Berita Bisnis

Meski Sudah Era Digital, Transaksi Sistem Barter Masih Ditemui dan Berlaku di Kalsel

Masih berlakunya sistem barter ini sebagaimana disampaikan Mirza, pemilik Toko Mirza yang menjual aneka produk kerajinan dan herbal

Penulis: Salmah | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/salmah
Mirza memperlihatkan ramuan herbal yang sebagian didapatkan dengan sistem barter 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Di era modern serba digital ini ternyata tansaksi jual beli sistem barter atau menukar barang alias tanpa uang masih berlaku di sejumlah masyarakat Kalimantan Selatan.

Betul, sistem barter yang kita pikir sudah begitu lama ditinggalkan, masih diterapkan khususnya bagi masyarakat tradisional yang bermukim di pegunungan.

Masih berlakunya sistem barter ini sebagaimana disampaikan Mirza, pemilik Toko Mirza yang menjual aneka produk kerajinan dan herbal di Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Kota Martapura, Kabupaten Banjar.

Di tokonya, untuk produk herbal asli Kalimantan ia dapat pasokannya dari masyarakat Dayak Meratus kawasan Barabai, Hulu Sungai Tengah.

Baca juga: Booster Vaksin Covid-19 untuk Umum di Banjarmasin Dimulai

Baca juga: Sempat Ajukan Banding Pada Sidang Kode Etik Polda Kalsel, Bripka BT Tetap Dipecat

"Secara berkala datang pemasok yang sudah lama jadi langganan toko kami, dia orang Dayak yang membawa aneka hasil hutan berupa akar-akaran dan rempah," jelasnya.

Sebagaimana kebiasaan, maka pihak toko tidak membayar dengan uang untuk barang-barang tersebut, melainkan menukarnya dengan sembako.

"Sudah lazim antara kami, saat barang datang maka kami sudah paham dengan menyediakan beras, gula, tepung pokoknya jenis sembako," ujar Mirza.

Hal sama juga berlaku jika Mirza yang datang mengambil barang jualan ke perkampungan Dayak di Pegunungan Meratus kawasan HST tersebut, barter mereka lakukan.

"Nah, mereka mengumpulkan bahan ramuan berupa akar dan rempah itu dalam wadah-wadah terpisah. Selanjutnya kami mengemas dan melabeli sesuai dengan jenis ramuan," paparnya.

Baca juga: Pembeli Serbu Minyak Goreng di Pasar Murah Depan Dinas Koperasi UKM Perindag Tabalong

Pastinya, nilai kedua barang yang dibarter lebih pada kesepakatan.

Jadi keduanya sudah paham apa yang diberikan dan apa yang diterima.

"Sistem barter dengan sembako lebih dipilih mereka karena memang produk itu susah didapat di kampung mereka yang jauh dari warung, kios apalagi toko. Kami saja ke sana perlu waktu dua jam lebih untuk menempuh perjalanan hingga tiba di kampung mereka yang serba tradisional," tandas Mirza.

Di CBS Martapura, produk herbal khas Kalimantan ini memang terbilang laris sebab para wisatawan domestik dan internasional tahu khasiatnya yang tak hanya untuk mengobati berbagai penyakit juga untuk menjaga kesehatan dan stamina.

(banjarmasin post.co.id/salmah saurin)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved