Opini Publik
Kurikulum Merdeka, Yakinkah Benar-benar Merdeka?
Siswa tidak lagi menjadi kerbau yang dicocok hidungnya, dipaksa menjejalkan berbagai macam ilmu tapi tidak memahami manfaat dan tujuannya.
Oleh: Rita Miftakhul Jannah (Guru SMPN 19 Banjarmasin)
BANJARMASINPOST.CO.ID - KURIKULUM terbaru yang akan diberlakukan dalam dunia pendidikan adalah Kurikulum Merdeka. Waduh kok ganti lagi? Padahal Kurikulum Prototipe saja masih banyak yang belum memahami, terbengong-bengong, dan pusing tujuh keliling. Usut punya usut, ternyata Kurikulum Merdeka hanyalah perubahan nama dari Kurikulum Prototipe.
Kejutan ganti nama langsung datang dari Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Meskipun nama Kurikulum Prototipe berubah menjadi Kurikulum Merdeka, namun komposisi dan ramuan di dalamnya tidak jauh berbeda.
Merdeka Mengajar
Nadiem menyebutkan bahwa dalam penerapannya, Kurikulum Merdeka didukung dengan Platform Merdeka Mengajar dengan menyediakan lebih dari 2.000 referensi bagi guru untuk mengembangkan praktik mengajar, sehingga guru merasa memiliki, sebab berasal dari guru, dan untuk guru.
Karena fungsinya membantu guru untuk mengajar, belajar, dan berkarya, maka Platform Merdeka Mengajar selain diharapkan dapat menjadi teman penggerak untuk guru dalam mewujudkan Pelajar Pancasila, juga membantu guru melakukan analisis diagnostik literasi dan numerasi dengan cepat, sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik.
Sebagai kurikulum teranyar dan terfresh di era kementerian pendidikan baru, Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menjadi kurikulum yang dapat menjembatani kondisi pembelajaran yang mengalami learning loss. Sehingga kedepannya dapat menjadi sarana perbaikan (recovery) dari kesenjangan pendidikan (learning loss) akibat pembelajaran online saat krisis pandemi Covid-19.
Sedangkan bagi satuan pendidikan dan pendidik yang kesulitan untuk mengakses internet, Kurikulum Merdeka telah siap dengan panduan implementasi dan modul-modul pelatihan yang disediakan dalam flash disk.
Platform Merdeka Mengajar juga mendorong guru untuk terus berkarya dan menyediakan wadah berbagi, seperti membangun portofolio hasil karyanya agar dapat saling berbagi inspirasi dan berkolaborasi melalui Bukti Karya Saya.
Adanya kesempatan memperoleh materi pelatihan berkualitas dengan mengaksesnya secara mandiri, memacu guru untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya kapan pun dan di mana pun, tak terbatas waktu.
Bebas Memilih Kurikulum
Nadiem menyebut tidak ada pemaksaan pada satuan pendidikan ataupun guru untuk memakai kurikulum terbaru ini, sehingga hanya akan diterapkan pada sekolah penggerak. Bagi sekolah yang belum siap menerapkan, dapat memilih alternatif kurikulum yang lain, yakni Kurikulum 2013 dam Kurikulum Darurat. Namun tetap harus ada upaya perubahan bagi sekolah bukan penggerak yang berkeinginan menerapkannya.
Kedemokratisan Nadiem dibanding menteri-menteri pendidikan sebelumnya patut diapresiatif. Dengan tidak memaksakan kehendaknya tentang kurikulum, itulah yang menjadi alasan kenapa kurikulum prorotipe besutannya, yang kini disebut kurikulum merdeka tidak memaksakan seluruh sekolah dan pendidik di Indonesia menerapkannya, namun hanya terfokus pada sekolah-sekolah penggerak yang telah mendapatkan pemaham penuh tentang kurikulum ini.
Merdeka Belajar sebagai implementasi Kurikulum Merdeka menjadi pilihan cara Kemendikbud-ristek demi menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan.
Empat upaya perbaikan yang hendak diwujudkan Kurikulum Merdeka, di antaranya adalah perbaikan infrastruktur dan teknologi, kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan, perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya, kurikulum, pedagogi, dan asesmen.
Wujud perbaikan di atas telah terwujud dengan menghadirkan empat pokok kebijakan agar paradigma tentang cara lama dalam belajar dan mengajar dapat diubah menuju kemajuan. Kemudian penghapusan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional. Ditambah adanya kebijakan penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) serta kebijakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang lebih fleksibel.
Hasil Masih Dipertanyakan
Kurikulum Merdeka banyak menawarkan kemerdekaan yang tentunya menjanjikan hal positif bagi kondisi pendidikan di Indonesia. Merupakan hal baik bagi siswa maupun guru. Meskipun hasilnya masih dipertanyakan karena baru saja diterapkan, terlebih lagi belum ada bukti nyata yang dapat menunjukkan hasil bahwa memang kurikulum ini lebih memberi kemajuan berarti bagi siswa selama beberapa generasi, sebab tergolong masih baru.
Memang hasil penerapan pendidikan di Indonesia belum sebagus di negara lain, sebagaimana kita ketahui bersama, Finlandia adalah negara paling unggul dalam tingkat pendidikannya. Mungkin itulah yang membuat banyak Menteri Pendidikan di negara kita saling berpacu dan berlomba membuat satu ramuan ampuh yang disebut kurikulum demi mengejar ketertinggalan yang terjadi.
Ibarat orang jualan jamu, pasti semua mengklaim jamunya yang paling mujarab, namun semua perlu bukti. Dari sekian banyak kurikulum yang diterapkan di Indonesia tampaknya belum ada yang menunjukkan hasil positif seratus persen, sebab terus dipikirkan kriteria kurikulum pendongkrak pendidikan di menteri yang terbaru berikutnya. Mungkin jika pendidikan sudah mampu mengejar Finlandia barulah negara ini akan berhenti berganti kurikulum.
Namanya kurikulum, metode, cara, pastilah akan ada sisi positif, negatif, kelebihan dan kekurangan masing masing. Sebab setiap Menteri akan selalu mempromosikan kurikulumnya sebagai yang terbaik, yang kemudian akan dibantah oleh menteri selanjutnya, sebab menteri terbaru akan terus mengamati kelemahan kurikulum terdahulu.
Pencetus ide kurikulum baru adalah chef, sedangkan siswa adalah konsumen penikmatnya, sementara guru sebagai asisten chef pelaksana metode memasak. Sebetulnya yang dikejar adalah hasil, yang tentunya diharapkan akan membawa hal positif dan lebih. Anggaplah yang dikejar adalah sapi panggang, diharapkan asisten chef tidak kebingungan dengan metode dan cara tiap chef yang tentunya berbeda satu sama lain, sebab intinya adalah menu sapi panggang yang membuat konsumen suka.
Demikian juga dalam melihat Kurikulum Merdeka yang dibesut Nadiem, menteri yang satu ini tidak memaksakan kurikulumnya, bagaikan chef yang memberi kebebasan pada anak buahnya memakai metode memasak yang dirasakan paling efektif.
Dalam Kurikulum Merdeka, guru sebagai asisten chef memiliki kemerdekaan dalam menerapkan metode pembuatan menu. Boleh saja si asisten memakai metode chef lama, ataupun langsung menerapkan metode chef baru, bahkan asisten juga diberi kebebasan untuk memadukan dua metode chef yang berbeda. Sebab siapa tahu, dia memiliki metode tersendiri yang lebih istimewa dan berhasil guna, tapi akibat posisinya yang hanya berperan sebagai asisten chef, maka mau tak mau idenya kurang terangkat ke permukaan, hingga kemudian tenggelam.
Terpusat pada Anak
Merdeka Belajar sebagai esensi dari Kurikulum Merdeka menjadi konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Tolok ukur dalam menilai siswa dengan minat berbeda sudah pasti tidak sama, sehingga siswa tidak bisa dipaksakan mempelajari suatu hal yang tidak disukai.
Kurikulum Merdeka pada dasarnya adalah terpusat pada anak, lebih memanusiakan anak, sebab mereka pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan keinginan belajar. Terkadang cap malas belajar sering disematkan pada anak-anak yang tidak bisa dalam pelajaran tertentu, padahal sebetulnya mereka bukan pemalas ataupun tidak bisa, melainkan tidak suka.
Kurikulum Merdeka terfokus pada siswa, memanusiakan siswa, yang tentu saja mengingatkan kita pada ajaran Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayami. Guru jangan hanya banyak omong, tapi berilah contoh, semangat, dan hasil yang mumpuni. Guru yang mengayomi dan melindungi siswa sepenuh hati akan melahirkan siswa-siswa yang berhati tulus, serta menghargai kehidupan di sekitarnya, menghormati rasa-rasa kemanusiaan, menjauhkan adanya kekerasan, sehingga terjalin keharmonisan dalam pendidikan kemarin, hari ini, dan nanti.
Siswa tidak lagi menjadi kerbau yang dicocok hidungnya, dipaksa menjejalkan berbagai macam ilmu tapi tidak memahami manfaat dan tujuannya. Ibarat menyuapi anak, sedikit demi sedikit namun berhasil guna, bukan menjejalkan makanan sampai muntah, tapi anak tak mengerti manfaat dan tujuan makan. (*)