Jendela
Diri yang Berlapis
Perjumpaan virtual dan pertemuan langsung secara sadar ataupun tidak menggiring kita untuk mengenali hakikat diri kita sebagai manusia
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - “ANDA ikut kuliah di kelas saya?” tanyaku pada seorang mahasiswa. Dia langsung mengangguk. Aku pun masuk kelas. Kupandangi wajah-wajah yang hadir. Aku mulai mengenali mereka satu per satu. Semester lalu, sebenarnya kami sudah bertemu tiap minggu, hingga 16 kali. Namun, Jumat lalu, saat bertatap muka, aku masih belum benar-benar mengenali mereka. Masalahnya, pada semester lalu, kami hanya bertemu secara virtual di dunia maya melalui aplikasi Zoom, tidak secara langsung.
Saya jadi teringat dengan pepatah Arab, laisa al-khabar ka al-‘iyâni, artinya kabar itu takkan sama dengan menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Komunikasi virtual memang tidak sama persis dengan kabar karena wataknya yang langsung. Namun, ia mirip dengan kabar dalam arti kehadirannya diantarai oleh yang lain, oleh media elektronik. Ketika kenyataan dihadirkan melalui perantara, sulit kiranya menghindari adanya pengurangan atau reduksi terhadap kenyataan itu. Melalui media elektronik, yang kita tangkap adalah citra dari kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Karena itu pula, orang mengatakan, melalui media, kenyataan itu hadir sekaligus absen.
Masalah ‘ada’ atau wujud dalam kajian filsafat disebut ontologi. Al-Ghazali pernah menguraikan masalah ini dalam karyanya, al-Maqshad al-Asna fi Syarh Asmâ’ Allâh al-Husnâ. Menurutnya, wujud dapat dibagi kepada tiga macam, yaitu wujud pada dirinya (fi al-a’yân), wujud dalam bahasa (fi al-lisân) dan wujud dalam pikiran (fi al-adzhân). Tiga wujud ini tidak sama, tidak identik, meskipun saling terhubung. Misalnya, ketika kita menyebut ‘buku’, maka tiga wujud tersebut terwakili, yakni benda buku itu sendiri, kata yang kita gunakan untuk menunjuk benda itu yakni ‘buku’ serta citra dan makna benda itu dalam pikiran kita. Wujud dalam pikiran itu juga disebut ilmu.
Dalam pembagian tiga wujud di atas tidak disebutkan wujud virtual seperti yang kita alami melalui komunikasi elektronik di era digital ini. Para ulama di abad pertengahan memang belum mengenal teknologi komunikasi canggih seperti zaman kita. Namun, ada konsepsi alam yang mirip, meskipun tentu tidak sama, dengan citra media ini. Para ulama itu menyebutnya ‘âlam al-mitsâl, alam citra-citra yang berada di antara alam jasmani dan alam ruhani. Alam citra-citra ini dapat kita rasakan saat tidur dan bermimpi. Alam citra-citra ini penuh dengan simbol yang harus ditafsirkan. Gadis yang bermimpi digigit ular, misalnya, konon adalah pertanda ada orang yang akan melamarnya.
Di antara para ulama, kaum Sufi termasuk golongan yang memercayai mimpi sebagai sumber informasi yang dapat dianggap sah. Seorang yang sebelum tidur berwudhu dan berdoa, kemudian di tengah malam bermimpi sesuatu, boleh jadi mimpinya itu benar. Apalagi jika dia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW, karena setan tidak bisa menyerupai sang Nabi. Inilah yang dalam sebuah hadis disebutkan, mimpi yang benar (al-ru’yah al-shâdiqah) adalah bagian dari kenabian. Di sisi lain, bagi al-Ghazali, kebenaran pengalaman ruhani seperti mimpi itu bersifat subjektif, yakni berlaku untuk orang yang bersangkutan saja, tidak untuk disampaikan ke publik.
Terlepas dari kemiripan dan perbedaan antara pengalaman mimpi dan komunikasi virtual, kita dapat melihat bahwa dalam diri kita sebagai manusia, ada berbagai lapisan yang mungkin selama ini kurang kita sadari. Kita memandang fisik seseorang, mendengar kata-katanya, lalu berusaha memahami apa yang dikatakannya. Dalam komunikasi itu, kita sesungguhnya tidak hanya menggunakan mata dan telinga kita, tetapi juga akal atau hati kita untuk memahami. Akal dan hati itu tidak terlihat, tetapi sangat penting. Orang bisa melihat otak, tetapi tidak bisa melihat pikiran dan perasaan. Padahal, tanpa perasaan dan pikiran, pantaskah kita disebut manusia?
Para pemikir sepanjang sejarah berbeda pendapat tentang hakikat diri manusia. Ada yang melihat manusia tak lebih dari seonggok daging dan tulang, makhluk yang tak beda dengan hewan kecuali bahwa dia lebih cerdas. Inilah pandangan kaum materialis. Ada lagi yang memandang manusia adalah satu kesatuan antara jasmani dan ruhani. Kematian memang memisahkan ruh dari tubuh, tetapi kelak ia akan bergabung dengan tubuh baru sesuai amalnya. Yang lain lagi berpendapat, ruh dan tubuh memang berbeda. Tubuh adalah kendaraan bagi ruh selama hidup di dunia ini. Yang lebih keras lagi menilai, tubuh adalah penjara bagi ruh. Ruh baru bebas setelah kematian terjadi.
Kaum beriman tentu mengikuti pandangan bahwa manusia terdiri dari ruh dan tubuh, jasmani dan ruhani. Ruh dan tubuh dihubungkan oleh jiwa atau nafs, yakni jiwa hewani dan nabati. Jiwa inilah yang mengalami kematian, sedangkan ruh tidak. Ruh itu nyata sekaligus misteri. Nyata karena ketika kita berkata ‘aku’, ‘tubuhku’, ‘pikiranku’ dan seterusnya, kita merujuk kepada diri yang tak terlihat itu. Namun, ruh juga misteri karena kita tak melihat wujudnya dengan indera. Ruh bukan benda atau materi yang dapat dilihat mata. Karena tak terlihat mata inilah sebagian orang yang merasa ‘pintar’ menganggap ruh dan jiwa itu tidak ada. Kata mereka, yang ada hanya otak!
Alhasil, perjumpaan virtual dan pertemuan langsung yang kita rasakan di masa pandemi ini, secara sadar ataupun tidak menggiring kita untuk mengenali hakikat diri kita sebagai manusia yang berlapis-lapis. Dalam pengalaman ini, kita pun membuktikan kebenaran pernyataan Sophokles, dramawan Yunani abad ke-5 SM: “Dunia ini penuh dengan keajaiban, tetapi tidak ada keajaiban yang melebihi manusia.” Bagi seorang Muslim, dia tentu ingat pada sabda Nabi, “Siapa yang mengenali dirinya, dia mengenali Tuhannya.” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrah4man-rektor-universitas-islam-negeri-uin-antasari.jpg)