri menjadi lebih bermoral dan berintegritas. Ilmu juga harus mengantarkan kita lebih dekat kepada Tuhan karena ilmu pada hakikatnya adalah mempelajari dan memahami tanda-tanda kehadiran-Nya dalam diri kita, alam semesta dan kitab suci. Inilah kiranya yang dimaksud mempelajari ilmu untuk menemukan hati yang hilang! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved